Muntaber: Penyebab, Gejala dan Penanganan

By | August 27, 2019


DokterSehat.Com – Muntah berak atau sering disebut disebut muntaber adalah peradangan yang terjadi pada saluran pencernaan. Gangguan pada saluran pencernaan ini bisa dialami siapa saja. Namun, Anda harus waspada apabila muntaber terjadi anak-anak dan lansia. Kedua golongan ini sangat rentan mengalami kehilangan banyak cairan dalam waktu yang sangat cepat.

Penyebab Muntaber

Peradangan usus yang disebabkan oleh muntaber bisa disebabkan oleh bakteri, virus, parasit (jamur, cacing, protozoa), keracunan makanan atau minuman hingga kurangnya asupan gizi yang baik. Selain itu, gangguan pada sistem pencernaan ini juga dapat mewabah akibat lingkungan sekitar tempat tinggal yang kurang bersih.

Perlu diketahui, sistem sanitasi yang tidak terjaga dengan baik juga memudahkan kuman untuk berkembang biak. Bahkan, hujan yang terus menerus mengguyur hingga menimbulkan banjir adalah kondisi yang sangat potensial untuk menimbulkan wabah muntaber.

Selain beberapa hal di atas, penyebab muntaber lainnya adalah:

  • Kehamilan awal.
  • Rasa sakit yang hebat.
  • Terpapar racun kimia.
  • Stres emosional.
  • Penyakit kantong empedu.
  • Mencium aroma tertentu.
  • Gastroparesis.
  • Rotavirus.
  • Neuritis vestibular.
  • Gastroenteritis.
  • Anestesi umum.
  • Obstruksi usus.
  • Kemoterapi.

Hal penting lainnya yang harus dipahami adalah penyebab muntaber setiap orang berbeda-beda terkait dengan usia. Pada orang dewasa dan anak-anak, muntaber biasanya disebabkan oleh infeksi virus dan keracunan makanan, mabuk perjalanan, atau menderita demam tinggi.

Beberapa kondisi serius yang menjadi penyebab muntaber termasuk:

  • Gegar otak.
  • Radang otak.
  • Meningitis.
  • Penyumbatan usus.
  • Radang usus buntu.
  • Migrain.
  • Tumor otak.

Waktu terjadinya muntaber dapat mengindikasikan penyebabnya. Ketika muncul segera setelah makan, mual atau muntah dapat disebabkan oleh keracunan makanan, gastritis , maag, atau bulimia.

Muntaber 1 hingga 8 jam setelah makan dapat mengindikasikan keracunan makanan. Namun, bakteri bawaan makanan tertentu, seperti salmonella bisa memakan waktu lebih lama untuk menghasilkan gejala.

Gejala Muntaber

Gejala muntaber yang umum yang terjadi adalah diare, mual, muntah berulang kali, dan nyeri perut. Gejala lain dari muntaber yang mungkin bisa dirasakan adalah kram di perut, demam, hilangnya nafsu makan, dan dehidrasi.

Selain diare dan muntah yang umum terjadi, ciri ciri muntaber lainnya adalah:

  • Munculnya darah di kotoran.
  • Mencret setidaknya 3 kali dalam sehari.
  • Sakit kepala.

Pada dasarnya, muntaber sendiri dapat bertahan kurang dari seminggu. Akan tetapi, muntaber kadang-kadang bisa berlangsung beberapa minggu atau lebih lama tergantung pada penyebabnya.

Namun jika gejala dan kondisi kesehatan semakin memburuk, Anda disarankan untuk menemui dokter dan mendiskusikan masalah ini untuk mendapatkan serangkaian pemeriksaan lanjutan dan mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisi yang dialami.

Obat Muntaber Medis dan Alami

Perawatan untuk muntaber tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Terdapat beberapa obat yang digunakan untuk mengobati muntaber. Pada kasus muntaber yang parah, Anda mungkin perlu cairan tambahan melalui infus (intravena).

Berikut adalah obat muntaber yang bisa diresepkan oleh dokter, di antaranya:

1. Antibiotik

Salah satu obat muntaber yang diperlukan adalah antibiotika jenis metronidazol yang dikombinasikan dengan sulfametoksazol dan trimetoprim. Golongan metronidazole yang bisa dipakai antara lalin flagyl, trogyl, atau lainnya—yang terpenting adalah kandungan metronidazolenya.

Sedangkan untuk obat muntaber golongan sulfametoksazole dan trimetoprim, bisa dipakai sanprima atau yang lainnya.

2. Oralit

Sementara untuk balita dan anak-anak, pemakaian oralit mungkin bisa langsung diberikan untuk menggantikan cairan yang hilang. Kenapa harus oralit? Karena air biasa tidak memiliki kandungan garam dan nutrisi yang cukup untuk menggantikan cairan yang hilang. Sementara itu, minuman ringan biasanya kaya akan gula dan kemungkinan dapat mengiritasi perut anak-anak.

3. Rehidrasi

Setelah Anda mengetahui obat muntaber mana yang harus dikonsumsi, cara mengatasi muntaber lain yang dapat dengan mudah dilakukan adalah terapi rehidrasi. Rehidrasi yaitu mengembalikan cairan tubuh yang hilang saat terjadi muntaber. Mencegah dehidrasi adalah hal yang paling penting dalam mengobati muntaber.

Meski begitu, Anda sebenarnya dapat sembuh dengan sendirinya setelah dua atau tiga hari mengalami muntaber. Oleh karenanya, Anda disarankan untuk memperbanyak konsumsi air putih dan juga makan makanan yang tidak iritatif seperti sup atau bubur ayam.

Penanganan Muntaber Selain Dengan Obat Muntaber

Selain mengusahakan pengobatan untuk muntaber, Anda juga perlu untuk mengingat bahwa muntaber adalah penyakit yang dapat menular. Maka dari itu, ketika mengusahakan kesembuhan untuk salah satu anggota keluarga maupun teman yang mengalami muntaber, perlu diingat bahwa jangan sampai muntaber ini menular kepada diri Anda.

Karena muntaber adalah penyakit yang mudah menular terutama melalui air, maka dari itu apabila terdapat anggota keluarga atau tetangga yang menderita muntaber, Anda harus lebih waspada terhadap kebersihan lingkungan sekitar.

Salah satu usaha untuk mencegah faktor penularan penyakit tersebut adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan. Bersihkan lingkungan dari sampah yang menghalangi saluran air dan bersihkan kamar mandi menggunakan pembersih lantai yang mengandung antiseptik. Selain itu, jangan lupa cuci tangan menggunakan sabun sebelum makan, sehabis dari toilet, atau melakukan aktivitas lain di luar ruangan.

Dalam kasus keracunan makanan atau infeksi, muntah sering kali merupakan cara tubuh membersihkan diri dari zat berbahaya. Namun, ada langkah-langkah yang bisa dilakukan seseorang untuk mengurangi perasaan mual dan perut yang tidak nyaman yang sering menyertai muntaber, berikut di antaranya:

  1. Minum air putih 30 menit setelah mengalami muntah. Contoh cairan yang mungkin bisa diminum termasuk air putih atau teh.
  2. Hindari minuman beralkohol dan bersoda usai muntah, karena hanya akan memperburuk mual dan menyebabkan dehidrasi lebih lanjut.
  3. Menggunakan aromaterapi atau mencium aroma tertentu, dapat mengurangi timbulnya mual. Aroma yang bisa dicoba seperti termasuk lavender, chamomile, minyak lemon, pepermin, mawar, dan cengkeh.
  4. Menghindari makanan padat sampai periode muntaber berlalu. Jika muntah dan diare bertahan lebih dari 24 jam, larutan rehidrasi oral seperti Pedialyte harus digunakan untuk mencegah dan mengobati dehidrasi.
  5. Ibu hamil yang mengalami morning sickness dapat makan biskuit dan cracker sebelum bangun dari tempat tidur atau makan makanan ringan berprotein tinggi sebelum tidur (daging tanpa lemak atau keju).
  6. Cobalah untuk beristirahat dalam posisi duduk atau dalam posisi berbaring. Posisi tubuh yang tidak tepat dapat memperburuk mual dan dapat menyebabkan muntah.
  7. Konsumsi air jahe. Jahe mengandung bahan kandungan aktif yang mampu meredakan infeksi di usus dan melindunginya dari bakteri.
  8. Kayu manis dan madu. Kombinasi antara kayu manis dan madu dipercaya dapat mengobati muntaber dengan efektif. Kedua bahan alami ini bermanfaat untuk mengatasi peradangan dan menambah kekebalan tubuh. Seduhlah kayu manis dengan air panas, setelah itu campurkan madu secukupnya setelah airnya mendingin.

 

Sumber:

  1. Vomiting in adults. https://www.nhsinform.scot/illnesses-and-conditions/stomach-liver-and-gastrointestinal-tract/vomiting-in-adults. (diakses pada tanggal 27 Agustus 2019).
  2. Nausea and vomiting. https://www.mayoclinic.org/symptoms/nausea/basics/definition/sym-20050736. (diakses pada tanggal 27 Agustus 2019).
  3. Nausea and Vomiting. https://medlineplus.gov/nauseaandvomiting.html. (diakses pada tanggal 27 Agustus 2019).
  4. Nausea and Vomiting. https://www.webmd.com/digestive-disorders/digestive-diseases-nausea-vomiting#1. (diakses pada tanggal 27 Agustus 2019).
  5. Nausea & Vomiting. https://my.clevelandclinic.org/health/symptoms/8106-nausea–vomiting. (diakses pada tanggal 27 Agustus 2019).
  6. Diarrhoea and vomiting (gastroenteritis). https://www.webcitation.org/71pQgNAJi. (diakses pada tanggal 27 Agustus 2019).





Source link