Hepatitis D: Penyebab, Gejala, Penularan, Obat, dll

By | July 8, 2019


DokterSehat.Com – Ada lima jenis tipe hepatitis. Mungkin Anda sering mendengar hepatitis A, B, dan C, namun bagaimana dengan hepatitis D? Hepatitis D adalah tipe hepatitis yang kurang akrab di telinga masyarakat karena jarang disebut.

Meskipun demikia, tipe penyakit hepatitis ini tidak bisa diremehkan. Oleh karena itu, ketahui lebih lanjut penyebab, cara penularan hepatitis D, gejala hepatitis D, diagnosis, komplikasi, pengobatan, dan pencegahan infeksi hepatitis D!

Apa itu hepatitis D?

Hepatitis D adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis D

Penyakit hepatitis tipe D ini juga dikenal sebagai Delta Hepatitis. Penderita hepatitis D biasanya juga mengalami atau telah terkena hepatitis B.

Hal ini dikarenakan, virus hepatitis D adalah virus yang tidak lengkap dan memerlukan virus hepatitis B untuk bisa bereplikasi. Hepatitis D bisa terjadi dengan dua cara, yaitu koinfeksi dan super infeksi.

Dikatakan koinfeksi bila pasien tertular hepatitis D dan hepatitis B secara bersamaan. Super infeksi terjadi bila pasien telah mengalami hepatitis B terlebih dahulu lalu berkembang menjadi hepatitis D. Sering kali, hepatitis D terjadi secara super infeksi.

Sebagaimana aneka jenis hepatitis, hepatitis D juga bersifat menular. Penderita hepatitis D telah menyebar ke berbagai negara di dunia, terutama di Amerika Selatan. Infeksi virus hepatitis D akan menyebabkan peradangan hati bahkan gagal hati bila tidak segera ditangani dengan baik.

Tipe hepatitis D

Berdasarkan jangka waktu terjadinya, penyakit hepatitis D terdiri dari dua jenis. Kedua jenis hepatitis D ini memiliki karakteristik yang berbeda pada bagian tertentu.

Inilah dua jenis tipe hepatitis D:

1. Hepatitis D akut

Hepatitis D akut adalah tipe penyakit hepatitis D jangka pendek.

Tipe ini terjadi secara tiba-tiba dan biasanya memiliki gejala yang lebih parah daripada hepatitis kronis. Pada beberapa kasus, gejala hepatitis D akut hampir sama seperti gejala hepatitis tipe lain.

2. Hepatitis D kronis

Infeksi hepatitis D kronis terjadi apabila seseorang mengalami infeksi hepatitis D selama 6 bulan atau lebih. Pada kondisi kronis, hepatitis D bisa meningkatkan komplikasi terjadinya sirosis hati.

Penyebab hepatitis D

Hepatitis D disebabkan oleh virus hepatitis D. Virus tersebut bersifat menular jika Anda melakukan kontak langsung dengan cairan tubuh pasien yang terinfeksi. Anda akan mengalami infeksi hepatitis D jika secara bersamaan terinfeksi virus hepatitis B.

Beberapa faktor risiko mengalami hepatitis D yaitu:

  • Riwayat hepatitis B
  • Gagal menjalani pengobatan dan pencegahan hepatitis B
  • Pecandu narkoba (yang disuntik)
  • Pekerja seks komersial
  • Seks bebas atau berhubungan intim dengan penderita hepatitis D atau B
  • Menjalani terapi obat suntik atau intravena
  • Menerima transfusi darah
  • Kontak dengan imigran dari negara dengan prevalensi hepatitis D tinggi

Cara penularan hepatitis D

Cara penularan hepatitis D sama seperti penularan hepatitis B, yakni melalui kontak dengan cairan tubuh penderita. Beberapa cairan tubuh yang bisa membuat seseorang tertular hepatitis D adalah darah, cairan vagina, air mani (sperma), dan air seni.

Hepatitis D juga bisa terjadi dari ibu ke anak selama proses persalinan. Namun, meskipun telah terpapar hepatitis D, seseorang baru terinfeksi virus hepatitis D ini jika sudah terinfeksi virus hepatitis B.

Gejala hepatitis D

Penyakit hepatitis D memiliki beberapa gejala walaupun pada beberapa kasus bisa bersifat asimptomatik (tanpa disertai gejala). Gejala hepatitis D mirip seperti hepatitis B, sehingga sulit dibedakan.

Gejala hepatitis D yang umum terjadi dan perlu diwaspadai:

  • Demam
  • Mual dan muntah
  • Sakit perut
  • Sering merasa lelah
  • Nafsu makan berkurang bahkan tidak merasa lapar
  • Mengalami ikterus (kulit dan mata menguning)
  • Perubahan warna urin menjadi gelap
  • Perubahan warna feses menjad pucat
  • Nyeri otot dan sendi
  • Ruam kulit

Orang yang telah mengalami gejala hepatitis D bisa mengalami gejala hepatitis B yang lebih buruk dari sebelumnya. Penderita hepatitis B yang sebelumnya tidak disertai gejala bisa muncul gejalanya bila gejala hepatitis D mulai nampak.

Kapan penderita hepatitis D harus ke dokter?

Segeralah melakukan konsultasi dengan dokter jika Anda telah memiliki gejala hepatitis D yang telah disebutkan. Dokter akan melakukan beberapa tindakan untuk menegakkan diagnosis, sehingga Anda bisa melakukan terapi pengobatan secara tepat.

Diagnosis infeksi hepatitis D

Ada beberapa tindakan yang akan dilakukan dokter dalam rangka melakukan penegakkan diagnosis hepatitis D, sehingga hasilnya akurat. Diagnosis akan diawali dengan pengumpulan informasi kesehatan pasien.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik terkait tanda atau gejala hepatitis D yang Anda alami. Tes darah akan dilakukan untuk mendeteksi antibodi hepatitis D. Apabila ditemukan antibodi ini, maka itu berarti Anda telah terpapar virus hepatitis D.

Tes fungsi hati bisa dilakukan jika dokter mencurigai adanya kerusakan hati. Tujuan dari tes tersebut adalah untuk mengevaluasi fungsi hati dengan cara mengukur kadar protein, enzim, dan bilirubin di dalam darah.

Komplikasi hepatitis D

Seseorang yang telah terinfeksi hepatitis D tetapi tidak segera melakukan pengobatan bisa mengalami beberapa komplikasi. Komplikasi hepatitis D akut bisa menyebabkan terjadinya gagal hati tetapi kasus ini jarang terjadi.

Hepatitis D kronis memiliki komplikasi yang lebih kompleks. Komplikasi hepatitis D kronis di antarnaya adlaah sirosis hati, gagal hati, dan kanker hati. Pasien yang terinfeksi hepatitis D dan B memiliki komplikasi yang lebih serius daripada pasien yang hanya terinfeksi hepatitis B.

Cara mengobati hepatitis D

Sampai saat ini, tidak ada obat untuk hepatitis D secara langsung. Pengobatan hepatitis D sering kali bersifat simptomatik. Cara mengobati hepatitis D kronis adalah dengan memberikan obat seperti interferon dan obat hepatitis B.

Cara mencegah penyakit hepatitis D

Cara mencegah hepatitis D yang paling efektif adalah dengan mencegah terjadinya infeksi hepatitis B. Pasalnya, tanpa virus hepatitis B, tidak akan terjadi hepatitis D. Pencegahan hepatitis B dilakukan dengan memberikan vaksin hepatitis B. Selain itu, ini juga bisa dilakukan dengan menghindari faktor risiko hepatitis D.

 

Sumber:

  1. CDC: Hepatitis D. https://www.cdc.gov/hepatitis/hdv/index.htm [diakses pada 8 Juli 2019]
  2. WHO: Hepatitis D. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hepatitis-d [diakses pada 8 Juli 2019]
  3. WebMD: What Is Hepatitis D? https://www.webmd.com/hepatitis/hepatitis-d-overview#1 [diakses pada 8 Juli 2019]
  4. Healthline: Hepatitis D. https://www.healthline.com/health/delta-agent-hepatitis-d [diakses pada 8 Juli 2019]
  5. SAHealth: Hepatitis D – including symptoms, treatment and prevention. https://www.sahealth.sa.gov.au/wps/wcm/connect/public+content/sa+health+internet/health+topics/health+conditions+prevention+and+treatment/infectious+diseases/hepatitis/hepatitis+d+-+including+symptoms+treatment+and+prevention [diakses pada 8 Juli 2019]
  6. NIH: Hepatitis D. https://www.niddk.nih.gov/health-information/liver-disease/viral-hepatitis/hepatitis-d [diakses pada 8 Juli 2019]
  7. ClevelandClinic: Hepatitis D. https://www.clevelandclinicmeded.com/medicalpubs/diseasemanagement/hepatology/hepatitis-D/ [diakses pada 8 Juli 2019]





Source link