Hipoksia: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi

By | August 20, 2019


DokterSehat.Com – Tubuh memerlukan pasokan oksigen agar bisa menjalankan fungsinya. Untuk menuju jaringan dan sel-sel tubuh, oksigen akan ‘diantar’ oleh darah. Namun, ada suatu kondisi di mana jaringan dan sel-sel tubuh kekurangan pasokan oksigen. Di dalam dunia medis, kondisi seperti ini dikenal dengan istilah hipoksia. Apa itu hipoksia? Apa penyebab hipoksia? Apa ciri dan gejala hipoksia? Bagaimana mengobatinya?

Apa Itu Hipoksia?

Hipoksia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika tubuh mengalami kekurangan pasokan oksigen. Hal ini dimungkinkan oleh kondisi lainnya yang disebut sebagai hipoksemia, yakni kadar oksigen di dalam darah kurang dari angka yang seharusnya. Dua kondisi ini saling berkaitan, sehingga terkadang penggunaan istilah hipoksia sudah cukup untuk menggambarkan keduanya.

Anda dapat dikatakan mengalami hipoksia apabila kadar oksigen di dalam darah berada di bawah angka 60 mm Hg. Pasalnya, kadar darah di dalam oksigen idealnya berada di angka 75-100 mm Hg. Hipoksia harus segera ditangani, karena jika tidak, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan masalah pada organ-organ tubuh.

Penyebab Hipoksia

Hipoksia dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, dan berdasarkan faktor penyebab hipoksia tersebut, gangguan kesehatan ini terbagi ke dalam beberapa jenis.

Berikut adalah jenis hipoksis berdasarkan penyebab hipoksia yang perlu Anda ketahui.

1. Hipoksia Anemik

Kurangnya kapasitas darah yang berdampak pada terganggunya pasokan oksigen menghasilkan jenis hipoksia yang dinamai hipoksia anemik. Penyebab hipoksia ini terjadi apabila:

  • Terkontaminasi racun karbon monoksida (CO)
  • Kekurangan darah (anemia)
  • Penyakit kerusakan sel darah merah (cth: methemoglobinemia)

2. Hipoksia Stagnan

Jenis hipoksia berdasarkan penyebab hipoksia yang selanjutnya adalah hipoksia stagnan. Kondisi yang juga dikenal dengan hipoperfusi ini terjadi oleh karena:

  • Aliran darah dari pembuluh arteri menuju organ terhenti (terjadi pada penderita trombosis arteri atau mengalami luka tembak)
  • Gangguan organ jantung

3. Hipoksia Histotoksik

Masih ingat dengan kasus ‘kopi sianida’ yang sempat menggemparkan publik tanah air beberapa tahun lalu? Seorang wanita tewas setelah menenggak kopi Vietnam yang ternyata sudah dicampur bubuk sianida. Hal ini adalah salah satu contoh dari terjadinya hipoksia histotoksik.

Hipoksia histotoksik adalah jenis hipoksia berdasarkan penyebab hipoksia yakni gangguan pada sel tubuh ketika menggunakan oksigen. Keracuna sianida adalah penyebab mengapa sel tubuh bisa mengalami gangguan tersebut.

4. Hipoksia Hipoksik

Penyebab hipoksia yang satu ini terjadi saat kadar oksigen yang ada di dalam pembuluh arteri mengalami penurunan. Hal ini dimungkinkan oleh sejumlah kondisi, seperti:

  • Penyakit paru-paru (edema paru, asma, sleep apnea, penyakit paru obstruktif kronis, pneumonia, pneumothorax, kanker paru)
  • Berada di tempat minim oksigen (puncak gunung, lokasi kebakaran, dalam air)
  • Penggunaan obat-obatan pemicu henti napas, seperti

Sejumlah faktor risiko juga turut andil dalam menyebabkan seseorang mengalami hipoksia, yaitu:

  • Polusi udara
  • Paparan zat kimia
  • Paparan asap rokok
  • Gangguan organ kardiovaskular dan respirasi

Ciri dan Gejala Hipoksia

Hipoksia—atau hipoksemia—dapat dikenali dari sejumlah ciri dan gejala. Beberapa ciri dan gejala hipoksia yang dimaksud meliputi:

  • Peningkatan detak jantung
  • Napas pendek dan terengah-engah
  • Napas berbunyi
  • Leher seperti tercekik
  • Tubuh berkeringat
  • Perubahan warna kulit menjadi merah ceri atau kebiruan (tergantung penyebab hipoksia)
  • Lemas
  • Linglung
  • Gelisah
  • Hilang kesadaran

Ciri dan gejala di atas mungkin saja menjadi pertanda Anda mengalami hipoksia, namun mungkin juga tidak. Segera periksakan diri ke dokter untuk memastikan kondisi Anda tersebut agar bisa dilakukan penanganan medis lebih lanjut.

Diagnosis Hipoksia

Untuk memastikan kondisi hipoksia yang Anda alami, sekaligus mencari tahu penyebabnya guna menentukan langkah pengobatan yang sesuai, dokter memerlukan sejumlah prosedur pemeriksaan atau diagnosis, yang terdiri dari:

1. Anamnesis

Pasien akan diminta untuk menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan oleh dokter terkait keluhan yang dialami.

  • Sudah berapa lama kondisi ini berlangsung?
  • Apa saja yang dirasakan?
  • Apakah memiliki riwayat penyakit lain?
  • Apa saja aktivitas yang dilakukan sehari-hari?
  • Apakah mengonsumsi obat-obatan tertentu?

2. Pemeriksaan Fisik

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik seperti:

  • Pemeriksaan tekanan darah
  • Pemeriksaan detak jantung
  • Pemeriksaan warna kulit
  • Pemeriksaan berat badan
  • Pemeriksaan tinggi badan
  • Pemeriksaan suhu tubuh

3. Pemeriksaan Penunjang

Dokter juga akan melakukan prosedur pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis penyakit hipoksia, yaitu:

  • Pengambilan sampel darah untuk menganalisis kadar gas darah
  • Pemeriksaan kadar oksigen di dalam darah dengan menggunakan alat pulse oximetry yang dipasangkan pada telinga dan jari
  • Pemeriksaan paru-paru
  • Pemeriksaan kadar karbon monoksida atau sianida

Pengobatan Hipoksia

Setelah didiagnosis menderita hipoksia, maka pasien harus segera melakukan perawatan khusus di rumah sakit, utamanya untuk mengembalikan kadar oksigen ke jumlah normal, dengan cara mengatasi penyebab hipoksia tersebut.

Cara mengatasi hipoksia yang umum dilakukan adalah:

  • Terapi Oksigen Hiperbarik (TOHB), yakni menempatkan pasien di dalam ruang bertekanan tinggi (hiperbarik) yang di dalamnya berisi oksigen murni. Terapi ini dilakukan pada penderita hipoksia akibat keracunan karbon monoksida
  • Alat bantu napas, yakni memasangkan alat bernama ventilator untuk memperlancar saluran pernapasan. Ventilator dipasangkan dari tenggorokan sampai pita suara
  • Oksigen tambahan, yakni memasangkan alat khusus (bisa berupa masker atau selang) sebagai medium pemasok oksigen tambahan yang berasal dari tabung oksigen

Selain itu, dokter juga mungkin akan menyarankan pasien untuk menggunakan alat bantu lainnya seperti inhaler untuk membantu pernapasan. Sementara itu, obat steroid diberikan untuk mencegah peradangan (inflamasi) pada paru-paru.

Penanganan medis yang dilakukan sedini mungkin bertujuan untuk mencegah terjadinya kerusakan pada jaringan tubuh. Oleh sebab itu, jangan menunda-nunda untuk menemui dokter Anda apabila merasakan gejala hipoksia.

Pencegahan Hipoksia

Gaya hidup cukup berperan penting terhadap potensi hipoksia. Oleh karenanya, menerapkan gaya hidup sehat menjadi cara mengatasi dan mencegah hipoksia yang paling utama. Gaya hidup sehat yang dimaksud meliputi:

  • Tidak merokok
  • Menghindari paparan asap rokok
  • Menghindari polusi udara
  • Makan makanan bergizi secara teratur
  • Olahraga
  • Isitirahat cukup

Bahaya Hipoksia

Hipoksia yang tidak segera ditangani akan berdampak buruk pada kesehatan tubuh secara keseluruhan. Pasalnya, oksigen memiliki peran vital dalam menjaga jaringan dan sel-sel tubuh agar tetap berfungsi sebagaimana mestinya.

Beberapa bahaya penyakit hipoksia jika tidak ditangani sedini mungkin adalah:

  • Pneumonia
  • Kerusakan organ kardiovaskular (otak dan jantung)
  • Kerusakan hati (liver)
  • Kejang
  • Perubahan perilaku
  • Kematian

Itu dia informasi mengenai penyakit hipoksia yang perlu Anda ketahui. Jangan sungkan untuk berkonsultasi kepada dokter untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai penyakit ini. Semoga bermanfaat!

 

Sumber:

  1. Cafaro, Ross P. (1960). Hypoxia: Its causes and symptoms. J Am Dent Soc Anesthesiol, Apr; 7(4): 4–8. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2067517/ [diakses pada 20 Agustus 2019]
  2. Eltzschig, HK. Carmeliet, P. (2011). Hypoxia and Inflammation. New England Journal of Medicine, 364(7), pp. 656-665. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21323543 [diakses pada 20 Agustus 2019]
  3. Davis, Charles P, MD, Ph.D. Hypoxia and Hypoxemia. MedicineNet. https://www.medicinenet.com/hypoxia_and_hypoxemia/article.htm [diakses pada 20 Agustus 2019]
  4. Hypoxia and Hypoxemia. WebMD. https://www.webmd.com/asthma/guide/hypoxia-hypoxemia#1 [diakses pada 20 Agustus 2019]





Source link