Hepatitis E: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dll

Hepatitis E: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dll

[ad_1]

hepatitis-E-doktersehat

DokterSehat.Com – Penyakit yang merujuk pada peradangan hati dikenal dengan sebutan hepatitis. Pada umumnya, hepatitis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi, meski begitu terdapat kondisi lain yang bisa menyebabkan hepatitis. Jenis hepatitis yang umum menyerang manusia adalah jenis A, B, dan C. Selain ketiga jenis tersebut, faktanya terdapat jenis hepatitis yang tidak kalah berbahaya yaitu hepatitis E.

Apa Itu Hepatitis E?

Sebelum membahas penyakit hepatitis E lebih jauh, perlu Anda ketahui bahwa hepatitis yang terjadi bisa bersifat akut maupun kronis. Seseorang yang mengalami hepatitis akut dapat memberikan beragam gejala dan yang paling parah adalah berkembang menjadi gagal hati

Jika berkembang menjadi hepatitis kronis, hal itu dapat menyebabkan sirosis dan kanker hati (hepatocellular carcinoma) dalam kurun waktu tahunan. Lantas, bagaimana dengan hepatitis E?

Penyakit hepatitis E disebabkan oleh virus hepatitis E (HEV). Hepatitis E mudah terjadi pada lingkungan yang tidak memiliki sanitasi yang baik, akibat kontaminasi virus hepatitis E pada sumber air.

Virus hepatitis E yang menginfeksi hati bisa menyebabkan organ tersebut membengkak. Tidak seperti jenis hepatitis yang lain, hepatitis E bukanlah penyakit jangka panjang yang menyebabkan kerusakan hati. Namun, hepatitis E bisa berbahaya bagi wanita hamil atau siapa pun dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, termasuk orang tua atau orang yang sakit.

Penyebab Hepatitis E

Penularan dari hepatitis E hampir sama dengan hepatitis A. Virus bisa masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Bahan makanan yang dicuci di air yang terkontaminasi feses penderita hepatitis E bisa memicu penularan yang cepat dan instan.

Anda juga bisa terkena hepatitis E jika makan daging yang kurang matang dari hewan yang terinfeksi. Pada kasus yang jarang terjadi, bahkan Anda bisa mendapatkan virus dari kerang mentah yang berasal dari air yang tercemar.

Selanjutnya, penularan hepatitis E ini juga bisa terjadi melalui transfusi darah. Seorang ibu hamil yang terinfeksi juga akan menurunkan penyakit hepatitis pada janin. Mengingat virus bisa dengan mudah menyebar, seseorang disarankan untuk tidak datang ke lingkungan kotor khususnya di wilayah yang pernah mengalami pandemi.

Selain dari makanan dan transfusi darah, aktivitas seks yang tidak aman mulai dari anal, vaginal, hingga oral juga bisa menyebabkan penularan penyakit. Oleh karena itu, seks dengan orang yang berpotensi memiliki hepatitis E sangat dilarang kalau tidak memakai kondom.

Penyebaran Hepatitis E

Infeksi hepatitis E dapat ditemukan di seluruh dunia. Namun, terdapat dua pola berbeda bagaimana penyebaran hepatitis E. Dua pola berbeda diamati, di mana hepatitis E ditemukan yaitu: permukiman yang miskin dengan sumber airnya terkontaminasi dan daerah dengan persediaan air minum yang aman.

Penyakit hepatitis ini biasa terjadi di negara yang terbatas sumber daya dengan akses terbatas ke air bersih, sanitasi, kebersihan, dan layanan kesehatan. Di daerah-daerah ini, hepatitis E terjadi seperti wabah maupun sebagai kasus sporadis.

Penyebaran wabah ini terjadi di daerah konflik dan keadaan darurat kemanusiaan, seperti zona perang, atau di kamp-kamp untuk pengungsi. Sementara kasus sporadis juga diyakini terkait dengan kontaminasi air atau makanan, meskipun pada skala yang lebih kecil. Kasus-kasus di daerah ini sebagian besar disebabkan oleh infeksi virus genotipe 1, dan jauh lebih jarang oleh virus genotipe 2.

Sementara itu, di daerah dengan sanitasi dan pasokan air yang lebih baik, penyakit hepatitis E jarang terjadi, hanya kasus sporadis sesekali ditemukan. Sebagian besar kasus ini disebabkan oleh virus genotipe 3, dan disebabkan oleh infeksi virus yang berasal dari hewan, biasanya melalui konsumsi daging hewan yang kurang matang (termasuk hati hewan) dan tidak terkait dengan kontaminasi air atau makanan lain.

Gejala Hepatitis E

Sebelum mengenali gejala hepatitis E, hal penting yang perlu Anda ketahui adalah masa inkubasi setelah pajanan virus hepatitis E berkisar antara 2 hingga 10 minggu, dan biasanya berlangsung rata-rata 5-6 minggu.

Di daerah dengan endemi penyakit yang tinggi, infeksi simtomatik paling umum terjadi pada orang dewasa muda berusia 15-40 tahun. Di daerah-daerah ini, walaupun infeksi memang terjadi pada anak-anak, sering kali gejala hepatitis E tidak memiliki gejala atau hanya penyakit ringan tanpa penyakit kuning yang tidak terdiagnosis.

Secara umum gejala dari hepatitis E terdiri dari:

  • Kulit tubuh mengalami perubahan warna menjadi kuning. Seperti hepatitis kebanyakan, kondisi jaundice ini juga muncul dan bisa digunakan sebagai tanda paling mudah.
  • Urine yang keluar dari tubuh akan memiliki warna yang lebih gelap dan juga pekat.
  • Penurunan nafsu makan yang berlebihan. Kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja sehingga penurunan berat badan secara signifikan bisa terjadi.
  • Persendian di tubuh terasa sakit dan tidak nyaman.
  • Hati yang ada di perut mengalami pembengkakan yang abnormal. Pembengkakan ini menekan perut dan menimbulkan rasa tidak nyaman.
  • Rasa nyeri di perut bagian bawah.
  • Mual dan perasaan ingin muntah yang terus muncul setiap hari.
  • Gagal hati kronis.
  • Demam yang datang setiap hari.
  • Sering merasakan lelah berlebihan padahal tidak sedang melakukan aktivitas berat seperti olahraga.
  • Kotoran berwarna terang

Beberapa gejala-gejala di atas sering kali tidak dapat dibedakan dengan yang dialami penyakit hati lainnya dan biasanya berlangsung antara 1-6 minggu.

Dalam kasus yang jarang, hepatitis E akut bisa mengakibatkan fulminant hepatitis (gagal hati akut). Fulminant hepatitis lebih sering terjadi pada penderita hepatitis E yang sedang memasuki masa kehamilan.

Wanita hamil dengan hepatitis E–terutama mereka yang pada trimester kedua atau ketiga–berisiko mengalami peningkatan terhadap gagal hati akut, kehilangan janin, dan kematian. Angka kematian kasus setinggi 20-25% telah dilaporkan di antara wanita hamil pada trimester ketiga.

Kasus-kasus infeksi hepatitis E kronis telah dilaporkan pada orang-orang yang tertekan kekebalannya, khususnya penerima transplantasi organ pada obat-obat imunosupresif, dengan infeksi genotipe 3 atau 4 HEV.

Diagnosis Hepatitis E

Dokter akan menanyakan riwayat kesehatan Anda dan perincian tentang gejala yang dialami. Beri tahu dokter tentang aktivitas terakhir yang dilakukan. Dokter akan menggunakan tes darah atau tes feses untuk mendiagnosis hepatitis E.

Tes ini sangat diperlukan di daerah di mana hepatitis E jarang terjadi, dan dalam kasus dengan infeksi hepatitis E kronis.

Pengobatan Hepatitis E

Berikut ini adalah cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi kondisi hepatitis E. Pengobatan hepatitis E yang pertama adalah dengan obat resep dokter. Obat ini digunakan untuk mengurangi jumlah virus di dalam darah hingga 30 persen. Selanjutnya pasien juga akan mengalami terapi ribavirin minimal 3 bulan.  Dalam beberapa situasi tertentu, interferon juga telah berhasil digunakan.

Meski begitu, tidak ada pengobatan khusus yang mampu mengubah perjalanan hepatitis E akut. Karena penyakit ini biasanya sembuh sendiri, rawat inap umumnya tidak diperlukan. Namun, rawat inap diperlukan untuk orang dengan fulminant hepatitis, dan juga harus dipertimbangkan untuk wanita hamil yang bergejala.

Apabila kondisi hati sudah parah dan tidak bisa diselamatkan lagi, seseorang harus menerima transplantasi hati. Sayangnya mencari donor hati tidak begitu mudah dan biayanya juga cukup tinggi.

Dalam banyak kasus, hepatitis E hilang dengan sendirinya dalam waktu sekitar 4-6 minggu. Langkah-langkah ini dapat membantu meringankan gejala, antara lain:

  • Beristirahat.
  • Konsumsi makanan sehat.
  • Minum banyak air.
  • Hindari konsumsi minuman beralkohol.

Pencegahan Hepatitis E

Selain karena belum ditemukannya vaksin yang dapat mencegah virus hepatitis E, karenanya pengobatan hepatitis E terbilang sulit dan panjang. Oleh karena itu, ada baiknya Anda melakukan pencegahan agar virus hepatitis E tidak masuk ke tubuh. Cara yang bisa dilakukan meliputi.

  • Memasak makanan hingga matang.
  • Selalu mencuci tangan dengan sabun.
  • Hindari konsumsi es batu yang tidak bersumber dari air yang bersih.
  • Tidak melakukan kontak fisik dengan penderita.
  • Menghindari daerah yang pernah mengalami pandemi hepatitis E.
  • Melakukan seks dengan aman setiap saat.



[ad_2]

Source link

AKDSEO