Radang Vagina (Vaginitis): Penyebab, Gejala, Pengobatan, dll

By | August 12, 2019


DokterSehat.Com – Radang vagina atau vaginitis adalah peradangan pada vagina yang dapat menyebabkan keluarnya cairan, gatal, dan nyeri. Kondisi ini ini bisa memengaruhi vulva, yang merupakan bagian eksternal alat kelamin wanita. Pada umumnya, vaginitis adalah gangguan vagina yang sering terjadi pada wanita saat memasuki masa subur.

Penyebab Radang Vagina

Radang vagina biasanya terjadi karena adanya perubahan keseimbangan bakteri yang ada di dalam vagina. Berbagai jenis vaginitis antara lain:

  • Bakteri vaginosis. Dihasilkan dari perubahan bakteri normal yang ditemukan di vagina Anda menjadi pertumbuhan berlebih dari organisme lain.
  • Infeksi jamur. Biasanya disebabkan oleh jamur alami yang disebut Candida albicans.
  • Disebabkan oleh parasit dan umumnya ditularkan melalui hubungan seksual.

Pada kasus yang jarang terjadi, radang vagina bisa disebabkan oleh gonorrhea, chlamydia, mycoplasma, herpes, campylobacter, parasit dan kebersihan vagina yang buruk.

Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai vaginitis, di antaranya:

1. Vaginosis bakteri

Penyebab paling umum dari radang vagina atau vaginitis adalah dari perubahan bakteri normal yang ditemukan di vagina. Biasanya, bakteri yang ditemukan di vagina (lactobacilli) kalah jumlah dengan bakteri lain (anaerob). Jika bakteri anaerob menjadi terlalu banyak, hal tersebut bisa mengganggu keseimbangan bakteri, sehingga menyebabkan vaginosis bakteri.

Vaginitis jenis ini tampaknya terkait dengan hubungan seksual—terutama jika Anda memiliki banyak pasangan seks.

2. Infeksi ragi

Kondisi ini terjadi ketika ada pertumbuhan berlebih dari organisme jamur, biasanya C. albicans di vagina. C. albicans juga menyebabkan infeksi pada area lembap lainnya dari tubuh Anda, seperti di mulut, lipatan kulit dan kuku. Bahkan, jamur ini juga dapat menyebabkan ruam popok.

3. Trikomoniasis

Infeksi menular seksual yang umum ini disebabkan oleh parasit mikroskopis satu sel yang disebut Trichomonas vaginalis. Organisme ini menyebar selama hubungan seksual dengan seseorang yang memiliki infeksi.

Pada pria, organisme biasanya menginfeksi saluran kemih, tetapi sering kali tidak menimbulkan gejala. Pada wanita, parasit biasanya menginfeksi vagina dan meningkatkan risiko wanita terkena infeksi menular seksual.

4. Vaginitis tidak menular

Semprotan vagina, douche, sabun wangi, deterjen beraroma dan produk spermisida dapat menyebabkan reaksi alergi atau mengiritasi vulva dan jaringan vagina. Benda asing, seperti kertas tisu atau tampon yang tertinggal di dalam vagina dapat mengiritasi jaringan vagina.

5. Genitourinary syndrome of menopause (vaginal atrophy)

Sindrom ini menyebabkan berkurangnya kadar estrogen setelah menopause atau operasi pengangkatan indung telur, sehingga menyebabkan lapisan vagina menipis, menyebabkan iritasi, rasa terbakar dan kering.

Gejala Vaginitis

Pada dasarnya gejala vaginitis tergantung dari jenis yang Anda miliki, di antaranya:

1. Vaginosis bakteri

Pada beberapa kasus, radang vagina yang disebabkan vaginosis bakteri tidak memiliki gejala. Namun, gejala yang bisa dikenali adalah munculnya keputihan tipis berwarna putih atau abu-abu. Selain itu, muncul aroma seperti ikan bisa muncul terutama setelah berhubungan seks.

2. Infeksi ragi

Vagina akan menghasilkan cairan putih tebal yang bisa terlihat seperti keju cottage. Infeksi ragi biasanya menyebabkan vagina dan vulva menjadi gatal dan merah.

3. Trikomoniasis

Gejala radang vagina yang disebabkan oleh trikomoniasis adalah rasa nyeri pada vagina dan vulva, serta munculnya rasa terbakar saat buang air kecil. Gejala lain yang bisa dikenali adalah keluarnya cairan dari vagina yang berwarna abu-abu dan  memiliki bau tidak sedap.

Selain beberapa gejala seperti di atas, terdapat gejala vaginitis lainnya yang mungkin bisa terjadi, antara lain:

  • Hubungan seksual yang menyakitkan, dikenal sebagai dispareunia.
  • Pendarahan atau bercak vagina ringan.
  • Peradangan menyebabkan kemerahan dan pembengkakan pada labia majora, labia minora, dan area perineum, terutama akibat kelebihan sel kekebalan.

Pengobatan Radang Vagina

Pengobatan radang vagina tergantung pada penyebabnya. Beberapa pengobatan yang bisa dilakukan termasuk pemberian kortikosteroid topikal potensi rendah yang diterapkan pada kulit, antiobiotik topikal atau oral, antijamur atau krim antibakteri.

Pada kasus vaginosis bakteri, biasanya pengobatan dengan antibiotik seperti metronidazole (Flagyl), atau clindamycin. Sementara pilihan obat yang digunakan untuk mengobati infeksi jamur termasuk butoconazole dan clotrimazole.

Beberapa pengobatan lainnya yang bisa dicoba, antara lain:

  • Kortison krim untuk mengobati iritasi parah.
  • Antihistamin, jika peradangan tampaknya berasal dari reaksi alergi.
  • Krim estrogen topikal, jika vaginitis disebabkan oleh kadar estrogen yang rendah.
  • Perawatan untuk trikomoniasis biasanya adalah antibiotik dosis tunggal. Anda dan pasangan harus dirawat, untuk mencegah penularan infeksi kepada orang lain dan agar tidak tertular lagi.
  • Jika vaginitis Anda disebabkan oleh alergi atau kepekaan terhadap suatu produk, Anda perlu mencari tahu produk mana yang menyebabkan masalah. Setelah Anda mengetahuinya, Anda harus berhenti menggunakan produk tersebut.

Pencegahan Vaginitis

Kebersihan organ intim yang baik dapat mencegah beberapa jenis vaginitis berulang dan dapat meringankan gejala yang dialami. Berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah radang vagina, di antaranya:

  • Hindari berendam di air panas, terutama jika bak yang digunakan bisa menciptakan pusaran air.
  • Hindari sabun, pembalut, atau tampon yang memiliki aroma kuat. Jangan lupa keringankan area genital dengan baik untuk mencegah iritasi.
  • Guna mencegah penyebaran bakteri feses ke vagina, bersihkan dari depan ke belakang
  • Jangan terlalu sering menyentuh vagina selain dalam keadaan mandi. Membilas vagina dengan cairan khusus bisa meningkatkan infeksi vagina.
  • Gunakan kondom saat melakukan kontak seksual guna menghindari penyebaran infeksi.
  • Kenakan celana dalam berbahan katun. Jika Anda merasa nyaman, Anda bisa melepaskan pakaian dalam saat tidur. Bakteri dapat tumbuh subur di lingkungan yang lembap.

 

Sumber:

  1. https://medlineplus.gov/vaginitis.html
  2. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/vaginitis/symptoms-causes/syc-20354707
  3. https://www.medicalnewstoday.com/articles/175101.php
  4. https://www.webmd.com/women/guide/sexual-health-vaginal-infections#1





Source link