Anhedonia: Penyebab, Gejala, Pengobatan – Dokter Sehat

By | July 9, 2019


DokterSehat.Com – Pernahkah Anda merasa kehilangan minat terhadap berbagai hal yang sebelumnya menyenangkan bagi Anda? Hal ini dapat menandakan bahwa Anda mengalami anhedonia. Kondisi ini dapat menandakan gejala gangguan depresi mayor atau gangguan mental lainnya. Anhedonia juga dapat disebabkan oleh kondisi medis tertentu. Ketahui selengkapnya tentang anhedonia melalui artikel ini!

Apa Itu Anhedonia?

Anhedonia adalah ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan atau kenikmatan. Pada seseorang dengan anhedonia, hal-hal yang sebelumnya membawa kesenangan tidak lagi terasa menyenangkan ketika dilakukan. Anhedonia dapat merupakan gejala depresi mayor maupun gejala gangguan kesehatan lainnya.

Secara umum anhedonia dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu:

  • Anhedonia sosial, di mana seseorang tidak ingin menghabiskan waktu dengan orang lain.
  • Anhedonia fisiko, di mana seseorang tidak menikmati sensasi fisik seperti makanan favorit yang berubah rasa menjadi hambar, pelukan yang tidak memberikan rasa nyaman, dan kehilangan daya tarik terhadap seks.

Kondisi ini dapat memengaruhi hubungan sosial seseorang dengan anggota keluarga atau teman-temannya. Anda tidak lagi memiliki motivasi untuk bersosialisasi atau menghabiskan waktu bersama orang lain. Anda juga tidak memiliki minat untuk berpartisipasi dalam berbagai acara karena merasa hal tersebut tidak bermanfaat.

Seseorang yang mengalami anhedonia juga dapat mengalami kecemasan sosial sehingga kesulitan untuk bertemu dengan orang lain, terutama orang yang baru dikenalnya. Kondisi ini juga dapat memengaruhi hubungan percintaan. Seseorang dengan anhedonia tidak dapat mengekspresikan cinta atau mengungkapkan rasa senang menghabiskan waktu bersama orang lain karena memang tidak memiliki perasaan tersebut.

Penyebab Anhedonia

Anhedonia terkait erat dengan depresi, namun tidak semua orang dengan anhedonia mengalami depresi. Di sisi lain, tidak semua orang yang mengalami depresi juga mengalami gejala satu ini. Penggunaan obat-obatan untuk mengatasi depresi seperti antidepresan dan antipsikotik yang digunakan untuk mengobati depresi diduga dapat menyebabkan anhedonia.

Anhedonia dapat terkait dengan gangguan mental lain seperti gangguan bipolar dan skizofrenia. Anhedonia juga dapat dialami oleh seseorang dengan kondisi fisik tertentu seperti penyakit Parkinson, diabetes, penyalahgunaan zat, dan penyakit arteri koroner.

Para ilmuwan menduga bahwa penyebab anhedonia adalah perubahan aktivitas otak. Seseorang dengan anhedonia memiliki masalah pada otak dalam hal memproduksi dan merespons dopamin, yang merupakan senyawa kimia dalam otak yang terkait dengan rasa senang.

Faktor risiko anhedonia

Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang berisiko lebih tinggi mengalami anhedonia. Faktor risiko tersebut meliputi:

  • Memiliki riwayat dilecehkan atau ditelantarkan
  • Mengalami peristiwa traumatis atau stres belum lama ini
  • Gangguan makan
  • Mengidap penyakit yang memengaruhi kualitas hidup
  • Mengidap penyakit serius
  • Berjenis kelamin wanita.

Gejala Anhedonia

Gejala anhedonia dapat berbeda-beda pada setiap orang. Gejala anhedonia yang umum meliputi:

  • Menarik diri dari kehidupan sosial.
  • Menarik diri dari hubungan yang sebelumnya telah terjalin.
  • Perasaan negatif terhadap diri sendiri dan orang lain.
  • Ekspresi verbal dan non-verbal yang lebih sedikit karena berkurangnya kemampuan emosional.
  • Kesulitan untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial.
  • Hilangnya lobido dan ketertarikan pada keintiman fisik
  • Cenderung menunjukkan emosi palsu, seperti berpura-pura bahagia dalam sebuah hubungan
  • Gangguan fisik yang persisten atau sering sakit.

Diagnosis Anhedonia

Dokter akan melakukan wawancara pada pasien dan menanyakan tentang gejala yang dialami dan tentang suasana hati pasien secara umum. Anda dapat membuat daftar tentang gejala yang Anda alami sebelum berkonsultasi dengan dokter. Anda dapat menyebutkan berbagai peristiwa di mana Anda merasa kehilangan kesenangan.

Dokter membutuhkan kejelasan tentang gejala yang dialami pasien untuk dapat menegakkan diagnosis. Setelah itu, dokter juga mungkin akan melakukan pemeriksaan fisik untuk memastikan apakah Anda memiliki masalah fisik.

Pemeriksaan lain yang mungkin dilakukan adalah seperti tes darah untuk mengetahui ada tidaknya defisiensi vitamin atau masalah tiroid yang mungkin berkaitan dengan gangguan mood Anda.

Umumnya anhedonia merupakan gejala dari gangguan mental atau gangguan fisik tertentu. Maka dari itu, dokter bisa saja akan melakukan pemeriksaan lainnya disesuaikan dengan kondisi yang diduga mendasari anhedonia.

Pengobatan Anhedonia

Pengobatan anhedonia dapat menjadi sebuah tantangan. Tindakan yang dipilih harus disesuaikan dengan penyebab yang mendasari anhedonia itu sendiri. Contohnya seperti apabila anhedonia disebabkan oleh depresi, tentunya perawatan untuk depresi harus dilakukan untuk mengatasi kondisi ini.

Pertama-tama Anda dapat berkonsultasi dengan tenaga medis profesional untuk mengetahui ada tidaknya kondisi medis yang mendasari anhedonia. Jika ditemukan penyebab medis ini, dokter akan merekomendasikan pengobatan untuk mengatasi kondisi medis tersebut.

Apabila tidak ditemukan kondisi medis yang mendasari, maka dokter dapat memberikan rekomendasi pada Anda untuk berkonsultasi pada psikiater, psikolog, atau tenaga profesional kesehatan mental lainnya.

Setelah mengetahui kondisi mental yang mendasari anhedonia, dokter akan merekomendasikan pengobatan sesuai dengan kondisi mental yang Anda miliki. Jika anhedonia dipastikan merupakan gejala depresi, perawatan yang mungkin dilakukan adalah seperti:

  • Obat-obatan, dokter dapat meresepkan antidepresan atau jenis kelas obat lainnya. Gunakan obat sesuai dengan dosis yang disarankan untuk mendapatkan hasil pengobatan yang maksimal dan menurunkan risiko efek samping.
  • Terapi elektrokonvulsif, terapi untuk gangguan mental menggunakan aliran listrik yang dialirkan ke tubuh. Perawatan ini dipercaya merupakan salah satu perawatan yang paling efektif untuk mengatasi depresi.
  • Stimulasi magnetik transkranial, terapi menggunakan medan magnet untuk merangsang sel-sel saraf. Terapi ini menggunakan arus listrik namun lebih kecil dari elektrokonvulsif. Terapi ini diberikan pada pasien depresi berat yang tidak merespons penggunaan obat-obatan.
  • Stimulasi saraf vagus, dilakukan dengan cara menanamkan alat yang mirip dengan alat pacu jantung pada dada untuk merangsang saraf vagus.

 

Sumber:

  1. What Is Anhedonia? – https://www.healthline.com/health/depression/anhedonia diakses 9 Juli 2019
  2. What Is Anhedonia? – https://www.webmd.com/depression/what-is-anhedonia#1 diakses 9 Juli 2019
  3. Understanding anhedonia: What happens in the brain? – https://www.medicalnewstoday.com/articles/320737.php diakses 9 Juli 2019





Source link