Melahirkan Vakum, Apa Manfaat dan Risikonya?

By | September 11, 2019


DokterSehat.Com – Proses persalinan normal terkadang membutuhkan beberapa bantuan untuk dapat berjalan dengan baik. Salah satu bentuk bantuan dalam persalinan normal adalah penggunaan vakum. Melahirkan vakum dapat dilakukan jika memang dibutuhkan dan proses persalinan memenuhi syarat untuk dilakukannya prosedur ini.

Apa Itu Melahirkan Vakum?

Ekstraksi vakum atau melahirkan vakum adalah proses persalinan normal dengan bantuan alat vakum.

Selama proses melahirkan vakum, dokter akan mengaplikasikan vakum ke kepala bayi untuk dapat membantu kepala bayi keluar dari jalan lahir. Biasanya alat vakum akan bekerja menarik kepala bayi ketika kontraksi terjadi dan ibu harus mengejan.

Persalinan menggunakan vakum bisa saja direkomendasikan dokter untuk mempercepat proses kelahiran, namun prosedur ini tentu memiliki risikonya tersendiri. Maka dari itu, melahirkan vakum biasanya hanya dilakukan pada kondisi tertentu saja di mana proses persalinan tidak menunjukkan kemajuan atau terdapat risiko tertentu pada ibu dan bayi.

Jenis Alat Vakum untuk Melahirkan

Alat vakum dapat berbentuk manual maupun menggunakan mesin. Apabila dibedakan dari bahan cup atau ekstraktor vakum, vakum dibedakan menjadi dua jenis yaitu yang dilengkapi dengan metal cup atau soft cup.

1. Vakum dengan Metal Cup

Metal cup adalah cup yang terbuat dari logam dan berbentuk jamur dengan diameter sekitar 4-6 cm. Di bagian tengah metal cup, terdapat rantai yang menghubungkan cup dengan bagian vakum yang digunakan untuk menarik.

Alat hisap terpasang pada cup melalui lubang yang ada pada bagian atas atau samping metal cup tersebut. Penggunaan vakum dengan metal cup biasanya memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi.

Namun sayangnya, bentuknya yang kaku membuatnya sulit untuk diaplikasikan dan dipercaya menimbulkan risiko lebih tinggi terhadap cedera kulit kepala bayi. Terdapat jenis ekstaktor vakum soft cup dapat digunakan hanya satu kali dan terdapat juga yang dapat digunakan berulang kali.

2. Vakum dengan Soft Cup

Jenis vakum yang kedua adalah vakum dengan soft cup.

Bentuknya yang lebih fleksibel membuat soft cup lebih jarang menyebabkan cedera pada kepala bayi. Namun tingkat kegagalan untuk penggunaan vakum soft cup lebih tinggi jika dibandingkan vakum dengan metal cup.

Umumnya soft cup memiliki bentuk seperti corong atau lonceng. Namun terdapat juga yang memiliki bentuk jamur sehingga dianggap memiliki keunggulan gabungan dari metal cup dan soft cup.

Kapan Melahirkan Vakum Dilakukan?

Penggunaan alat vakum untuk melahirkan dilakukan di tahap kedua persalinan, yaitu pada fase ibu harus mengejan dan bayi hampir dilahirkan.

Penggunaan vakum dilakukan dalam kondisi tertentu seperti proses persalinan yang berkepanjangan atau proses persalinan harus dipercepat karena bayi atau ibu berisiko terkena komplikasi tertentu apabila bayi tidak segera dilahirkan.

Kondisi spesifik yang biasanya menjadi alasan penggunaan vakum adalah seperti:

  • Bayi terjebak di jalan lahir. Kondisi ini membuat persalinan tidak kunjung mengalami kemajuan meskipun ibu sudah mengejan.
  • Ibu terlalu lelah untuk mendorong bayi keluar.
  • Ibu memiliki kondisi medis seperti jantung, tekanan darah tinggi, atau kondisi lain yang membuat ibu berisiko apabila harus terus mengejan.
  • Bayi menunjukkan masalah pada detak jantung atau mengalami kondisi gawat janin.

Syarat Melahirkan Vakum

Sebelum memilih prosedur melahirkan vakum, dokter juga harus memastikan apakah proses kelahiran tersebut dapat memenuhi syarat penggunaan vakum. Penggunaan vakum hanya dapat dilakukan apabila proses kelahiran memenuhi kriteria meliputi:

  • Serviks sudah sepenuhnya melebar (bukaan sudah lengkap)
  • Ketuban sudah pecah
  • Kepala bayi sudah turun ke jalan lahir
  • Usia kehamilan telah cukup.

Kondisi yang Membuat Melahirkan Vakum Tidak Disarankan

Melahirkan dengan vakum memang bertujuan untuk mempermudah proses kelahiran. Meskipun begitu, terdapat beberapa kondisi di mana dokter mungkin tidak merekomendasikan prosedur satu ini, karena mungkin risikonya akan lebih besar terhadap ibu maupun bayi.

Beberapa kondisi di mana melahirkan dengan vakum tidak disarankan adalah seperti:

  • Usia kehamilan Anda masih kurang dari 34 minggu.
  • Kondisi medis tertentu pada bayi seperti osteogenesis imperfecta yang merupakan kondisi yang memengaruhi kekuatan tulang atau gangguan darah seperti hemofilia.
  • Posisi kepala bayi belum bergerak melewati titik tengah jalan lahir.
  • Posisi kepala bayi tidak diketahui.
  • Bayi tidak dapat masuk ke panggul karena ukuran panggul atau karena ukuran bayi yang terlalu besar.
  • Bukan kepala, melainkan bahu, lengan, bokong, atau kaki bayi yang ada di jalan lahir.

Prosedur Melahirkan dengan Vakum

Sebelum dokter menyarankan prosedur melahirkan vakum, beberapa cara lain mungkin akan dicoba untuk membantu proses kelahiran. Contohnya seperti pemberian obat yang dapat merangsang kontraksi atau prosedur episiotomi (membuat sayatan di jaringan antara vagina dan anus).

Apabila ekstraksi vakum dianggap sebagai pilihan terbaik, dokter akan menjelaskan tentang manfaat dan risiko dari prosedur ini. Pilihan operasi caesar bisa menjadi pertimbangan, namun umumnya prosedur ini baru dipilih apabila persalinan dengan vakum tidak berhasil atau ada kondisi lain yang mengharuskan operasi caesar dilakukan.

Prosedur melahirkan vakum dimulai dengan memasukkan cup vakum ke dalam vagina dan memasangkannya di kepala bayi. Dokter akan memastikan tidak ada jaringan vagina yang terjepit antara kepala bayi dan cup.

Setelah itu, dokter akan menggunakan pompa vakum untuk menghisap. Apabila kontraksi terjadi, dokter akan meningkatkan tekanan hisap vakum dan mencoba membimbing kepala bayi untuk keluar melalui jalan lahir selagi ibu mengejan.

Apabila kontraksi hilang dan kepala bayi belum keluar, dokter mungkin akan mengurangi tekanan hisap pada vakum dan meningkatkannya lagi setelah kontraksi datang kembali. Setelah kepala bayi berhasil keluar, dokter dapat melepaskan cup vakum dan menarik tubuh bayi keluar.

Hal yang Diperhatikan Setelah Prosedur Melahirkan Vakum

Setelah bayi lahir, dokter akan memeriksa apakah terdapat cedera yang disebabkan oleh vakum. Apabila terdapat cedera atau sobekan, dokter akan segera menangani. Dokter juga akan menjahit kembali apabila sebelumnya dilakukan episiotomi.

Bayi akan diperiksa untuk memastikan apabila terdapat komplikasi yang mungkin disebebakan oleh ekstraksi vakum.

Pemulihan Setelah Melahirkan Vakum

Apabila dilakukan episiotomi atau Anda mendapatkan robekan vagina selama persalinan, lukanya mungkin akan terasa sakit selama beberapa minggu. Semakin lebar luka maka akan membutuhkan waktu yang semakin lama untuk pulih.

Selama masa penyembuhan, ketidaknyamanan dan rasa sakit seharusnya semakin berkurang seiring dengan berjalannya waktu. Apabila rasa sakit justru memburuk dan Anda mengalami demam atau tanda infeksi lainnya, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan.

Konsultasikan dengan dokter juga apabila Anda mengalami inkontinensia tinja (tidak dapat mengontrol pencernaan).

Risiko dan Efek Melahirkan Vakum untuk Ibu

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, prosedur melahirkan vakum memiliki risiko dan efek sampingnya sendiri. Efek melahirkan vakum dapat memengaruhi ibu maupun bayi.

Risiko atau efek melahirkan vakum yang mungkin terjadi pada ibu adalah seperti:

1. Masalah pada Saluran Genital Bagian Bawah

Melahirkan vakum dapat menyebabkan risiko seperti nyeri pada perineum (jaringan antara vagina dan anus).

Melahirkan normal dengan bantuan vakum juga berpotensi menyebabkan sobekan pada saluran genital bagain bawah. Selain itu, sebelumnya juga disebutkan bahwa proses melahirkan dengan vakum juga mungkin melibatkan episiotomi.

2. Masalah pada Kandung Kemih

Efek yang mungkin terjadi setelah melahirkan dengan vakum adalah masalah dengan kandung kemih.

Masalah ini dapat berupa kesulitan jangka pendek untuk mengosongkan kandung kemih atau buang air kecil. Masalah lainnya yang mungkin terjadi adalah inkontinensia urin (kesulitan untuk mengendalikan keluarnya urin) yang terjadi jangka pendek hingga jangka panjang.

Selain inkontinensia urin, inkontinensia feses juga mungkin dirasakan oleh ibu yang melahirkan dengan vakum.

Perlu diketahui bahwa risiko yang terjadi pada persalinan dengan bantuan vakum ini pada dasarnya bisa juga terjadi pada persalinan normal yang terjadi secara alami dan tidak menggunakan bantuan apapun seperti vakum.

Risiko dan Efek Melahirkan Vakum untuk Bayi

Selain berisiko bagi ibu, prosedur melahirkan vakum juga bisa memberikan efek pada bayi. Efek penggunaan vakum pada bayi meliputi:

1. Luka pada Permukaan Kulit Kepala

Pembengkakan pada kepala bayi yang baru lahir pada dasarnya merupakan hal yang bisa.

Kondisi ini terjadi karena serviks dan jalan lahir memberikan banyak tekanan pada kepala bayi yang bergerak menuju jalan lahir. Penggunaan vakum juga dapat menyebabkan pembengkakan yang sama. Umumnya kondisi ini dapat hilang dalam dua hingga tiga hari.

Vakum juga terkadang dapat menyebabkan luka kecil pada kulit kepala bayi. Namun umumnya luka ini tidak serius dan sembuh dengan cepat serta tidak meninggalkan bekas luka yang permanen.

2. Hematoma

Hematoma adalah kumpulan darah di bawah kulit di luar pembuluh darah.

Hematoma biasanya terjadi ketika pembuluh darah atau arteri mengalami cedera, sehingga darah merembes keluar pembuluh darah dan masuk ke jaringan yang ada di sekitarnya. Terdapat dua jenis hematoma yang mungkin terjadi akibat proses persalinan menggunakan vakum:

  • Cephalohematoma. Pendarahan terbatas pada ruang di bawah penutup tulang tengkorak.
  • Hematoma subgaleal. Darah menumpuk tepat di bawah kulit kepala. Ruang subgaleal besar, sehingga kondisi ini dapat menyebabkan sejumlah besar darah hilang di bagian tengkorak tertentu.

3. Pendarahan Intrakranial

Pendarahan intrakranial adalah pendarahan yang terjadi di dalam tengkorak.

Kondisi ini termasuk kondisi serius, namun jarang terjadi. Kondisi ini dapat terjadi apabila vakum yang dipasang di kepala bayi merusak atau melukai pembuluh darah.

4. Pendarahan Retina

Pendarahan retina atau pendarahan di bagian belakang mata sebenarnya umum terjadi pada bayi baru lahir.

Penyebab dari kondisi ini diduga akibat tekanan pada kepala bayi saat melewati jalan lahir. Kondisi ini biasanya tidak serius dan dapat hilang dengan cepat tanpa menimbulkan komplikasi.

5. Fraktur Tengkorak

Pendarahan di sekitar otak terkadang disertai dengan fraktur tengkorak. Terdapat beberapa klasifikasi fraktur tengkorak meliputi:

  • Linear skull fracture. Fraktur garis rambut tipis yang tidak merusak kepala.
  • Depressed skull fracture. Fraktur yang melibatkan depresi yang aktual pada tulang tengkorak.
  • Occipital osteodiastasis. Jenis fraktur langka yang melibatkan robekan pada jaringan di kepala.

6. Ikterus pada Bayi

Ikterus atau penyakit kuning pada bayi sebenarnya juga merupakan kondisi yang umum terjadi pada bayi baru lahir.

Kondisi ini terjadi ketika bayi memiliki kadar bilirubin yang tinggi dalam darah. Memar yang dapat terjadi akibat penggunaan vakum berpotensi menyebabkan kadar bilirubin dalam darah meningkat. Ikterus biasanya akan membaik dalam waktu dua hingga tiga minggu.

Ekstraksi vakum bertujuan untuk membantu persalinan normal. Perlu diketahui bahwa prosedur ini tidak selalu berhasil. Apabila penggunaan vakum tidak dapat membantu proses kelahiran bayi, dokter biasanya akan menyarankan operasi caesar.

 

Sumber:

  1. Mayo Clinic. 2018. Vacuum extraction. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/vacuum-extraction/about/pac-20395232. (Diakses 11 September 2019)
  2. Masters, Maria. 2019. Vacuum Extraction During Delivery. https://www.whattoexpect.com/pregnancy/labor-and-delivery/procedures-and-interventions/vacuum-extraction.aspx. (Diakses 11 September 2019).
  3. Healthline. 2017. Vacuum-Assisted Delivery: Do You Know the Risks?. https://www.healthline.com/health/pregnancy/risks-vacuum-assisted-delivery. (Diakses 11 September 2019).
  4. Ali, Unzila A dan Errol R Norwitz. 2009. Vacuum-Assisted Vaginal Delivery. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2672989/. (Diakses 11 September 2019).
  5. Putta, Lakshmidevi V dan Jeanne P Spencer. 2000. Assisted Vaginal Delivery Using the Vacuum Extractor. https://www.aafp.org/afp/2000/0915/p1316.html#afp20000915p1316-b4. (Diakses 11 September 2019).





Source link