Peralatan Memasak dari Plastik Bisa Picu Kanker?

By | November 9, 2019


Photo Source: Flickr/Marco Verch

DokterSehat.Com– Ada banyak sekali jenis bahan peralatan memasak yang bisa kita gunakan. Salah satunya adalah bahan plastik seperti centong dan spatula. Selain itu, beberapa wadah dari bahan-bahan makanan biasanya juga terbuat dari bahan ini. Sebenarnya, apakah benar jika peralatan memasak berbahan plastik ini bisa memicu kanker jika terlalu sering digunakan?

Dampak Penggunaan Peralatan Memasak dari Bahan Plastik

Pakar kesehatan menyebut bahan kimia yang bisa ditemukan di peralatan memasak berbahan plastik ternyata berpotensi larut pada makanan yang sedang diolah. Sebagai contoh, telah ada penelitian yang menemukan bahwa di dalam spatula dan centong plastik terdapat kandungan oligomer yang bisa larut dan tercampur pada makanan saat dipanaskan hingga suhunya melebihi 70 derajat Celcius.

Jika sampai paparan oligomer ini berlangsung dalam jangka panjang, dikhawatirkan akan meningkatkan risiko terkena penyakit hati, gangguan tiroid, gangguan kesuburan, hingga menyebabkan kanker dan kolesterol tinggi yang berbahaya.

Fakta ini terungkap dari penelitian yang dilakukan oleh badan pengawas keamanan Pangan dari Jerman, German Federal Institute for Risk Assesment (Bfr). Penelitian ini dilakukan dengan mengecek makanan-makanan yang diolah dengan menggunakan peralatan memasak dari bahan yang berbeda-beda. Hasilnya adalah, tikus-tikus yang mengonsumsi makanan yang diolah dengan peralatan plastik cenderung mengalami masalah tumor di pankreas, hati, dan testisnya. Tikus-tikus ini juga mengalami gangguan kesuburan.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dampak dari penggunaan bahan memasak dari plastik yang jumlahnya semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Masalahnya adalah selain plastik, terdapat bahan kimia sintetis lainnya yang bisa ditemukan dalam peralatan-peralatan memasak tersebut. Memang, hal ini akan membuat peralatan ini menjadi lebih awet dan tahan lama, namun bahan ini ternyata tidak aman jika dipanaskan baik itu di dalam suhu yang mendidih atau dipanaskan di dalam minyak.

Memang, penelitian ini belum dilakukan pada manusia, namun pakar kesehatan menyebut ada kemungkinan dampak kesehatan yang akan didapatkan akan sama saja jika dibandingkan dengan yang dialami oleh para tikus percobaan.

Memilih Peralatan Memasak yang Aman

Pakar kesehatan menyebut ada beberapa jenis bahan peralatan masak yang bisa kita pilih. Berikut adalah beberapa tips yang bisa kita jadikan pedoman untuk memilihnya.

  1. Peralatan Memasak Anti Lengket atau dengan Tambahan Non Stick Coating

Peralatan memasak anti lengket memang bisa membuat kita lebih mudah memasak. Masalahnya adalah pelapis dari peralatan memasak ini bisa saja mengeluarkan bahan kimia beracun jika dipanaskan hingga 350 derajat Celcius. Bisa jadi bahan-bahan kimia ini bisa menyebabkan peningkatan risiko terkena beberapa jenis kanker.

Pastikan untuk lebih cermat dalam memilih peralatan yang juga dikenal sebagai Teflon ini. Ada produk yang sudah memastikan bahwa bahan yang digunakan aman untuk digunakan.

  1. Peralatan Memasak dari Bahan Stainless Steel

Peralatan memasak ini cenderung aman untuk digunakan asalkan tidak tergores. Karena alasan inilah sebaiknya kita lebih cermat dalam menggunakan atau mencucinya.

  1. Peralatan Memasak dari Aluminium Murni

Jika peralatan memasak terbuat dari bahan aluminium murni, bisa jadi akan mempengaruhi kandungan di dalam makanan dan akhirnya berimbas pada kondisi kesehatan kita.

  1. Peralatan Memasak dari Bahan Besi Tuang

Peralatan ini cenderung aman untuk digunakan, asalkan tidak sampai berkarat.

  1. Peralatan Memasak dari Bahan Porselen atau Keramik

Peralatan ini cenderung aman. Hanya saja, peralatan ini mudah pecah atau retak sehingga harus benar-benar berhati-hati saat memakainya.

 

Sumber:

  1. 2019. Polyamide Kitchen Utensils: Keep contact with hot food as brief as possible. https://www.bfr.bund.de/cm/349/polyamide-kitchen-utensils-keep-contact-with-hot-food-as-brief-as-possible.pdf. (Diakses pada 9 November 2019).





Source link