Prematur: Penyebab, Gejala, dan Pencegahan

By | June 28, 2019


DokterSehat.Com – Kelahiran yang terjadi sebelum minggu ke 37 atau lebih awal adalah kelahiran prematur. Semakin kecil usia kehamilan saat melahirkan, hal itu membuat bayi rentan mengalami komplikasi. Hal ini disebabkan karena bayi prematur tidak memiliki cukup waktu berkembang secara optimal untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan di luar rahim.

Penyebab Kelahiran Prematur

Penyebab bayi lahir prematur yang sering terjadi karena pecahnya ketuban lebih awal atau kontraksi rahim yang menyebabkan terbukanya leher rahim (serviks), sehingga membuat janin memasuki jalan lahir.

Berikut ini adalah beberapa faktor (medis dan non medis) yang bisa memicu terjadinya kelahiran prematur, di antaranya:

1. Faktor kesehatan ibu hamil

  • Preeklamsia.
  • Stres berkepanjangan.
  • Kelainan bentuk rahim.
  • Pernah melahirkan prematur sebelumnya.
  • Kebiasaan merokok sebelum dan selama masa kehamilan.
  • Ketidakmampuan serviks menutup selama masa kehamilan.
  • Berat badan ibu hamil tidak ideal (terlalu kurus atau gemuk)
  • Jarak antar kehamilan terlalu dekat (hanya 6-9 bulan antara kelahiran satu bayi dengan yang berikutnya)
  • Penyakit yang bersifat kronis, seperti penyakit ginjal atau jantung.
  • Penyakit infeksi, seperti infeksi saluran kemih, infeksi cairan ketuban, dan infeksi vagina.

Selain itu, infeksi yang terjadi pada bagian tubuh lain juga dapat memicu kelahiran prematur seperti infeksi ginjal, radang usus buntu dan pneumonia.

Bayi prematur juga bisa terjadi jika Anda memiliki kondisi medis seperti gangguan tiroid, anemia dan lupus sebelum kehamilan.

2. Faktor kehamilan

  • Menurunnya fungsi ari-ari.
  • Ari-ari lepas sebelum waktunya.
  • Cairan ketuban terlalu banyak.
  • Ketuban pecah lebih awal.
  • Kelainan posisi ari-ari.

Selain beberapa faktor di atas, wanita yang hamil di bawah usia 16 tahun dan yang hamil di atas usia 35 memiliki risiko 2-4% lebih tinggi untuk melahirkan prematur ketimbang yang hamil di rentang usia 20-30 an.

3. Faktor janin

  • Anda mengalami kehamilan kembar.
  • Adanya kelainan darah pada janin.

Gejala Kelahiran Prematur

Seperti halnya gejala kelahiran normal, kelahiran prematur memiliki gejala yang hampir sama. Oleh karena itu, untuk memastikan apakah gejala tersebut membahayakan ibu hamil atau tidak, sebaiknya konsultasi dengan dokter kandungan.

Berikut adalah beberapa gejala kelahiran prematur yang umum terjadi, di antaranya:

  • Perut terasa kram.
  • Perdarahan vagina.
  • Kontraksi setiap 10 menit atau lebih dari empat kali dalam sejam.
  • Keluar cairan dan lendir dari vagina yang semakin banyak.
  • Tekanan di bagian panggul dan vagina.
  • Kram di perut bagian bawah.
  • Punggung bawah terasa sakit.
  • Mual, muntah, hingga diare.

Diagnosis Kelahiran Prematur

Setelah melihat gejala-gejala bayi prematur, dokter akan memeriksa riwayat kesehatan ibu hamil, sekaligus memeriksa kondisi fisik ibu dan janin. Selain itu, dokter juga akan melakukan tindakan pemeriksaan dalam vagina untuk memeriksa kondisi serviks, apakah sudah mengalami pembukaan.

Setelah itu, dokter akan mengukur frekuensi, durasi, dan kekuatan kontraksi dengan menggunakan alat CTG (cardiotocography). Dengan alat ini juga dokter akan memantau denyut jantung janin.

Pemeriksaan lanjutan yang disarankan dokter, antara lain:

  • Tes usap vagina (vaginal swab), untuk mendeteksi keberadaan bakteri penyebab infeksi, bila dicurigai terdapat infeksi.
  • Pemeriksaan lendir serviks, untuk memeriksa protein yang dinamakan fetal fibronectin, yaitu protein yang dilepaskan ketika terjadi infeksi atau gangguan pada jaringan rahim.

Penanganan Kelahiran Prematur

Pada dasarnya, penanganan kondisi prematur adalah sesuai dengan kehamilan dan kesehatan secara keseluruhan. Biasanya pasien dianjurkan untuk menjalani rawat inap di rumah sakit agar dapat memantau kondisi ibu hamil dan janin.

Berikut adalah beberapa penanganan awal terhadap kelahiran prematur, di antaranya:

1. Pemberian obat

  • Guna mempercepat perkembangan organ paru-paru janin, biasanya akan diberikan kortikosteroid.
  • Obat yang bisa digunakan untuk menghentikan atau mengurangi kontraksi seperti isoxsuprine dan terbutalin.
  • Guna mengurangi risiko gangguan otak biasanya menggunakan magnesium sulfat.
  • Jika kelahiran prematur disebabkan oleh infeksi atau berisiko infeksi, antiobiotik bisa digunakan.
  • Agar fungsi paru-paru lebih sempurna, cairan surfaktan akan disemprotkan pada paru-paru.
  • Guna memperkuat pernapasan dan detak jantung bayi biasanya akan diberikan obat fine-mist (aerosol) atau IV (intravena).

2. Operasi

  • Pengikatan leher rahim. Sebuah prosedur yang dilakukan dengan menjahit bagian pembukaan serviks. Prosedur kelahiran prematur ini dilakukan pada ibu hamil dengan kondisi serviks lemah dan berisiko terbuka selama kehamilan.
  • Tindakan caesar. Apabila kelahiran prematur tidak dapat ditunda dengan penanganan awal, atau jika janin serta ibu dalam kondisi bahaya, maka persalinan harus segera dilakukan. Selain melahirkan normal, dokter kandungan juga dapat menyarankan untuk melahirkan secara caesar, tergantung dari kondisi kehamilan.

3. Tindakan medis lainnya

  • Memberikan cairan infus pada bayi.
  • Memberikan transfusi darah bila diperlukan.
  • Memberikan terapi sinar, bila bayi Anda mengalami kuning (jaudince).
  • Memasang selang makan melalui infus vena atau melalui hidung ke lambung.

Pencegahan Kelahiran Prematur

Langkah utama yang harus diperhatikan untuk mencegah kelahiran prematur adalah kondisi kesehatan sebelum dan selama kehamilan. Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah bayi prematur, antara lain:

  • Menghindari paparan bahan kimia dan zat berbahaya seperti asap rokok, narkoba, dan alkohol.
  • Jarak kehamilan. Kehamilan yang hanya berjarak kurang dari 6 bulan dari persalinan terakhir, berisiko meningkatkan kelahiran prematur.
  • Diet sehat sebelum hamil. Konsumsi makanan yang kaya protein, biji-bijian dan buah sebelum hamil, dapat mengurangi risiko kelahiran prematur. Selain itu, mengonsumsi suplemen kalsium 1000 mg atau lebih per hari, bisa mengurangi risiko kelahiran prematur dan preeklamsia.
  • Menggunakan pesarium (cervical pessary). Ibu hamil dengan ukuran serviks yang pendek disarankan memakai pesarium untuk menyangga rahim agar tidak turun. Bentuk alat ini menyerupai cincin yang dipasang di mulut rahim.

Pada akhirnya, menjalani pemeriksaan prenatal sesuai jadwal adalah sesuatu yang wajib dilakukan, agar dokter bisa memantau perkembangan janin sekaligus mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi selama kehamilan.





Source link