Nyeri Haid: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi

By | July 31, 2019


DokterSehat.Com – Nyeri haid adalah kondisi umum yang dialami oleh banyak wanita. Nyeri haid dapat disebabkan oleh proses menstruasi itu sendiri dan dapat juga disebabkan oleh kondisi medis tertentu yang mendasarinya. Ketahui selengkapnya tentang nyeri haid mulai dari penyebab, gejala, hingga cara mengatasinya berikut ini.

Seperti Apa Itu Nyeri Haid?

Nyeri haid adalah rasa sakit yang dirasakan pada perut bagian bawah selama wanita mengalami menstruasi. Tingkat keparahan nyeri pada setiap wanita dapat berbeda-beda. Nyeri haid juga dikenal dengan dismenore dalam istilah medis.

Nyeri haid umumnya terjadi mulai dari masa ovulasi ketika sel telur dilepaskan dari ovarium kemudian bergerak ke tuba fallopi. Nyeri yang diakibatkan proses menstruasi disebut dengan dismenore primer. Namun jika nyeri haid disebabkan oleh kondisi medis lain maka disebut dengan dismenore sekunder.

Penyebab Nyeri Haid

Secara umum penyebab nyeri haid adalah kontraksi yang terjadi pada otot uterus dan rahim. Kontraksi ini membantu rahim untuk meluruhkan lapisannya. Apabila kontraksi terlalu kuat selama menstruasi, kondisi ini dapat menekan pembuluh darah terdekat yang ada disekitarnya.

Akibat pembuluh darah yang tertekan ini, pasokan oksigen ke rahim pun menjadi berukang. Hal inilah yang kemudian menyebabkan munculnya rasa nyeri saat haid.

Penyebab nyeri haid juga sering kali dikaitkan dengan keberadaan zat mirip hormon yang disebut prostaglandin. Zat ini yang memicu terjadinya kontraksi rahim dan juga berperan dalam menimbulkan rasa nyeri dan kram saat menstruasi. Kadar prostaglandin yang lebih tinggi sering kali dikaitkan dengan gejala nyeri haid yang lebih berat. Nyeri haid jenis ini disebut dengan nyeri haid atau dismenore primer.

Sedangkan untuk dismenore sekunder, kondisi medis yang dapat menjadi penyebabnya antara lain meliputi:

1. PMS (premenstrual syndrome)

Premenstrual syndrome atau PMS adalah sekelompok gejala yang terjadi pada wanita pada masa antara ovulasi hingga menstruasi.

PMS termasuk kondisi yang umum dan umumnya gejalanya kan hilang setelah menstruasi dimulai. PMS disebabkan oleh perubahan hormon yang terjadi dalam tubuh wanita selama waktu sekitar 1 hingga 2 minggu sebelum haid.

Selain menyebabkan nyeri perut, gejala PMS lainnya adalah seperti kembung, nyeri payudara, nyeri otot, nyeri sendi, mudah lapar, sakit kepala, jerawat, berat tubuh naik, hingga masalah pencernaan seperti diare atau sembelit.

PMS juga sering kali menimbulkan gejala emosional seperti kecemasan, murung, perubahan suasana hati, mudah menangis, mudah marah, dan lebih ingin menyendiri.

2. Endometriosis

Rasa nyeri saat haid juga dapat disebabkan oleh kondisi yang disebut dengan endometriosis.

Endometriosis adalah kondisi di mana jaringan yang mirip dengan lapisan rahim (endometrium) tumbuh di bagian lain seperti di ovarium, tuba fallopi, atau jaringan yang melapisi panggul.  Endometrium juga dapat menyebar di luar organ panggul, namun kasusnya terbilang jarang.

Endometriosis dapat menyebabkan nyeri haid dan dapat menyebabkan masalah kesuburan apabila dibiarkan. Gejala endometriosis meliputi nyeri haid berat yang mengganggu aktivitas, sakit ketika berhubungan seks, sembelit, diare, hingga kencing darah selama menstruasi, hingga sulit hamil.

Kondisi ini termasuk kondisi jangka panjang yang dapat sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama ketika menstruasi. Namun endometriosis dapat diatasi dengan perawatan yang tepat.

3. Fibroid rahim

Fibroid rahim atau fibroid uterus adalah pertumbuhan jaringan non-kanker pada rahim atau uterus yang sering muncul selama masa subur.

Fibroid juga sering disebut dengan mioma. Fibroid hampir tidak pernah berkembang menjadi kanker dan tidak juga terkait dengan peningkatan risiko kanker. Ukuran fibroid dapat sangat kecil hingga tidak terdeteksi oleh mata, tapi dapat juga memiliki ukuran besar hingga menyebabkan rahim membesar.

Gejala fibroid biasanya dipengaruhi oleh ukuran, jumlah, dan lokasinya. Gejala fibroid yang paling umum selain nyeri haid adalah seperti pendarahan menstruasi berat, menstruasi berlangsung lebih lama, tekanan atau nyeri pada panggul, sering buang air kecil, sembelit, nyeri punggung, nyeri kaki, dan sulit mengosongkan kandung kemih.

4. Penyakit radang panggul

Pelvic inflammatory disease (PID) atau penyakit radang panggul adalah infeksi pada organ reproduksi wanita.

Kondisi ini biasanya terjadi ketika bakteri yang ditularkan secara seksual menyebabkan infeksi pada vagina hingga rahim, tuba fallopi, atau ovarium. Kondisi ini biasanya baru terdeteksi apabila seseorang mengalami kesulitan hamil atau merasakan gejala nyeri panggul kronis.

Beberapa gejala yang mungkin timbul akibat PID meliputi nyeri di perut bagian bawah dan panggul, keputihan parah yang berbau tidak sedap, nyeri dan pendarahan ketika berhubungan intim pendarahan rahim abnormal, demam, sakit ketika buang air kecil, dan demam hingga menggigil.

5. Adenomyosis

Adenomyosis adalah kondisi di mana lapisan dalam rahim (endometrium) menembus dinding otot atau lapisan tengah rahim (miometrium).

Adenomyosis dapat ditemukan di seluruh rahim atau terletak pada satu spot saja. Selain menyebabkan nyeri haid yang parah, adenomyosis juga menyebabkan perut kembung dan juga pendarahan menstruasi yang lebih berat dan berkepanjangan.

Kondisi ini dianggap tidak berbahaya atau tidak mengancam jiwa, namun karena dapat menyebabkan nyeri dan pendarahan hebat pada wanita, kondisi ini tetap dianggap dapat berdampak buruk juga pada kualitas hidup penderitanya.

6. Stenosis serviks

Stenosis serviks atau penyempitan leher rahim juga dapat menjadi penyebab nyeri haid sekunder.

Kondisi ini termasuk kondisi langka di mana leher rahim menjadi sangat kecil atau sempit sehingga aliran menstruasi melambat. Hal ini kemudian menyebabkan tekanan dalam rahim meningkat sehingga timbul rasa nyeri saat haid.

Jika terjadi sebelum menopause, stenosis serviks dapat menyebabkan dismenore, pendarahan abnormal, atau bahkan menyebabkan amenore (tidak ada menstruasi). Kondisi ini juga dapat menyebabkan infertilitas karena sperma tidak dapat melewati leher rahim sehingga tidak dapat terjadi pembuahan.

Faktor Risiko Nyeri Haid

Di luar berbagai penyebab nyeri haid yang sudah disebutkan di atas, terdapat beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan wanita mengalami nyeri haid. Beberapa faktor risiko yang dimaksud meliputi:

  • Wanita berusia di bawah 30 tahun
  • Mengalami pendarahan hebat saat menstruasi (menorrhagia)
  • Memiliki siklus menstruasi yang tidak teratur (metrorrhagia)
  • Wanita yang mencapai pubertas sebelum usia 11 tahun atau lebih muda
  • Memiliki riwayat keluarga dismenore
  • Belum pernah memiliki anak atau melahirkan
  • Merokok
  • Obesitas

Gejala Nyeri Haid

Gejala nyeri haid secara umum adalah rasa nyeri berdenyut atau kram pada perut bagian bawah. Nyeri haid sering kali dibarengi dengan banyak gejala lainnya. Berikut adalah berbagai gejala yang dirasakan wanita ketika mengalami nyeri haid:

  • Nyeri atau kram pada perut bagian bawah, nyeri yang dirasakan dapat sangat berat dan intens
  • Nyeri dimulai pada sekitar 1-3 hari sebelum haid dan mereda pada hari ke 2-3 haid. Nyeri paling hebat umumnya terjadi pada 24 jam semenjak haid dimulai.
  • Perasaan tertekan di perut
  • Nyeri yang menjalar ke pinggul, punggung, dan paha bagian bawah
  • Mual
  • Diare
  • Sakit kepala
  • Pusing

Gejala pada setiap wanita dapat berbeda-beda, termasuk gejala munculnya nyeri. Sebelumnya disebutkan bahwa nyeri dapat dimulai sebelum menstruasi dimulai dan puncaknya adalah pada hari pertama menstruasi.

Namun dalam beberapa kasus terdapat juga wanita yang merasakan nyeri di hari pertama menstruasi tapi tidak merasakan nyeri sebelumnya atau sebaliknya.

Kapan Harus ke Dokter?

Tingkat keparahan nyeri berbeda-beda pada setiap orang. Jika nyeri yang dirasakan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari, biasanya seseorang tidak membutuhkan perawatan medis. Namun jika nyeri haid yang dialami menyebabkan terganggunya aktivitas Anda, maka sebaiknya segera konsultasikan kondisi tersebut ke dokter.

Berikut adalah beberapa kondisi dan gejala yang mengharuskan Anda untuk berkonsultasi dengan dokter:

  • Nyeri haid hebat selama 3 kali haid berturut-turut
  • Adanya gumpalan darah ketika haid
  • Kram perut disertai dengan diare dan mual
  • Nyeri panggul saat sedang tidak menstruasi
  • Rasa sakit berkelanjutan setelah pemasangan IUD
  • Demam
  • Nyeri panggul parah
  • Sakit mendadak atau menemukan tanda-tanda kehamilan
  • Keputihan yang memiliki bau busuk

Gejala seperti demam, nyeri panggul yang tiba-tiba, dan keputihan dapat menjadi tanda adanya infeksi. Apabila dibiarkan, infeksi ini dapat menyebabkan timbulnya jaringan parut yang bisa merusak organ panggul dan dapat menyebabkan infertilitas atau ketidaksuburan.

Diagnosis Nyeri Haid

Diagnosis dilakukan untuk mengetahui kondisi yang mendasari nyeri haid. Dokter akan memulai dengan memeriksa riwayat medis Anda dan melakukan pemeriksaan fisik. Umumnya dokter akan melakukan pemeriksaan panggul untuk mengetahui ada atau tidaknya kelainan pada sistem reproduksi dan untuk mencari tanda infeksi.

Apabila dokter mencurigai bahwa nyeri haid merupakan dismenore sekunder yang disebabkan oleh kondisi medis lain, dokter akan menyarankan Anda untuk melakukan beberapa tes seperti:

1. USG

USG atau ultrasonografi adalah tes pencitraan menggunakan gelombang suara untuk melihat gambaran rahim, leher rahim, tuba fallopi, dan juga indung telur. Jenis USG transvaginal atau USG melalui vagina adalah jenis USG yang dapat dilakukan untuk mengetahui kondisi rahim dengan lebih akurat.

2. CT Scan

CT scan adalah tes pencitraan menggunakan sinar-X dan komputer untuk mendapatkan gambar detail dari organ dalam tubuh.

CT scan mengambil gambar dari berbagai sudut kemudian gambaran tersebut disatukan menjadi bentuk gambar 3 dimensi. Pemeriksaan satu ini dapat menghasilkan gambaran organ tubuh yang lebih detail dibandingkan dengan tes USG.

3. MRI

Sama seperti CT scan, MRI juga menghasilkan gambaran yang lebih detail dari USG.

MRI merupakan tes pencitraan menggunakan gelombang radio dan medan magnet yang kuat untuk menghasilkan gambar detail organ dalam tubuh. Baik CT scan maupun MRI merupakan jenis pemeriksaan non-invasif sehingga tidak membutuhkan pembedahan dan tidak menyakitkan.

4. Laparoskopi

Pada dasarnya laparoskopi tidak terlalu dibutuhkan untuk mendiagnosis nyeri haid, tapi tes ini dapat membantu mendeteksi beberapa kondisi yang bisa jadi menjadi penyebab nyeri haid.

Laparoskopi dapat membantu diagnosis endometriosis, fibrosis, kista ovarium, hingga kehamilan ektopik. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara memasukkan tabung fiber-optic dengan kamera kecil ke dalam perut melalui sayatan kecil di perut.

Cara Mengatasi Nyeri Haid dengan Perawatan di Rumah

Cara menghilangkan nyeri haid, terutama dismenore primer, biasanya cukup menggunakan perawatan di rumah. Berikut adalah beberapa cara menghilangkan nyeri haid di rumah yang bisa Anda coba:

1. Olahraga

Banyak orang yang beranggapan bahwa ketika menstruasi, wanita sebaiknya tidak berolahraga.

Hal ini tentunya adalah mitos. Olahraga dengan porsi dan gerakan yang tepat justru dapat membantu meredakan nyeri haid. Jenis olahraga yang direkomendasikan saat haid adalah seperti berjalan, yoga, dan gerakan-gerakan peregangan.

2. Memanfaatkan suhu panas

Suhu panas juga dapat membantu meringankan nyeri haid, bahkan sama efektifnya dengan obat penghilang nyeri.

Anda bisa meletakkan kompres panas di perut bagian bawah untuk meredakan nyeri. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan berendam menggunakan air hangat.

3. Konsumsi suplemen

Konsumsi beberapa jenis vitamin dan mineral juga dipercaya efektif untuk membantu meringankan nyeri haid. Vitamin dan suplemen yang direkomendasikan antara lain seperti vitamin B6, vitamin B1, vitamin E, asam lemak omega-3, kalsium, dan juga magnesium.

4. Manajemen stres

Stres psikologis ternyata dapat menjadi salah satu pemicu meningkatnya risiko kram menstruasi. Maka dari itu, mempelajari manajemen stres akan dapat membantu Anda terhindar dari nyeri saat haid.

5. Konsumsi air putih

Nyeri haid biasanya diperburuk dengan adanya sensasi kembung di perut.

Salah satu cara terbaik untuk mengatasinya adalah dengan memastikan kebutuhan cairan tercukupi dan tubuh terhidrasi dengan baik. Konsumsi air putih lebih banyak dari asupan harian biasanya ketika menstruasi sangat direkomendasikan.

6. Konsumsi makanan yang dapat meringankan nyeri

Cara menghilangkan nyeri haid selanjutnya adalah dengan mengonsumsi makanan yang dapat meringankan nyeri haid.

Jenis makanan yang dapat meringankan nyeri haid adalah makanan yang banyak mengandung vitamin dan mineral yang disebutkan sebelumnya dan makanan yang mengandung banyak air. Konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan sangat disarankan.

7. Hindari makanan yang dapat menambah nyeri

Selain mengonsumsi makanan yang dapat meredakan nyeri, Anda juga sebaiknya menghindari makanan yang dapat memperburuk rasa nyeri.

Jenis makanan dan minuman yang dipercaya dapat memperburuk rasa nyeri saat haid adalah seperti makanan berlemak, makanan tinggi sodium, alkohol, minuman berkarbonasi, dan minuman dan makanan yang mengandung kafein.

8. Akupuntur

Akupuntur merupakan pengobatan alternatif asal tiongkok yang banyak sekali manfaatnya untuk kesehatan. Akupuntur yang dilakukan pada 10 hingga 7 hari sebelum menstruasi dipercaya dapat membantu meringankan nyeri haid.

9. Akupresur

Pengobatan alternatif lain yang bisa dilakukan untuk mengatasi nyeri haid adalah akupresur atau pijat.

Akupresur mengandalkan tekanan dan sentuhan pada beberapa titik tubuh untuk membantu melancarkan aliran darah dan pelepasan endorfin. Efeknya nyeri haid pun dapat terhindari.

10. Obat herbal

Beberapa obat herbal juga dapat membantu meringankan nyeri haid yang Anda alami.

Salah satunya adalah kunyit asam yang memiliki kandungan kurkumin yang dipercaya dapat meringankan nyeri haid dan gejala PMS lain. Meskipun herbal relatif aman, pastikan Anda berkonsultasi dengan dokter tentang penggunaannya apabila Anda sedang menjalani pengobatan lain.

Penggunaan herbal bersama dengan obat lain dapat menyebabkan interaksi obat yang dapat memengaruhi kinerja obat.

Cara Mengatasi Nyeri Haid dengan Perawatan Medis

Apabila cara mengatasi haid dengan perawatan di rumah tidak berhasil, Anda mungkin memerlukan perawatan medis untuk mengatasi nyeri haid. Berikut adalah beberapa cara mengatasi haid dengan cara medis:

1. Obat antiinflamasi nonsteroid

Obat nyeri haid pertama yang dapat menjadi pilihan adalah obat antiinflamasi nonstreroid.

Obat-obatan seperti ibuprofen dan naproxen dapat menjadi obat nyeri haid. Obat ini membantu meredakan rasa nyeri dengan cara memengaruhi prostaglandin. Jenis obat-obatan ini termasuk obat bebas yang tidak memerlukan resep dokter.

2. Kontrasepsi hormonal

Berbagai jenis kontrasepsi hormonal bekerja mencegah ovulasi dan dapat meredakan nyeri haid berat.

Kontrasepsi hormonal dapat berupa pil KB, suntikan, hingga IUD. Konsultasikan dengan dokter sebelum memilih kontrasepsi hormonal yang paling tepat untuk Anda.

3. Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS)

Perangkat TENS terhubung ke kulit melalui patch berperekat dengan elektroda di dalamnya.

Elektroda ini akan mengalirkan arus listrik untuk merangsang saraf. Perangkat ini bekerja dengan cara menaikkan ambang sinyal rasa sakit dan merangsang pelepasan endorfin yang dapat menjadi pereda rasa sakit alami.

5. Operasi

Tindakan operasi mungkin diperlukan apabila nyeri haid disebabkan oleh kondisi medis seperti endometriosis atau fibroid.

Pembedahan dilakukan untuk mengatasi masalah secara spesifik. Apabila berbagai pengobatan tidak berhasil dilakukan, operasi pengangkatan rahim mungkin diperlukan untuk mengatasinya. Namun cara ini hanya dapat dilakukan apabila Anda tidak berencana untuk memiliki anak.

 

Sumber:

  1. Menstrual cramps – https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/menstrual-cramps/diagnosis-treatment/drc-20374944 diakses 31 Juli 2019
  2. What Causes Painful Menstrual Periods and How Do I Treat Them? – https://www.healthline.com/health/painful-menstrual-periods diakses 31 Juli 2019
  3. What to know about menstrual cramps – https://www.medicalnewstoday.com/articles/157333.php diakses 31 Juli 2019
  4. What Is PMS? – https://www.webmd.com/women/pms/what-is-pms#2 diakses 31 Juli 2019
  5. Pelvic inflammatory disease (PID) – https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pelvic-inflammatory-disease/symptoms-causes/syc-20352594 diakses 31 Juli 2019
  6. Uterine fibroids – https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/uterine-fibroids/symptoms-causes/syc-20354288 diakses 31 Juli 2019
  7. What Is Adenomyosis? – https://www.webmd.com/women/guide/adenomyosis-symptoms-causes-treatments#1 diakses 31 Juli 2019





Source link