Category Archives: Syaraf dan Kejiwaan

10 Penyebab Bunuh Diri yang Perlu Diwaspadai

DokterSehat.Com – Seseorang yang memiliki perasaan ingin bunuh diri biasanya selalu diliputi perasaan negatif dalam jangka waktu yang lama. Kondisi ini membuatnya tidak melihat pilihan lain selain bunuh diri. Padahal, dengan perawatan dan dukungan yang tepat, serta mengetahui penyebab bunuh diri, seseorang yang diliputi perasaan negatif bisa melanjutkan hidup menjadi lebih baik. Jika Anda membaca artikel ini karena merasa ingin bunuh diri, penting bagi Anda untuk segera mencari bantuan ke psikolog atau psikiater.

Penyebab Bunuh Diri

Perlu diketahui, bahwa penyebab orang bunuh diri memiliki banyak alasan. Salah satu alasan yang paling sering menjadi alasan bunuh diri adalah ketika seseorang dihadapkan pada masalah yang tampaknya tidak bisa diselesaikan.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko bunuh diri adalah gangguan kesehatan mental seperti bipolar, skizofrenia, gangguan kecemasan, dan gangguan kepribadian. Namun, dari banyak kasus yang pernah terjadi, penyebab bunuh diri tidak selalu terkait dengan masalah mental.

Berikut ini adalah beberapa penyebab bunuh diri yang harus diwaspadai, di antaranya:

1. Kondisi Kesehatan Mental

Kondisi kesehatan mental adalah faktor risiko yang paling tinggi dari penyebab bunuh diri. Diperkirakan 90% orang yang mencoba bunuh diri memiliki satu atau lebih kondisi kesehatan mental. Kondisi kesehatan mental yang mengarah pada risiko bunuh diri, antara lain:

Depresi berat adalah ketika seseorang memiliki gejala putus asa sampai mengganggu aktivitasnya sehari-hari. Orang dengan depresi berat 20 kali lebih mungkin untuk mencoba bunuh diri.

Penyebab bunuh diri berikutnya yaitu adanya gangguan bipolar. Sekitar 1 dari 3 orang dengan gangguan bipolar akan mencoba bunuh diri setidaknya satu kali. Sementara 1 dari 10 orang dengan kondisi ini akan mengakhiri hidupnya.

Skizofrenia adalah kondisi kesehatan mental jangka panjang yang menyebabkan halusinasi (melihat atau mendengar hal-hal yang tidak nyata), delusi (percaya pada hal-hal yang tidak benar) dan perubahan perilaku. Diperkirakan 1 dari 20 orang dengan skizofrenia akan melakukan tindakan bunuh diri.

Penyebab bunuh diri ini paling

Read the rest

Bunuh Diri: Penyebab, Gejala, Cara Mencegahnya

DokterSehat.Com – Entah sudah berapa banyak orang yang memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri alias bunuh diri akibat didera masalah yang tak kunjung berhenti. Bunuh diri tentu saja tidak dibenarkan. Lantas, apa yang menjadi penyebab seseorang ingin bunuh diri? Bagaimana cara mencegah percobaan bunuh diri?

Pengertian Bunuh Diri

Bunuh diri adalah suatu tindakan seseorang untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Guna mencapai “tujuannya” tersebut ada berbagai cara bunuh diri yang ditempuh oleh para pelaku mulai dari memotong urat nadi, minum racun serangga, mengonsumsi obat melebihi dosis, hingga menggunakan senjata api dan menabrakkan diri ke kendaraan yang tengah melintas.

Bunuh diri adalah kasus yang marak terjadi, contohnya di Amerika Serikat. Bahkan, bunuh diri menempati peringkat ke-10 dari penyebab kematian di negara tersebut. Data dari American Foundation of Suicide Prevention menunjukkan tak kurang dari 47 ribu warga negeri Paman Sam meregang nyawa akibat bunuh diri.

Penyebab Bunuh Diri

Bukan tanpa alasan mengapa seseorang melakukan percobaan bunuh diri. Secara garis besar,  ada 6 (enam) penyebab bunuh diri yang paling utama. Apa saja itu? Berikut informasinya.

1. Depresi

Depresi adalah penyebab bunuh diri yang paling utama. Ya, keinginan untuk mengakhiri hidup kerap kali dipicu oleh depresi berkepanjangan yang dialami seseorang.

Ada banyak sekali kondisi yang pada akhirnya membuat seseorang menjadi depresi, misalnya:

  • Putus cinta
  • Kehilangan anggota keluarga atau orang terdekat
  • Kehilangan pekerjaan
  • Kesulitan ekonomi
  • Terkena kasus pidana
  • Menjadi korban perundungan (bullying)
  • Mengalami trauma mendalam (kekerasan seksual dsb.)

Akibat masalah yang dihadapi tak kunjung usai dan justru semakin memburuk, seseorang menganggap bunuh diri sebagai satu-satunya jalan keluar. Ia menganggap bahwa kehadirannya di dunia ini sudah tidak ada artinya lagi, bahkan di mata orang-orang terdekatnya.

2. Tidak Ada yang Peduli Terhadap Dirinya

Saat seseorang mengalami depresi dan butuh dukungan, motivasi, maupun jenis pertolongan lainnya namun tidak ada satupun yang peduli, saat itu jugalah potensi untuk melakukan percobaan

Read the rest

Stockholm Syndrome, Ketika ‘Benci Menjadi Cinta’

DokterSehat.Com – Anda pernah mendengar istilah Stockholm syndrome? Ada sejumlah kasus terkenal di dunia ini yang kerap dikaitkan dengan fenomena tersebut. Lantas, apa itu Stockholm syndrome? Mengapa seseorang bisa mengalami Stockholm syndrome?

Ketahui lebih lanjut mengenai Stockholm syndrome atau sindrom Stockholm berikut ini!

Apa Itu Stockholm Syndrome?

Stockholm syndrome adalah anomali respons psikologis pada korban penculikan, tawanan, dan sejenisnya. Dikatakan anomali karena korban menunjukkan respons psikologis ‘tidak biasa’ yakni empati kepada sang pelaku. Pada sejumlah kasus, korban penculikan bahkan merasa jatuh cinta kepada orang yang telah menculiknya dan tidak senang jika sang pelaku mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain.

Lambat laun, fenomena Stockholm syndrome konteksnya semakin meluas tak hanya  pada korban penculikan namun juga mereka—terutama wanita—yang tetap ‘bertahan’ dengan pasangan yang kerap melakukan tindak kekerasan baik kekerasan verbal maupun kekerasan fisik.

Sejarah Stockholm Syndrome

Istilah Stockholm syndrome pertama kali diperkenalkan oleh seorang kriminolog sekaligus psikologis  bernama Nils Bejerot.

Penamaan Stockholm syndrome ini berdasarkan pada peristiwa perampokan bank yang terjadi di Stockholm, Swedia pada tahun 1973. Seorang perampok bernama Jan-Erik Olsson menyandera empat pegawai bank KreditBanken selama 6 hari dan menyekap mereka di ruang penyimpanan uang (vault).

Menariknya, pasca terbebas dari penculikan berkat  tim kepolisian, keempat pegawai bank tersebut justru membuat pengakuan yang mengejutkan!

Ya, alih-alih benci mereka justru merasa empati terhadap  Jan-Erik Olsson. Dikatakan bahwa relasi mereka dengan pelaku selama disekap juga terbilang “baik”. Keempatnya bahkan menolak untuk dihadirkan sebagai saksi memberatkan pada persidangan Jan-Erik dan rekannya Clark Olofsson.

Dari sinilah istilah Stockholm syndrome atau sindrom Stockholm  bermula. Psikolog Frank Ochberg yang tertarik dengan fenomena ini kemudian memberikan penjelasan pada FBI dan Scotland Yard di decade 1970-an.

Penyebab Stockholm Syndrome

Kok bisa seseorang mengalami yang namanya Stockholm syndrome ini? Bukankah pelaku penculikan atau penyanderaan memperlakukan korbannya secara kasar?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu pasti akan muncul

Read the rest

Distimia: Penyebab, Gejala, Diagnosis, & Pengobatan

DokterSehat.Com – Distimia adalah kondisi yang kadang-kadang disebut sebagai depresi kronis ringan. Saat Anda mengalami distimia, gejala depresi bisa bertahan lama hingga dua tahun atau lebih. Sementara itu, menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, distimia disebut sebagai persistent depressive disorders (PDD).

Apa Itu Distimia?

Distimia adalah adalah bentuk depresi kronis jangka panjang. Seperti jenis depresi lainnya, distimia adalah kondisi yang juga bisa menyebabkan perasaan sedih dan putus asa secara terus menerus.

Distimia adalah gangguan kejiwaan yang bisa memengaruhi suasana hati, perilaku, serta fungsi fisik, termasuk nafsu makan dan kualitas tidur. Akibatnya, orang dengan gejala distimia ini sering kehilangan minat dalam melakukan kegiatan yang pernah mereka nikmati dan mengalami kesulitan menyelesaikan tugas sehari-hari.

Meski gejala-gejala ini bisa terlihat pada semua bentuk depresi, namun pada distimia, gejalanya tidak terlalu parah namun lebih bertahan lama. Distimia adalah gangguan kejiwaan yang serius dan bukan termasuk depresi “minor”. Selain itu, distimia juga bukan suatu kondisi perantara antara depresi berat dengan depresi dalam pengertian umum.

Dalam beberapa kasus, distimia lebih melumpuhkan daripada depresi berat. Namun, distimia sangat mirip dengan depresi berat sehingga penyelidikan lebih lanjut perlu dilakukan untuk membedakan distimia dari depresi berat.

Lebih dari setengah penderita distimia akhirnya mengalami episode depresi berat, dan sekitar setengah dari pasien yang dirawat karena depresi berat menderita depresi ganda. Banyak pasien yang sembuh sebagian dari depresi berat juga memiliki gejala yang lebih ringan yang bertahan selama bertahun-tahun. Jenis depresi kronis ini sulit dibedakan dengan distimia.

Penyebab Distimia

Hingga kini penyebab distimia tidak diketahui dengan pasti. Seperti halnya depresi berat, kondisi ini mungkin melibatkan lebih dari satu penyebab, di antaranya:

1. Perbedaan Biologis

Orang dengan distimia mungkin mengalami perubahan fisik pada otaknya. Signifikansi dari perubahan ini masih belum pasti, akan tetapi kondisi ini bisa membantu untuk menentukan penyebab distimia.

2. Zat Kimia Otak

Neurotransmitter adalah bahan kimia di

Read the rest

10 Mitos Skizofrenia – Sama dengan Penyakit Jiwa?

DokterSehat.com – Skizofrenia adalah gangguan mental pada seseorang yang umumnya baru terlihat di masa remaja atau dewasa muda. Ketahui apa itu skizofrenia, gejala, penyebab, cara mengobati, serta mitos dan fakta skizofrenia yang selama ini berkembang di masyarakat.

Apa Itu Skizofrenia?

Skizofrenia adalah gangguan mental kronis dan parah yang menyerang lebih dari 21 juta jiwa di dunia. Skizofrenia adalah dikategorikan dalam penyimpangan cara berpikir, bahasa, pengolahan emosi, perasaan, dan perilaku.

Seseorang yang mengidap Skizofrenia umumnya memiliki halusinasi berlebih seperti melihat hal-hal yang tidak nyata, mendengar suara-suara, dan delusi di dalam pikirannya sendiri juga keyakinan yang tidak umum pada sesuatu.

Mitos Skizofrenia

Skizofrenia sering dianggap sebagai gangguan sakit jiwa di masyarakat karena gejalanya yang terlihat aneh dan membahayakan. Ada banyak sekali mitos skizofrenia yang paling sering beredar di masyarakat.

Berikut ini adalah mitos dan fakta skizofrenia yang wajib Anda ketahui, yaitu:

1. Orang dengan Skizofrenia Membahayakan

Ketika mendengar kata “skizofrenia” yang ada di pikiran masyarakat awam pasti tentang seseorang yang punya kecenderungan membunuh orang atau dirinya sendiri, serta dapat membahayakan orang-orang di sekelilingnya.

Mitos skizofrenia adalah seseorang yang kejam, sadis, dan mampu melakukan hal-hal menakutkan yang tidak dapat diprediksi. Mitos tersebut malah memperburuk kondisi penderita skizofrenia karena mereka jadi merasa semakin buruk, stres, dan penurunan kualitas hidup.

Beberapa penderita skizofrenia memang memiliki kecenderungan melakukan tindak kejahatan, namun umumnya adalah kejahatan non-kekerasan. Fakta skizofrenia adalah hanya 23 persen penderita skizofrenia yang melakukan kejahatan terkait gejala skizofrenia yang mereka idap. Tidak semua penderita skizofrenia berbahaya, kejam, dan sadis.

2. Skizofrenia Memiliki Kepribadian Ganda

Menurut survei dari National Alliance on Mental Illness (NAMI) pada 2008 mengungkapkan bahwa 64 persen responden mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui gejala skizofrenia namun mereka percaya kalau seseorang dengan skizofrenia pasti memiliki kepribadian ganda.

Mitos skizofrenia tersebut adalah salah besar. Faktanya adalah penderita skizofrenia memiliki gejala-gejala skizofrenia yang bisa dikenali dan

Read the rest