9 Manfaat Licorice bagi Kesehatan, Mitos atau Fakta?

By | August 18, 2019


DokterSehat.Com – Licorice, pernahkah Anda mendengar nama tanaman yang satu ini? Ya, licorice adalah nama untuk sejenis tanaman, yang mana tanaman ini masuk ke dalam daftar tanaman herbal dengan sejumlah manfaat bagi kesehatan tubuh. Bahkan, licorice sudah dipercaya sejak dahulu sebagai obat alternatif guna mengatasi pelbagai masalah kesehatan. Apa itu licorice? Apa manfaat licorice bagi kesehatan tubuh?

Apa Itu Licorice?

Licorice adalah nama sejenis tanaman yang masuk ke dalam famili fabaceae atau polong-polongan. Tanaman ini berasal dari dataran Eropa bagian selatan dan juga sejumlah wilayah di Asia. Nama licorice mungkin masih terdengar asing di telinga, namun mungkin tidak dengan tanamannya sendiri. Jika Anda tahu akar manis, maka ini adalah nama lain dari licorice atau ‘liquorice’ tersebut.

Licorice (Glycyrrhiza glabra) memiliki rasa yang manis. Itu sebabnya, licorice atau akar manis ini kerap dijadikan bahan perasa untuk makanan maupun minuman. Sudah sejak lama, licorice dipercaya ampu mengatasi sejumlah masalah kesehatan. Manfaat licorice tersebut tak lepas dari kandungan zat di dalamnya, yakni:

  • Karbohidrat
  • Glukosa
  • Protein
  • Vitamin A
  • Antioksidan (glycyrrhizin dan flavonoid)

Manfaat Licorice bagi Kesehatan

Lantas, apa saja manfaat licorice yang bisa Anda dapatkan? Simak informasinya berikut ini.

1. Mengatasi Masalah pada Gigi

Manfaat licorice yang pertama adalah untuk mengatasi masalah pada gigi. Hal ini yang kemudian membuat sejumlah produsen pasta gigi turut menyertakan ekstrak akar licorice ke dalam bahan komposisi produk yang mereka jual.

Licorice dianggap efektif untuk mengatasi sejumlah masalah umum pada gigi, seperti plak hingga gusi berdarah.

Namun, klaim manfaat akar licorice yang satu ini belum bisa dibuktikan kebenarannya. Oleh sebab itu, jangan hanya bergantung pada licorice untuk mengobati masalah pada gigi Anda.

2. Melancarkan Sistem Pernapasan

Masalah pada sistem pernapasan juga bisa diatasi dengan cara mengonsumsi ekstrak akar manis atau licorice ini.

Kandungan zat pada licorice bekerja dengan cara memproduksi lender ‘baik’  sehingga sistem pernapasan dapat berfungsi normal. Selain itu, licorice juga dianjurkan untuk dikonsumsi bagi Anda yang sedang mengalami gejala batuk. Licorice diklaim dapat melegakan tenggorokan sehingga batuk dapat diredakan.

3. Mengatasi Hepatitis C

Tim peneliti dari National Institute of Infectious Disease, Tokyo, Jepang, menemukan kaitan antara licorice dengan usaha penyembuhan hepatitis C.

Dalam studi yang dirilis oleh PubMed tersebut, disebutkan bahwa kandungan antioksidan pada licorice, yakni glycyrrhizin (GL) memiliki efek positif dalam upaya menyembuhkan penyakit Hepatitis C. Kendati demikian, hasil penelitian tersebut belum bisa dikatakan kuat dan masih harus dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menguji efektivitasnya.

4. Mengobati Nyeri pada Ulu Hati

Selain hepatitis C (yang masih membuktikan penelitian lebih lanjut), manfaat licorice melalui glycyrrhizin (GL)  adalah untuk mengobati nyeri pada ulu hati. Berdasarkan sejumlah penelitian, glycyrrhizin (GL) memiliki sifat anti-radang, pun efektif untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Atas dasar hal tersebut, licorice disebut-sebut mampu melawan bakteri, tepatnya bakteri H.pylori, yang mana bakteri ini menjadi penyebab gangguan pada sistem pencernaan yang salah satunya ditandai oleh gejala nyeri pada ulu hati.

5. Mengatasi Gangguan Sistem Pencernaan

Sementara itu, kandungan flavonoid—glabrene dan glabridin—pada ekstrak akar licorice memiliki khasiat untuk mengatasi gejala lainnya dari gangguan sistem pencernaan, yakni rasa tidak nyaman pada perut.

Rasa tidak nyaman pada perut sebagaimana dimaksud meliputi:

  • Mual
  • Nyeri perut
  • Heartburn

6. Mengobati Kanker

Mitos yang beredar juga mengatakan jika tanaman licorice dapat membantu menyembuhkan kanker, seperti kanker lambung, kanker payudara, dan kanker prostat. Adanya kandungan zat antioksidan pada akar licorice diduga menjadi penghasil manfaat licorice yang satu ini.

Akan tetapi, lagi-lagi bukti ilmiah yang dapat mendukung klaim manfaat licorice untuk mengobati kanker masih sangat terbatas sehingga belum bisa dipercaya seutuhnya.

7. Melindungi Kulit

Kandungan zat antiinflamasi pada tanaman licorice diklaim efektif untuk melindungi kulit, dan mencegahnya dari sejumlah masalah kulit seperti eksim (eczema), pun mengatasi penyakit kulit seperti hiperpigmentasi kulit dan penyakit kulit yang disebabkan oleh paparan sinar matahari.

Kendati begitu, manfaat licorice yang satu ini tidak bisa serta merta dijadikan acuan bagi Anda untuk mengobati masalah kulit yang tengah dialami. Pasalnya, penelitian yang mendukung kalim tersebut masih terbatas dan memerlukan studi lanjutan.

8. Mengatasi Stres

Stres adalah kondisi yang tidak bisa kita hindari. Ada saja hal-hal yang memicu kita untuk mengalami stres, entah itu masalah pekerjaan, sekolah, keluarga, hingga asmara.

Ketika stres, tubuh akan memproduksi  hormon kortisol dan hormon adrenalin. Nah, fungsi dari licorice adalah untuk menekan produksi kedua hormon pemicu stres tersebut. Pun, akar licorice bertugas untuk mengendalikan kadar hormon kortisol agar tidak semakin bertambah, sehingga stres pun dapat diredakan.

9. Meminimalisir Gejala PMS

Bagi Anda para wanita, mengonsumsi esktrak licorice diklaim dapat membantu meminimalisir gejala pra-menstruasi (PMS) yang umumnya cukup mengganggu. Hal ini dimungkinkan karena licorice memiliki efek yang serupa dengan estrogen, yakni mampu meredakan rasa nyeri dan gejala PMS lainnya.

Tak hanya itu, manfaat licorice juga bisa dirasakan oleh mereka yang kini tengah memasuki periode menopause. Sebagaimana diketahui, menopause juga kerap menyebabkan wanita harus mengalami sejumlah masalah, seperti nyeri pada perut, penurunan gairah, hot flashes, dan sebagainya.

Efek Samping Licorice

Sayangnya, licorice tak lepas dari yang namanya efek samping apabila tidak dikonsumsi sebagaimana mestinya. Sebuah studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari University of Helsinki, Finlandia menemukan fakta bahwa konsumsi licorice pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko bayi mengalami gangguan kognitif.

Tak hanya itu, sejumlah efek samping licorice lainnya, merujuk pada US Food and Drug Administration (FDA), meliputi:

  • Reaksi alergi
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • Tubuh melemah
  • pembengkakan
  • Gangguan hati (liver) akibat menurunnya kadar potasium
  • Gangguan irama jantung
  • Gagal jantung kongestif

Licorice tersedia dalam pelbagai produk, mulai dari tablet, teh, bubuk, cairan, hingga deglycyrrhizinated licorice (DGL). Namun sekali lagi, bukti-bukti ilmiah yang mendukung klaim manfaat licorice mayoritas masih sangat terbatas sehingga daftar manfaat di atas harusnya tidak serta merta membuat Anda mengandalkan tanaman ini untuk pengobatan alternatif.

Pun, perhatikan juga dosis pemakaian licorice apabila Anda ingin tetap menggunakannya. Berkonsultasi kepada dokter terlebih dahulu adalah langkah bijak sebelum mengonsumsi licorice. Semoga bermanfaat!

 

Sumber:

  1. Matsumoto Y, Matsuura T, Aoyagi H, et al. Antiviral activity of glycyrrhizin against hepatitis C virus in vitroPLoS One. 2013;8(7):e68992. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23874843 [diakses pada 18 Agustus 2019]
  2. Messier C, Epifano F, Genovese S, et al. Licorice and its potential beneficial effects in common oro-dental diseases. Oral Diseases. 2012;18(1):32-39. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21851508 [diakses pada 18 Agustus 2019]
  3. Räikkönen K, Pesonen A-K, Heinonen K, et al. Maternal licorice consumption and detrimental cognitive and psychiatric outcomes in children. American Journal of Epidemiology. 2009;170(9):1137-1146. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19808634 [diakses pada 18 Agustus 2019]
  4. Berry, J. (2018). What are the benefits of licorice root? Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/323761.php [diakses pada 18 Agustus 2019]
  5. Watson, K. (2018). Health Benefits of Licorice Root. Healthline. https://www.healthline.com/health/licorice-the-sweet-root#history [diakses pada 18 Agustus 2019]





Source link