Clomid untuk Pria: Dosis, Manfaat, Efek Samping, dll.

By | June 29, 2019


DokterSehat.Com – Tidak semua pasangan mendapatkan nasib baik bisa segera mendapatkan momongan begitu menikah. Beberapa harus terus berusaha dan menunggu cukup lama. Nah, kalau pasangan susah mendapatkan keturunan karena masalah kesuburan, biasanya ada salah satu obat yang bisa digunakan untuk meningkatkan hal itu, namanya Clomid dan digunakan oleh wanita.

Clomid untuk pria

Sebenarnya Clomid adalah obat yang digunakan untuk meningkatkan kesuburan dari wanita. Fungsinya untuk membuat hormon di dalam tubuh menjadi lebih seimbang dan mempromosikan ovulasi. Kalau wanita bisa ovulasi dengan baik, kemungkinan terjadi pembuahan akan menjadi sangat besar.

Kalau Clomid digunakan oleh pria, yang terjadi adalah blokade estrogen untuk berinteraksi dengan kelenjar pituitari. Kalau blokade ini tidak terjadi, estrogen yang juga muncul di tubuh pria bisa menurunkan kadar hormon LH dan juga FSH. Dua hormon ini sangat penting untuk memproduksi atau memicu peningkatan testosteron.

Apabila pria mengonsumsi Clomid ke dalam tubuhnya, yang akan terjadi adalah peningkatan LH dan FSH Dua hormon itu akan menaikkan testosteron di dalam tubuh dan meningkatkan jumlah dari sperma. Kalau sperma yang terbentuk banyak, kemungkinan terjadi pembuahan akan besar.

Dosis Clomid untuk pria

Karena sejatinya Clomid digunakan untuk wanita, dosis untuk pengonsumsiannya belum diketahui. Namun, pria bisa menggunakan Clomid dengan dosis mulai dari 12,5 sampai 400 mg setiap harinya.

Dokter biasanya merekomendasikan dosis sebesar 25 mg terlebih dahulu selama 3 hari berturut-turut. Selanjutnya bisa dinaikkan dengan perlahan sampai pada 50 mg per hari. Pembatasan ini dilakukan untuk berjaga-jaga kalau Clomid justru memiliki efek negatif pada tubuh pria khususnya dalam produksi sperma.

Kapan Clomid diresepkan untuk pria?

Meski Clomid bisa didapatkan dengan menggunakan resep, kita tidak boleh sembarangan saat menggunakannya. Biasanya pria dengan level testosteron di dalam tubuhnya di bawah rata-rata atau rendah bisa menggunakannya. Selain itu beberapa kondisi di bawah ini juga membuat pria bisa menggunakan Clomid.

  • Mengalami gangguan atau luka di testis. Organ yang berada di dalam kantung zakar ini adalah sumber produksi testosteron dan sperma. Kalau terjadi luka di sana entah karena penyakit atau mengalami kecelakaan, Anda akan susah menghasilkan hormon testosteron dan sperma.
  • Penurunan testosteron pada pria juga bisa terjadi karena usianya semakin menanjak. Umumnya pria yang sudah berusia 30 tahun ke atas akan kerap mengalami penurunan kadar testosteron sebanyak 1% per tahunnya.
  • Kelebihan berat badan atau obesitas. Beberapa pria yang mengalami kelebihan berat badan kerap mengalami penurunan kualitas sperma. Hal ini terjadi karena produksi testosteron di dalam tubuh juga terhambat.
  • Penggunaan alkohol yang berlebihan dan juga merokok. Dua hal ini adalah masalah besar pada pria yang hendak menginginkan momongan. Kesuburan yang dimiliki bisa menurun dengan mudah karena masalah ini.
  • Terjadi ketidakseimbangan hormon di dalam tubuh. Di dalam tubuh pria masih terdapat estrogen meski tidak sebanyak testosteron. Pada kondisi tertentu, jumlah estrogen ini jauh lebih banyak dan menyebabkan fungsi dari testosteron ikut anjlok.
  • Memiliki penyakit tertentu dan cukup kronis. Penyakit itu terdiri dari diabetes hingga penyakit autoimun.
  • Pernah mengalami terapi kanker seperti kemoterapi dan radiasi, khususnya di area yang dekat sekali dengan testis.
  • Varikokel atau pembesaran pembuluh darah yang ada di testis. Pembesaran pembuluh darah ini menyebabkan beberapa masalah seperti sering nyeri saat berjalan, duduk, dan berhubungan seks. Kondisi varikokel juga menyebabkan produksi sperma dari testis menurun.

Efek samping Clomid pada pria

Clomid diciptakan untuk wanita agar mereka jadi lebih subur dan ovulasi berjalan dengan baik. Kalau digunakan oleh pria, ada kemungkinan efek samping yang akan didapatkan. Berikut beberapa hal yang harus diwaspadai.

  • Otot di dada jadi agak mengendur dan tidak keras. Area dada pria berbeda dengan wanita karena lebih banyak otot dari lemak. Jadi, kemungkinan dada agak anjlok ke bawah dan nyeri saat disentuh akan besar.
  • Pria akan jadi mudah tersinggung karena mood akan mengalami cukup banyak berubah. Kondisi ini mungkin akan mirip dengan wanita yang mengalami PMS.
  • Wajah akan menjadi penuh dengan jerawat dan agak susah diatasi. Jerawat yang muncul di wajah ini merupakan jerawat hormonal karena Clomid yang digunakan memang menyebabkan hormon di tubuh termanipulasi.
  • Kalau pria ada bakar kanker prostat di dalam tubuhnya, kemungkinan besar akan sekali mudah tumbuh. Kalau tidak ada sel kanker sama sekali, kemungkinan ini akan rendah.
  • Kemungkinan besar akan menyebabkan masalah penglihatan karena ada pembengkakan di kelenjar pituitari meski sangat langka.

Efektivitas Clomid pada pria

Penggunaan Clomid untuk pria memang belum banyak digunakan karena sifatnya masih alternatif. Kalau beberapa metode susah dilakukan atau tidak juga memberikan efek yang besar, Clomid bisa dijadikan alternatif untuk meningkatkan testosteron dan juga sperma yang dihasilkan oleh pria.

Dari studi yang masih terbatas, sampel pria yang menggunakan Clomid dan ditambah vitamin E menunjukkan jumlah sperma yang jauh lebih banyak. Dengan jumlah sperma yang banyak ini kemungkinan terjadi pembuahan akan jauh lebih besar. Oleh karena ini di masa depan Clomid diharapkan bisa jadi alternatif.

Oh ya, perlu diketahui juga, sperma yang banyak belum tentu tanda dari kesuburan. Karena kita juga harus memahami kualitas dari sperma itu sendiri mulai dari jumlah yang memiliki ukuran normal hingga motilitasnya.

Inilah beberapa ulasan tentang penggunaan Clomid pada pria dan efektivitasnya dalam meningkatkan kesuburan tubuh. Kalau Anda merasa tidak dalam kondisi subur, Clomid mungkin bisa digunakan selain metode lain yang lebih alami. Kalau metode alami tidak berhasil, Clomid mungkin bisa dipakai, tapi harus sesuai dengan resep dokter yang Anda miliki.

 





Source link