Makan Steak dengan Kentang Goreng Bersama Bisa Berbahaya?

Makan Steak dengan Kentang Goreng Bersama Bisa Berbahaya?

[ad_1]

steak-doktersehat
Photo Source: Flickr/foilman

DokterSehat.Com– Salah satu jenis menu yang sering kita konsumsi bersamaan adalah steak daging dan kentang goreng. Keduanya bisa menyediakan rasa yang nikmat dan mengenyangkan. Hanya saja, benarkah jika mengonsumsinya bersamaan bisa berbahaya?

Dampak mengonsumsi steak bersama dengan kentang goreng

Mengonsumsi daging dan kentang memang bisa menyediakan sensasi kenikmatan tersendiri. Hanya saja, kedua bahan makanan ini cenderung sulit untuk dicerna oleh perut. Bahkan, saluran pencernaan bisa berjalan dengan jauh lebih lambat jika kita mengonsumsinya bersamaan.

Hal ini disebabkan oleh keberadaan pati di dalam kentang yang membutuhkan enzim khusus untuk mencernanya. Selain itu, di dalam daging terdapat kandungan lemak dan protein yang tinggi, kandungan yang bisa membuat pencernaan berjalan dengan lebih lambat.

Jika mengonsumsi keduanya dengan berlebihan, dikhawatirkan akan memicu sensasi mulas, kembung, perut yang penuh dengan gas, dan akhirnya membuat kita menjadi lebih sering bersendawa.

Beberapa makanan lain yang sebaiknya juga tidak dikonsumsi dengan berlebihan

Pakar kesehatan menyebut ada berbagai jenis makanan lainnya yang sebaiknya juga tidak kita konsumsi secara bersamaan demi mencegah datangnya masalah kesehatan.

Berikut adalah makanan-makanan tersebut.

  1. Roti sandwich dan kopi instan

Banyak orang yang kini terbiasa untuk mengonsumsi roti sandwich saat sarapan. Tak hanya mudah untuk dibuat, sandwich juga bisa mengenyangkan dan menyediakan energi bagi tubuh. Selain itu, kini terdapat banyak sekali penjual sandwich yang bisa ditemui di mana saja. Masalahnya adalah banyak orang yang mengonsumsinya bersamaan dengan kopi instan.

Kopi instan sering dikonsumsi karena bisa menyediakan rasa yang nikmat. Masalahnya adalah minuman ini biasanya memiliki kandungan gula yang sangat tinggi. Ditambah dengan asupan kalori di dalam sandwich yang biasanya juga sudah diberi tambahan daging-dagingan, keju, saus, atau mayones, maka kandungan kalorinya tentu akan sangat tinggi. Terlalu sering mengonsumsinya dikhawatirkan bisa meningkatkan berat badan atau risiko diabetes.

  1. Pasta yang dikombinasikan dengan daging olahan

Banyak orang yang mengonsumsi makanan dari bahan pasta layaknya spaghetti atau macaroni dengan tambahan daging olahan layaknya sosis, kornet, dan daging cincang. Hal ini bisa membuat makanan tersebut memiliki rasa yang sangat nikmat. Sayangnya, keduanya memiliki kadar kalori yang sangat tinggi. Sering mengonsumsinya bersamaan tentu akan bisa menyebabkan datangnya diabetes dan kenaikan berat badan.

  1. Susu dan nanas

Sebenarnya, sangat jarang ada orang yang mengonsumsi susu dan nanas di waktu yang berdekatan, namun terkadang ada yang sengaja mengonsumsi milkshake atau es krim yang diberi potongan nanas. Meski keduanya bisa menyediakan sensasi nikmat dan menyegarkan saat dikonsumsi, pakar kesehatan menyarankan kita untuk tidak mengonsumsi keduanya secara bersamaan.

Susu dan nanas memiliki sifat cenderung asam yang bisa membuat produksi asam lambung meningkat. Hal ini tentu akan membuat sensasi tidak nyaman pada lambung. Selain itu, keberadaan enzim bromelain di dalam nanas disebut-sebut akan kurang baik jika sampai tercampur dengan kandungan susu. Hanya saja, khusus untuk anggapan terakhir pakar kesehatan masih memperdebatkan kebenarannya.

  1. Teh atau kopi ditambah dengan susu

Demi membuatnya menjadi lebih nikmat untuk dikonsumsi, banyak orang yang sengaja mengonsumsi teh atau kopi yang dicampur dengan susu. Masalahnya adalah dibalik kenikmatan yang disediakan campuran minuman ini, terdapat bahaya kesehatan yang mengintai.

Pakar kesehatan menyebut kandungan di dalam teh akan berkurang drastis setelah tercampur dengan kandungan di dalam susu. Bahkan, bisa jadi hal ini akan memicu peningkatan risiko batu ginjal dan memperburuk kondisi kesehatan jantung atau pembuluh darah.

Kandungan kalori dari teh susu atau kopi susu juga sangat tinggi sehingga bisa meningkatkan berat badan atau memicu peradangan yang akhirnya membuat sistem kekebalan tubuh menjadi lebih lemah.



[ad_2]

Source link

AKDSEO