Operasi Kelamin: Prosedur, Proses, Risiko (Lengkap)

Operasi Kelamin: Prosedur, Proses, Risiko (Lengkap)

[ad_1]

operasi-kelamin-doktersehat

DokterSehat.Com – Operasi kelamin adalah jenis operasi yang mungkin masih terdengar tabu bagi banyak masyarakat, tak terkecuali masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak? Operasi kelamin ini memungkinkan seseorang untuk mengubah jenis kelamin, yakni laki-laki menjadi perempuan, dan sebaliknya. Tingkat kesulitan operasi kelamin sangat tinggi, pun dengan risikonya. Lantas, bagaimana proses operasi kelamin dilakukan?

Apa Itu Operasi Kelamin?

Operasi kelamin adalah tindakan bedah plastik yang dilakukan untuk mengubah organ genital seseorang.

Artinya, seseorang dapat mengubah jenis kelamin dari laki-laki menjadi perempuan, pun sebaliknya, perempuan menjadi laki-laki. Namun, operasi ganti kelamin juga dilakukan pada mereka yang terlahir dengan kondisi kelamin ganda (ambiguous genitalia) atau disebut sebagai ‘interseksual’.

Di Indonesia, belum ada aturan jelas perihal legalitas operasi kelamin. Undang-undang Kesehatan No. 36 Pasal 69 ayat 1 hanya menyebutkan jika operasi bedah plastik harus dilakukan oleh tenaga medis dengan keahlian dan wewenang untuk itu. Pun, pasal 2 menyatakan bahwa operasi plastik tidak boleh melanggar norma masyarakat.

Mengapa Melakukan Operasi Kelamin?

Di balik tabunya operasi kelamin, tentunya harus dapat dipahami juga alasan mengapa seseorang ingin melakukan operasi ganti kelamin, pun alasan dokter ‘merestui’ tindakan operasi yang satu ini, mengingat kompleksitas dan risiko yang sangat tinggi.

Pada dasarnya, operasi kelamin wanita jadi pria dan sebaliknya dilakukan karena:

1. Memiliki Kelamin Ganda

Kelamin ganda adalah kondisi di mana seseorang memiliki bentuk alat kelamin yang bias. Kondisi langka ini terjadi sejak lahir. Ada faktor-faktor yang menyebabkan mengapa seseorang memiliki kelamin ganda, yakni:

  • Proses pembentukan kelamin yang tidak sempurna
  • Bayi memiliki sisi atau karakteristik pria dan wanita
  • Organ kelamin eksternal berbeda dengan organ kelamin internal

Kelamin ganda atau interseksual bukanlah suatu penyakit, melainkan kondisi cacat lahir yang memengaruhi perkembangan seksual.

Oleh karena kondisi ini dapat mengganggu perkembangan seksual, maka umumnya dokter akan menyetujui tindakan operasi ganti kelamin, bahkan harus segera dilakukan agar tidak menghambat perkembangan seksual.

Akan tetapi, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa operasi kelamin pria jadi wanita dan sebaliknya pada kasus kelamin ganda harus melalui persetujuan dari yang bersangkutan. Oleh karena itu, operasi ini umumnya baru bisa dilakukan saat usia 18 tahun ketika pemilik kelamin ganda sudah bisa memutuskan ingin menjadi seorang pria atau wanita.

2. Disforia Gender (Gender Dysphoria)

Disforia gender adalah kondisi psikologis di mana seseorang merasa tidak nyaman dengan jenis kelamin yang dimiliknya sejak lahir. Hal inilah yang umumnya memicu seseorang untuk menjadi transgender.

Jika sudah begitu, maka operasi kelamin dilakukan sebagai bagian dari terapi untuk mengatasi disforia gender tersebut. Operasi ganti kelamin bertujuan untuk tak hanya mengubah tampilan fisik alat kelamin, namun juga bagian tubuh secara keseluruhan beserta fungsinya guna sesuai dengan anatomi tubuh dari gender yang dikehendaki.

Tahapan Pra Operasi Kelamin

Setelah seseorang sudah memantapkan hatinya untuk melakukan operasi ganti kelamin, bukan berarti ia bisa langsung sampai pada tahap pembedahannya itu sendiri. Ada sejumlah tahapan atau proses operasi kelamin yang mesti dilewati sebelum ia benar-benar menjadi orang ‘baru’.

Tahapan atau proses operasi kelamin merujuk pada World Professional Association for Transgender Health (WPATH) meliputi:

1. Konsultasi

Sesi konsultasi menjadi tahapan awal dari operasi kelamin. Pada tahap ini, calon ‘wanita’ atau ‘pria’ akan dimintai keterangannya oleh ahli konselor kesehatan mental terkait alasan pasti untuk melakukan operasi ganti kelamin, termasuk menanyakan soal kondisi disforia gender yang ia alami.

Pasca didapatkan diagnosis disforia gender, pasien akan mendapatkan surat rekomendasi, yang mana surat rekomendasi ini menjadi ‘tiket’ untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya, yakni terapi hormon dengan pengawasan dari dokter.

2. Terapi Hormon

Berlanjut ke tahap atau proses operasi kelamin selanjutnya, yakni terapi hormon, pasien akan diberikan suntikan hormon sesuai dengan jenis kelamin yang ia kehendaki.

Pada pasien yang akan menjalani operasi kelamin wanita jadi pria, maka ia akan disuntikkan hormon androgen, di mana hormon ini berfungsi untuk memunculkan karakteristik seksual sekunder dari pria, seperti:

  • Suara berat
  • Tumbuh jenggot
  • Rambut

Sementara bagi mereka yang akan menjalani operasi kelamin pria jadi wanita, jenis hormon yang disuntikkan adalah hormon estrogen dan anti-androgen. Hormon ini nantinya berdampak pada perubahan atas:

  • Suara
  • Massa otot
  • Lemak
  • Tekstur kulit
  • Pinggul (menjadi lebih lebar)

Paling penting, tahapan suntik hormon pada calon pasien operasi kelamin ini bertujuan untuk mengatasi gangguan yang mereka alami akibat disforia gender. Efek dari suntik hormon ini akan terasa dalam kurun waktu 1-2 bulan kemudian.

3. Uji Perilaku

Beres terapi hormon, apakah selanjutnya langsung ke tahap pembedahan? Ternyata tidak. Pasien masih harus melewati satu tahapan penting lagi, yakni uji perilaku di kehidupan sehari-hari. Ya, dokter (atau konselor) akan meminta pasien untuk melakukan semacam adaptasi di lingkungan sosialnya dengan tubuh dan jiwa yang ‘baru’, baik sebagai pria maupun wanita.

Proses atau tahapan pra-operasi ini idealnya memakan waktu sekitar 1 (satu) tahun. Pasien diminta untuk bisa beraktivitas dan berperilaku sesuai dengan gender yang ia kehendaki.

Uji perilaku ini juga jadi ajang pembuktian bagi pasien kepada dokter dan konselor bahwa ia memang sudah benar-benar siap untuk menjadi insan yang baru.

Proses Operasi Kelamin

Sampailah pada tahap akhir dari proses operasi kelamin, yakni tindakan bedah kelamin. Seperti apa pelaksanaan operasi ‘tak biasa’ ini?

1. Operasi Kelamin Wanita jadi Pria

Operasi kelamin wanita jadi pria dilakukan dalam 3 (tiga) tahapan, yaitu:

  • Mastektomi subkutan, adalah prosedur pengangkatan seluruh jaringan payudara, dengan preservasi kulit dan kompleks puting-areola, pun dengan atau tanpa diseksi kelenjar getah bening aksila (Kemenkes RI)
  • Pengangkatan Rahim dan indung telur
  • Transformasi genital

Transformasi genital ini dilakukan dengan cara mengangkat vagina, pemanjangan uretra, dan pencangkokan penis serta testis buatan. Penis buatan ini sendiri terbuat dari jaringan klitoris guna menghasilkan sensasi seksual sebagaimana mestinya saat berhubungan intim nanti.

2. Operasi Kelamin Pria jadi Wanita

Sementara itu, prosedur operasi kelamin pria jadi wanita terdiri dari:

  • Pengangkatan penis dan testis
  • Pemotongan uretra
  • Transformasi genital

Transformasi genital di sini yaitu membentuk ‘vagina’, vulva, beserta jaringannya menggunakan sisa kulit. Tindakan ini akan menghasilkan vagina lengkap dengan ‘klitoris’ guna memberikan sensasi kenikmatan saat bercinta sebagaimana wanita pada umumnya. Akan tetapi, pria yang menjadi wanita transgender tetap memiliki prostat pada tubuhnya.

Selain operasi ganti kelamin, wanita transgender juga akan menjalani operasi penunjang lainnya, yakni:

  • Menumbuhkan payudara
  • Menghilangkan jakun
  • Bedah plastik pada wajah

Bahaya Operasi Kelamin

Sejak awal sudah dikatakan jika operasi kelamin memiliki risiko yang sangat tinggi. Melakukan operasi ganti kelamin berpotensi menyebabkan sejumlah komplikasi, yakni:

  • Perdarahan
  • Infeksi
  • Kerusakan
  • Penyempitan jalur ‘vagina’
  • Disfungsi alat kelamin (khusus penis)
  • Infertilitas

Tak hanya itu, sejumlah penyakit juga mungkin saja akan diderita oleh mereka yang melakukan operasi ganti kelamin sebagai efek dari suntik hormon berkepanjangan, di antaranya:

  • Sleep apnea
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • Batu empedu
  • Penyakit jantung
  • Tumor

Selain fisik, risiko operasi kelamin juga menyangkut psikologis dari pelakunya. Hal ini dikarenakan mereka yang memilih untuk mengubah gender acap kali harus menghadapi pelbagai permasalahan sosial, seperti dikucilkan oleh orang-orang sekitar (bahkan keluarga sekalipun), hingga sempitnya kesempatan untuk bekerja dan sebagainya.

Jika sudah begitu, bukan tidak mungkin seorang transgender atau transeksual akan mengalami stres, depresi, yang berujung pada tindakan-tindakan seperti bunuh diri.

Setidaknya hal inilah yang terjadi di Swedia. Sebuah studi yang dilakukan di negara tersebut pada tahun 2011 menunjukkan bahwa para mereka yang melakukan operasi ganti kelamin memiliki kecenderungan untuk mengalami masalah psikologis, pun keinginan untuk bunuh diri.

Itu dia informasi mengenai operasi ganti kelamin yang perlu Anda ketahui. Mengingat kompleksitas, risiko, biaya, dan kenyataan bahwa operasi ini sifatnya permanen, perlu adanya keyakinan mendalam sebelum seseorang memutuskan untuk melakukannya. Semoga bermanfaat!

 

Sumber:

  1. Dhejne, C, et al. (2011). Long-Term Follow-Up of Transsexual Persons Undergoing Sex Reassignment Surgery: Cohort Study in Sweden. Plos One. https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0016885 [diakses pada 20 Agustus 2019]
  2. Hess, J, et al. (2014). Satisfaction With Male-to-Female Gender Reassignment Surgery: Results of a Retrospective Analysis. Dtsch Arztebl Int., 111(47): 795–801. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4261554/ [diakses pada 20 Agustus 2019]
  3. Bernstein, L. (2015). Here’s how sex reassignment surgery works. The Washington Post. https://www.washingtonpost.com/news/to-your-health/wp/2015/02/09/heres-how-sex-reassignment-surgery-works/?noredirect=on [diakses pada 20 Agustus 2019]
  4. McMillen, M. (2015). Changing Genders: How It’s Done. WebMD. https://www.webmd.com/sex/news/20150422/transgender-homomes-surgery#1 [diakses pada 20 Agustus 2019]
  5. Panduan Penatalaksanaan Kanker Payudara. Kementerian Kesehatan RI. http://kanker.kemkes.go.id/guidelines/PPKPayudara.pdf [diakses pada 20 Agustus 2019]
  6. Torture in Healthcare Settings: Reflections on the Special Rapporteur on Torture’s 2013 Thematic Report. http://antitorture.org/torture-in-healthcare-publication/ [diakses pada 20 Agustus 2019]
  7. Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatanhttp://www.depkes.go.id/resources/download/general/UU%20Nomor%2036%20Tahun2%20009%20tentang%20Kesehatan.pdf [diakses pada 20 Agustus 2019]



[ad_2]

Source link

AKDSEO