Usus Buntu: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dll

By | July 2, 2019


DokterSehat.Com – Waspadalah bila mengalami sakit perut di kanan bawah! Bisa jadi itu adalah ciri-ciri usus buntu. Jangan remehkan penyakit usus buntu karena tidak sedikit kasus yang berujung pada kematian. Yuk, simak informasi lengkap tentang usus buntu!

Penjelasan ini akan memaparkan tentang apa itu usus buntu, penyebab, gejala, diagnosis, komplikasi, cara mengobati usus buntu, hingga cara mencegah usus buntu. Informasi ini patut disimak, sehingga Anda bisa memahami dan mengambil keputusan pengobatan yang tepat.

Apa itu usus buntu?

Usus buntu adalah penyakit peradangan yang terjadi di usus buntu (appendiks). Masyarakat sering menyebut penyakit usus buntu dengan istilah usus buntu saja padahal usus buntu sendiri adalah organ.

Organ ini berbentuk seperti kantung kecil dan terhubung dengan usus besar. Para ahli sering menjuluki usus buntu sebagai organ misterius karena fungsinya masih belum diketahui secara pasti.

Ada juga pendapat yang mengatakan fungsi usus buntu sebagai wadah bagi bakteri baik di dalam sistem pencernaan. Meskipun masih ada silang pendapat para ahli terkait fungsi usus buntu, peradangan pada bagian tersebut bisa mengundang masalah.

Penyakit usus buntu juga disebut sebagai radang usus buntu atau apendisitis dan tidak bersifat menular. Usus buntu bisa menimpa berbagai kelompok usia tetapi paling sering terjadi pada orang dengan rentang usia 10-30 tahun. Kaum pria dan wanita memiliki peluang yang sama mengalami usus buntu.

Penyebab usus buntu

Penyebab terjadinya usus buntu memang belum jelas. Akan tetapi, Apendisitis sering kali disebabkan karena terjadi penyumbatan pada usus buntu. Sumbatan tersebut mengakibatkan bakteri menginfeksi usus buntu dan terjadi peradangan.

Berikut ini adalah beberapa penyebab usus buntu tersumbat:

1. Penumpukan feses yang keras

Penyumbatan usus buntu kerap kali dikarenakan penumpukan tinja yang mengeras.

Feses yang mengeras tersebut menjadi seperti batu yang disebut fecalith (batu feses). Batu feses tersebut dapat menghalangi lubang usus buntu dan mengakibatkan feses di dalam usus besar masuk ke usus buntu.

Feses yang masuk ke usus buntu itu mengandung banyak bakteri. Berbagai bakteri yang ada di dalam feses pun menginfeksi bagian tubuh mungil itu. Infeksi usus buntu inilah yang menyebabkan peradangan.

2. Benda asing

Adanya benda asing berukuran kecil yang masuk ke dalam tubuh dan tidak dicerna dengan baik dapat menyumbat apendiks. Sumbatan tersebut akhirnya juga mengakibatkan peradangan di dalam usus buntu.

Baca Juga: Penyebab Usus Buntu

3. Kanker atau tumor

Tumor jinak maupun ganas tentunya akan menjadi penghalang bagi usus buntu. Halangan karena kehadiran tumor di sekitar usus buntu pun mengakibatnya sumbatan dan peradangan.

4. Infeksi saluran pencernaan

Sering kali tubuh mengalami infeksi saluran pencernaan. Infeksi saluran pencernaan terebut bisa dikarenakan bakteri, virus, jamur, dan cacing penginfeksi. Mikroorganisme yang menginfeksi tersebut mengakibatkan jaringan di usus buntu meradang dan bengkak.

5. Pembengkakan kelenjar getah bening

Penyebab usus buntu juga bisa disebabkan karena kelenjar getah bening mengalami pembengkakan. Pembengkakan pada kelenjar penting ini mengakibatkan sumbatan pada usus buntu.

6. Penyakit radang usus

Usus buntu yang tersumbat dan meradang juga bisa dikarenakan penyakit radang usus atau Inflammatory Bowel Disease (IBD). Beberapa jenis penyakit radang usus yang sering terjadi seperti Kolitis Ulseratif dan Crohn’s Syndrome.

7. Trauma

Cedera atau trauma pada perut bagian bawah juga bisa menjadi penyebab usus buntu. Trauma tersebut memungkinkan terjadinya pembengkakan dan usus buntu tersumbat.

Faktor risiko usus buntu apendisitis

Berikut ini adalah beberapa faktor risiko terjadinya penyakit usus buntu:

  • Usia – Usus buntu sering dialami oleh orang yang berada pada rentangusia 10-30 tahun
  • Riwayat keluarga – Adanya anggota keluarga yang pernah mengalami radang usus buntu meningkatkan risiko apendisitis
  • Fibrosis kistik – Penderita fibrosis kistik memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami usus buntu

Makanan penyebab usus buntu

Banyak pihak yang mengatakan bahwa makanan pedas atau makanan berbiji bisa mengakibatkan usus buntu. Apakah benar makanan pedas dan berbiji merupakan makanan penyebab usus buntu?

Hal tersebut keliru karena hasil penelitian menunjukkan makanan pedas atau berbiji tidak menjadi penyebab usus buntu. Ada pun makanan penyebab usus buntu adalah makanan yang memicu konstipasi.

Akan tetapi, makanan tersebut bukan penyebab langsung usus buntu. Beberapa makanan penyebab konstipasi yang menjadi penyebab usus buntu tidak langsung seperti daging merah, produk olahan susu, makanan cepat saji, dan sebagainya.

Gejala usus buntu

Pada umumnya, usus buntu disertai dengan gejala yang belum tentu sama antara pasien. Gejala usus buntu yang terjadi bisa secara umum dan khusus pada anak kecil dan ibu hamil. Akan tetapi, ada juga pasien yang tidak mengalami ciri-ciri usus buntu.

1. Gejala usus buntu yang umum terjadi

Berikut ini adalah beberapa gejala yang umumnya terjadi pada anak di atas 2 tahun dan  orang dewasa yang tidak hamil:

  • Nyeri perut kanan bawah secara tiba-tiba
  • Nyeri perut di sekitar pusar
  • Nyeri perut bertambah bila batuk, berjalan, atau melakukan gerakan lain
  • Kram perut
  • Rasa mual dan muntah
  • Nafsu makan menurun
  • Perut kembung karena susah buang angin
  • Susah buang air besar (sembelit)
  • Demam ringan (37,4 °)

2. Gejala usus buntu pada anak-anak

Anak-anak di bawah usia 2 tahun yang mengalami apendisitis cenderung menunjukkan gejala yang lebih sederhana. Inilah beberapa gejala usus buntu pada anak-anak di bawah usia 2 tahun:

  • Mual
  • Muntah
  • Perut kembung (susah buang angin)
  • Perut terlihat lebih besar
  • Perut agak lembut
  • Sakit perut di bagian kanan bawah

3. Gejala usus buntu pada ibu hamil

Ibu hamil memang kerap kali mengalami beberapa ketidaknyamanan di bagian perut. Namun, tidak semua ketidaknyamanan tersebut dikarenakan faktor fisiologis tubuh saat hamil melainkan ciri-ciri usus buntu.

Beberapa ciri-ciri usus buntu pada ibu hamil meliputi:

  • Mual
  • Muntah
  • Kram perut
  • Perut kembung
  • Sembelit

Kapan penderita usus buntu harus ke dokter?

Apabila Anda memiliki salah satu gejala usus buntu yang telah disebutkan, maka segeralah mengunjungi klinik atau rumah sakit terdekat. Hal ini bertujuan agar dokter bisa segera melakukan pemeriksaan usus buntu guna menegakkan diagnosis usus buntu.

Sebaiknya Anda tidak menggunakan obat antasid, obat pencahar, atau obat analgesik. Alih-alih sebagai cara mengobati usus buntu, hal tersebut malah menyebabkan usus buntu pecah yang memicu komplikasi serius.

Baca Juga: Gejala Usus Buntu dan Tanda-Tanda Penyakit

Diagnosis penyakit usus buntu

Ada beberapa tindakan yang akan dilakukan jika dokter mencurigai Anda mengalami radang usus buntu. Tindakan-tindakan diagnosis biasanya akan dilakukan secara bertahap dan berurut.

Inilah beberapa tindakan yang mungkin dijalani pada diagnosis usus buntu:

1. Anamnesis

Anamnesis adalah tindakan diagnosis yang pertama kali dilakukan oleh tim medis. Pada tahap pertama ini, tim medis akan menggali informasi kesehatan Anda yang relevan terhadap penyakit usus buntu, seperti riwayat kesehatan, gejala usus buntu, dan lainnya.

2. Pemeriksaan fisik

Setelah anamesis dilakukan, dokter akan memeriksa Anda secara fisik. Pemeriksaan fisik ini bertujuan untuk memastikan gejala usus buntu yang dialami pasien dan juga untuk menilai rasa sakit.

Biasanya, dokter akan menekan-nekan perut Anda guna mencari bagian yang kaku. Hal ini dikarenakan bagian perut yang kaku tersebut merupakan respons terhadap tekanan radang usus buntu.

Pemeriksaan fisik juga dilakukan pada dubur. Dokter akan memasang sarung tangan dan melumasi jari-jemari lalu dimasukkan ke lubang dubur. Khusus pada wanita hamil, pemeriksaan fisik pada panggul perlu dilakukan untuk mendeteksi masalah ginekologis.

3. Tes laboratorium

Ada beberapa tes laboratorium yang mungkin perlu Anda jalani. Beberapa tes laboratorium tersebut, yakni tes darah dan tes urine.

Tes darah lengkap atau Complete Blood Count mencakup pemeriksaan sel darah merah, sel darah putih, keping darah, hemoglobin dan hematokrit. Pemeriksaan sel darah putih adalah bagian tes yang cukup penting karena bertujuan untuk mendeteksi infeksi.

Jumlah sel darah putih yang tinggi menandakan adanya infeksi di dalam tubuh. Tim medis akan mengambil sampel darah untuk diperiksa di laboratorium. Patuhilah beberapa persiapan yang perlu Anda lakukan agar hasilnya akurat.

Tes laboratorium yang perlu dijalani selain tes darah adalah tes urine. Tim medis akan meminta sampel urine guna diteliti lebih lanjut di laboratorium. Tim laboratorim dapat menganalisis urine Anda untuk mendeteksi sel darah merah, sel darah putih, dan bakteri di dalam urine.

Tujuan dilakukan tes urine juga bermanfaat untuk mendeteksi adanya infeksi saluran kemih atau batu ginjal. Pasalnya, infeksi saluran kemih atau masalah batu ginjal kerap kali menunjukkan gejala yang sama seperti usus buntu.

4. Tes kehamilan

Ibu hamil yang mengalami beberapa gejala usus buntu perlu menjalani tes kehamilan. Tes kehamilan yang dilakukan bertujuan untuk memastikan ada tidaknya kehamilan ektopik yang memiliki gejala yang sama seperti usus buntu.

Tes kehamilan ini bisa dilakukan sekaligus pada tes urine dan bisa menggunakan USG transvaginal. Selain itu, tes ini juga memiliki tujuan untuk mendeteksi penyakit radang panggul, kista ovarium, dan lainnya dengan ciri-ciri seperti usus buntu.

5. Rontgen

Apabila beberapa tindakan yang sebelumnya sudah dijalani belum menunjukkan kepastian untuk mengarah pada penyakit usus buntu, maka perlu dilakukan tes pencitraan tertua, yaitu rontgen.

Bagian tubuh yang biasanya akan diterapi dengan rontgen, yaitu perut dan dada. Rontgen pada bagian perut berguna untuk memastikan beberapa kemungkinan penyebab sakit perut selain usus buntu. Pun, pada rontgen dada. Rontgen dada bertujuan mendeteksi pneumonia yang memiliki gejala mirip usus buntu.

6. USG

USG tidak hanya perlu dilakukan pada ibu hamil. Ada beberapa kasus di mana pasien perlu melakukan pemeriksaan dengan USG meskipun tidak sedang hamil. Pemeriksaan dengan USG bertujuan untuk melihat kondisi usus buntu dan indung telur.

7. CT Scan

Diagnosis usus buntu yang memiliki kemungkinan untuk direkomendasikan dokter adalah CT scan. CT scan biasanya direkomendasikan apabila hasil diagnosis pada pemeriksaan sebelumnya masih belum jelas.

Tindakan ini juga dilakukan apabila dokter menduga usus buntu telah pecah. Ibu hamil tidak bisa menjalani pemeriksaan dengan CT scan karena menggunakan sinar radiasi yang bisa berdampak buruk pada janin.

8. MRI

Tes pencitraan yang juga masuk dalam daftar tindakan diagnosis usus buntu adalah MRI (Magnetic Resonance Imaging). Pasien yang perlu menjalani MRI perlu melakukan beberapa persiapan. Hasil gambar dengan MRI cukup jelas dan detail.

Anda perlu tahu bahwa diagnosis usus buntu tidak mudah dilakukan untuk mendapatkan hasil yang akurat. Pasalnya, ada banyak kasus medis yang memiliki gejala mirip seperti radang usus buntu (apendisitis).

Beberapa kasus dengan gejala mirip apendisitis, di antaranya adalah sindrom Crohn, kolitis ulseratif, gastritis, infeksi usus, infeksi saluran kemih, kehamilan ektopik, masalah ovarium, pneumonia, masalah pada kantung empedu, sembelit, dan sebagainya.

Komplikasi usus buntu

Peradangan yang terjadi pada usus buntu akan menyebabkan terbentuknya nanah yang penuh dengan bakteri. Apabila usus buntuk tidak segera ditangani setelah nampak gejalanya, maka dalam waktu 2-3 usus buntu bisa pecah.

Hal tersebut bisa menimbulkan beberapa komplikasi, seperti:

1. Abses

Pecahnya usus buntu akan membuat nanah dari dalam usus buntu bercampur dengan isi usus. Percampuran keduanya dapat membentuk abdses. Abses perlu diobati karena jika tidak akan memicu peritonitis.

2. Peritonitis

Kantung nanah di dalam usus buntu yang pecah akan terlempar ke dalam lapisan perut. Bakteri di dalam nanah akan menginfeksi lapisan rongga perut atau peritoneum. Infeksi tersebut disebut juga dengan istilah peritonitis.

Pasien yang mengalami peritonitis memerlukan perawatan segera. Pasalnya, peritonitis bisa mengakibatkan gerakan usus terhenti. Akibatnya, pasien akan mengalami demam dan syok. Beberapa gejala peritonitis seperti sakit perut hebat tanpa henti, demam, sesak napas, dan lainnya.

3. Kematian

Komplikasi apendisitis dapat berisiko fatal dan mengancam keselamatan jiwa pasien. Kasus usus buntu tidak sedikit telah menimbulkan korban jiwa. Oleh karena itu, penting bagi pasien yang telah terdiagnosis usus buntu untuk menjalani terapi pengobatan usus buntu.

Cara mengobati usus buntu

Ada beberapa kasus usus buntu yang tidak memerlukan pengobatan khusus karena sistem di dalam tubuh berhasil mengobati radang usus buntu. Akan tetapi, ini tidak sering terjadi. Oleh karena itu, penting untuk tetap melakukan pengobatan usus buntu.

Berikut ini adalah beberapa cara mengobati usus buntu:

1. Terapi obat usus buntu

Terapi obat yang dilakukan untuk menangani penyakit usus buntu biasanya dilakukan dokter dengan meresepkan antibiotik guna mengobati infeksi yang terjadi. Obat antibiotik yang diberikan bisa melalui oral maupun parenteral.

Tidak sedikit kasus usus buntu yang sembuh hanya dengan menggunakan antibiotik. Selain antibiotik, ada juga beberapa jenis obat yang diberikan pada pengobatan usus buntu. Obat tersebut biasanya bersifat simptomatik seperti obat untuk sakit perut.

2. Tindakan operasi usus buntu

Cara mengobati usus buntu yang dinilai cukup efektif adalah dengan operasi usus buntu. Akan tetapi, tindakan ini dilakukan apabila pengobatan sebelumnya tidak memberikan hasil yang baik.

Baca Juga: Cara Mengobati Usus Buntu dengan Operasi Usus Buntu

Operasi usus buntu yang umum dilakukan adalah dengan apendektomi laparoskopi dan apendektomi terbuka. Jenis operasi laparoskopi dilakukan dengan memasukkan alat laparoskop untuk mengangkat usus buntu.

Ada kalanya dokter memutuskan untuk melakukan apendektomi terbuka setelah apendektomi laparoskopi. Biasanya, apendektomi terbuka dilakukan jika usus buntu pasien sudah pecah.

Cara mencegah usus buntu

Tentunya Anda tidak ingin mengalami usus buntu bukan? Oleh karena itu, Anda perlu mengetahui beberapa cara mencegah usus buntu. Ya, mencegah memang lebih baik daripada mengobati.

Inilah beberapa cara mencegah usus buntu yang bisa diupayakan:

  • Menjaga kebersihan diri terutama pada saat makan
  • Mengonsumsi makanan kaya serat agar feses tidak keras dan buang air besar lancar
  • Teliti pada saat makan untuk mencegah benda asing yang masuk ke dalam pencernaan seperti batu pada nasi atau lainnya
  • Mengobati penyakit radang usus atau infeksi usus yang dialami sebelum usus buntu terjadi
  • Segera memeriksakan diri setiap kali merasakan ketidaknyamanan di bagian perut
  • Melakukan gerakan secara hati-hati untuk meminimalisir risiko trauma perut

Beberapa upaya pencegahan di atas memang belum tentu atau pasti mencegah Anda dari usus buntu. Akan tetapi, jika Anda melakukan cara tersebut setidaknya risiko terjadinya penyakit usus buntu bisa dikurangi.

 

 

Sumber:

  1. MayoClinic: Appendicitis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/appendicitis/symptoms-causes/syc-20369543 [diakses pada 2 Juli 2019]
  2. WebMD: Appendicitis. https://www.webmd.com/digestive-disorders/digestive-diseases-appendicitis#1 [diakses pada 2 Juli 2019]
  3. APSA: Acute (Early) Appendicitis. https://eapsa.org/parents/learn-about-a-condition/a-e/acute-(early)-appendicitis/ [diakses pada 2 Juli 2019]
  4. NHS: Appendicitis. https://www.nhs.uk/conditions/appendicitis/ [diakses pada 2 Juli 2019]
  5. StanfordChildrensHealth: Appendicitis. https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=appendicitis–85-P00358 [diakses pada 2 Juli 2019]
  6. Healthline: Everything You Need to Know About Appendicitis. https://www.healthline.com/health/appendicitis#treatment [diakses pada 2 Juli 2019]
  7. MedicalNewsToday: Everything you need to know about appendicitis. Christian Nordqvist. 2017. https://www.medicalnewstoday.com/articles/158806.php [diakses pada 2 Juli 2019]
  8. Healthline: Emergency Signs and Symptoms of Appendicitis
    Symptoms. https://www.healthline.com/health/digestive-health/appendicitis-emergency-symptoms [diakses pada 2 Juli 2019]
  9. NIH: Definition & Facts for Appendicitis. https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/appendicitis/definition-facts [diakses pada 2 Juli 2019]





Source link