Antibiotik Bisa Picu Kanker Usus Besar?

By | August 28, 2019


DokterSehat.Com– Antibiotik adalah salah satu jenis obat yang paling sering digunakan masyarakat Indonesia. Obat ini mudah dikenali karena biasanya diminta untuk dihabiskan meski masalah kesehatan yang kita alami sudah sembuh. Masalahnya adalah belakangan ini ada anggapan yang menyebut konsumsi antibiotik dengan berlebihan bisa meningkatkan risiko terkena kanker usus besar. Apakah anggapan ini benar?

Kaitan antara antibiotik dengan kanker usus besar

Situs Washington Post baru-baru ini merilis hasil dari sebuah penelitian yang dilakukan di Johns Hopkins Kimmel Cancer Center, Bloomberg Kimmel yang menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik haruslah dibatasi. Jika dikonsumsi dengan berlebihan, maka risiko untuk terkena kanker usus besar akan meningkat dengan signifikan.

Penelitian ini menghasilkan fakta bahwa pemberian antibiotik sebaiknya dilakukan dengan lebih cermat dan sesingkat mungkin demi mencegah efek buruk bagi kesehatan.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Jiajia Zhang dan rekan-rekannya juga menghasilkan fakta yang mirip. Dalam penelitian yang mengecek data dari pasien yang ada dalam Clinical Practice Research Datalink (CPRD) dalam kurun waktu 23 tahun ini, disebutkan bahwa ada kaitan antara konsumsi antibiotik dengan lebih dari 28 ribu kasus kanker kolorektal yang muncul dari data tersebut.

“Sepertinya obat ini bisa memberikan dampak yang lebih besar bagi tubuh, termasuk dalam hal menyebabkan datangnya penyakit kronis,” ucap Zhang.

Zhang bahkan menyebut paparan antibiotik mampu membuat risiko kanker usus besar di bagian awal dan tengah usus besar meningkat hingga 15 persen.

“Jika antibiotik dikonsumsi hingga 15-20 hari, maka risiko kanker usus besar bisa naik hingga 8 persen. Jika dikonsumsi lebih dari 30 hari, risikonya bahkan bisa naik hingga 15 persen,” terang Zhang.

Meskipun begitu, penelitian ini juga menyebut konsumsi antibiotik dalam frekuensi yang cukup sering baru akan menyebabkan perkembangan kanker usus besar setelah sepuluh tahun. Paparan antibiotik kurang dari sepuluh tahun disebut-sebut belum akan menyebabkan dampak yang lebih fatal.

Antibiotik tidak bisa kita konsumsi dengan sembarangan

Meski tergolong sebagai obat yang bisa menyembuhkan penyakit, pakar kesehatan menyebut antibiotik tidaklah aman untuk dikonsumsi sembarangan. Karena alasan inilah sebaiknya kita lebih cermat dalam mengonsumsinya.

Sebagai informasi, ada banyak sekali jenis antibiotik yang bisa kita konsumsi. Ada yang berupa obat-obatan minum layaknya tablet, kapsul, atau bahkan sirup, ada juga yang berupa suntikan dan losion. Setiap jenis obat ini disesuaikan dengan kondisi pasien.

Antibiotik biasanya digunakan untuk mengatasi infeksi yang terkait dengan bakteri. Sebagai contoh, infeksi saluran kemih atau pneumonia biasanya akan segera diatasi dengan konsumsi obat-obatan ini. Hal ini berarti, jika kita mengalami masalah kesehatan yang disebabkan oleh virus atau jamur layaknya flu, pilek, atau infeksi kulit, seharusnya tidak perlu mengonsumsi antibiotik.

Dampak dari konsumsi antibiotik sembarangan

Pakar kesehatan menyebut konsumsi antibiotik sembarangan akan menyebabkan beberapa dampak kesehatan yang tidak bisa disepelekan. Berikut adalah beberapa di antaranya.

  1. Demam

Efek samping ini bisa didapatkan setelah mengonsumsi antibiotik, apapun jenisnya. Hanya saja, biasanya antibiotik berjenis sulfonamide, minoskili, ceplafexin, serta beta lactam bisa menyebabkan dampak kesehatan yang lebih buruk.

  1. Gangguan pencernaan

Tidak semua orang mengalaminya, namun ada sebagian pasien yang meminum antibiotik berjenis penisilin, cephalosporin, serta fluorokuinolon yang mengalami gejala berupa gangguan pencernaan layaknya diare dan mual-mual.

  1. Menjadi lebih sensitif dengan sinar matahari

Biasanya efek samping ini akan terjadi setelah kita mengonsumsi antibiotik berjenis tetraskilin. Hanya saja, tidak semua orang akan mengalaminya.

Selain itu, ada beberapa efek samping lain yang bisa didapatkan setelah mengonsumsi antibiotik layaknya peradangan pada bagian tendon, kejang-kejang, masalah pada jantung, hingga munculnya reaksi alergi layaknya gangguan pernapasan, gatal-gatal, dan pembengkakan.





Source link