7 Manfaat Emosi Negatif bagi Kesehatan Mental

By | August 19, 2019


DokterSehat.Com – Setiap orang pasti pernah menjadi emosional. Meluapkan emosi menjadi cara seseorang untuk mengekspresikan apa yang sedang dirasakan dalam hati, entah itu emosi yang sifatnya positif atau yang lebih umum, emosi negatif. Sedih, marah, takut, adalah contoh-contoh dari emosi negatif. Namun tahukah Anda, di balik embel-embel ‘negatif’ tersebut, ada sejumlah manfaat emosi negatif bagi kesehatan mental?

Apa Itu Emosi Negatif?

Emosi negatif adalah suatu bentuk ekspresi atau luapan dari rasa sedih, marah, kecewa, takut, khawatir, dan sebagainya, yang bersifat sementara. Berbeda dengan emosi positif seperti perasaan senang dan bersemangat, banyak orang (mungkin termasuk Anda salah satunya) yang kerap menghindari jenis emosi yang satu ini.

Alih-alih meluapkan emosi negatif tersebut, Anda memilih untuk untuk ‘pura-pura’ bahagia seakan segalanya sedang baik-baik saja. Stigma negatif (bahkan ada yang menganggapnya sebagai gangguan mental) yang melekat acap kali menjadi alasan mengapa orang-orang memilih bungkam ketika seharusnya ia marah, menangis, dan lainnya.

Manfaat Emosi Negatif dan Sedih bagi Kesehatan

Jika Anda berpikir marah-marah, menangis, dan sejumlah emosi negatif lainnya sebagai sesuatu yang ‘negatif’, maka hal ini tidak sepenuhnya benar. Bahkan, seorang ahli psikologi bernama Joseph P. Forgas dalam studinya yang dirilis oleh SAGE Journals menyebut jika emosi negatif memiliki dampak positif.

Lantas, apa saja manfaat emosi, khususnya emosi negatif, bagi kesehatan mental? Simak informasinya berikut ini.

1. Memaksimalkan Fokus

Menurut Forgas, emosi negatif adalah cara tubuh dan pikiran untuk beradaptasi dan mengenali situasi yang sedang terjadi. Nah, mekanisme adaptasi ini kemudian berdampak pada peningkatan fokus dari seseorang.

Saat seseorang tengah dilanda rasa marah, sedih, dan perasaan-perasaan negatif lainnya, tanpa disadari membantu otak untuk bisa fokus terhadap situasi yang tengah dihadapi. Alhasil, otak menjadi lebih kritis dalam menemukan ‘pintu keluar’ dari masalah tersebut.

Hal ini kontradiktif dengan emosi positif, di mana saat seseorang tengah merasa bahagia, yang terjadi justru otak berada di ‘zona nyaman’ sehingga fokus pun berkurang.

2. Meningkatkan Daya Ingat

Manfaat sedih, marah, dan bentuk emosi negatif lainnya adalah untuk meningkatkan daya ingat.

Sebuah studi berhasil menemukan keterkaitan antara emosi negatif dan peningkatan daya ingat tersebut lewat medium cuaca. Disebutkan pada saat kondisi hujan, yang mana hal ini memicu timbulnya emosi negatif, seseorang cenderung memiliki daya ingat yang lebih baik ketimbang saat cuaca cerah.

3. Meningkatkan Kemampuan Menganalisis

Emosi negatif berupa rasa khawatir dan takut secara tidak langsung menghasilkan manfaat emosi negatif untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam menganalisis sesuatu. Hal ini dikarenakan rasa takut dan khawatir tersebut membuat seseorang menjadi cenderung perfeksionis, pun sensitif dengan kesalahan.

Dengan begitu, potensi terjadinya bias dalam proses analisis dapat diminimalisir. Selain itu, bentuk emosi negatif tersebut membuat pelakunya bisa mengolah informasi yang ia terima dengan lebih efektif.

4. Mampu Mengambil Keputusan dengan Baik

Setiap orang pernah merasakan yang namanya kegagalan. Bagi sejumlah orang (mungkin termasuk Anda salah satunya), kegagalan di masa lalu itu acap kali menimbulkan kekhawatiran.

Akan tetapi, kegagalan dan rasa khawatir tersebut seharusnya dapat dijadikan pelajaran bagi Anda untuk bisa menentukan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang harus dilakukan dan mana yang harus dihindari.

Jika ‘mindset’  seperti ini Anda terapkan, maka emosi negatif berupa rasa khawatir membawa manfaat bagi Anda, yakni Anda menjadi lebih bijak dalam mengambil suatu keputusan.

5. Meningkatkan Kemampuan Komunikasi

Percaya atau tidak, emosi negatif juga bisa meningkatkan kemampuan Anda dalam berkomunikasi, lho.

Hal ini dikarenakan saat seseorang sedang mengalami bad mood, entah itu marah, takut, kecewa, atau sedih, ia justru menjadi lebih fokus dan peka terhadap situasi yang tengah dihadapinya. Berangkat dari hal tersebut, seseorang menjadi terpacu untuk mengutarakan pendapatnya yang tak jarang bersifat persuasif.

Tak hanya itu, oleh karena tingkat fokus dan analisis yang bertambah menyebabkan seseorang lebih mudah dalam menangkap informasi, sekalipun informasi tersebut terkesan ambigu.

6. Cepat Move on

Klausa ‘move on’ pastinya sudah tidak asing lagi di era sekarang ini, utamanya menyangkut urusan asmara. ‘Move on’  digunakan untuk menggambarkan kondisi jika seseorang telah berhasil  ‘berdamai’ dengan kesedihan dan rasa sakit yang ditimbulkan akibat putus cinta.

Pelbagai cara pun dilakukan agar bisa cepat ‘move on’, mulai dari mencari kesibukan, hingga mencari yang ‘baru’. Namun itu semua umumnya diawali dengan luapan emosi negatif berupa rasa sedih yang mendalam, yang tak jarang berujung pada jatuhnya air mata.

Faktanya, menangis adalah kesedihan yang bermanfaat, terlebih jika berkaitan dengan masalah-masalah seperti putus cinta ini. Dengan menangis, segala rasa sakit dan sedih tercurahkan. Hal ini tentu saja memiliki efek positif, karena setelah itu, hati dan pikiran akan terasa lega.

Menangis juga menjadi titik awal Anda untuk cepat ‘move on’, tentunya selama Anda menangis sewajarnya dan tidak berlarut-larut.

7. Menumbuhkan Sikap Dermawan

Rasa sedih, marah, dan kecewa yang kita alami kerap disebabkan oleh hal-hal yang ‘menyakitkan’, mulai dari ketidakadilan, diremehkan, dan sebagainya.

Hal ini lantas menghasilkan manfaat emosi negatif, yakni menumbuhkan sikap empati di dalam diri kita. Oleh karena paham betul bahwa segala perlakuan buruk yang kita terima itu tidak menyenangkan, maka otomatis kita tidak ingin nasib yang sama terjadi pada orang lain. Dari sini, kita menjadi lebih peka dan peduli terhadap orang lain.

Emosi Negatif Wajar, Asal Tidak  Berlebihan

Meluapkan kekesalan, kesedihan, dan kekecewaan adalah hal yang wajar, dan malah dianjurkan demi menjaga kesehatan mental Anda. Namun, hendaknya jangan berlarut-larut dalam kekesalan, kesedihan, dan kekecewaan tersebut, karena dampaknya juga tidak baik bagi diri sendiri.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Penn State University, Pennsylvania, Amerika Serikat, emosi negatif seperti marah, sedih, dan frustrasi yang berlebihan mengakibatkan penurunan fungsi sistem kekebalan tubuh.

Tak hanya itu, emosi negatif yang berlarut-larut berdampak pada peningkatan produksi hormon kortisol atau hormon stres, pun meningkatkan tekanan darah dan detak jantung.

Oleh sebab itu, tetap kendalikan emosi Anda agar jangan sampai berlebihan dan berlarut-larut guna menghindari gangguan kesehatan.

 

Sumber:

  1. Forgas, Joseph P. (2013). Don’t Worry, Be Sad! On the Cognitive, Motivational, and Interpersonal Benefits of Negative Mood. SAGE Journals. https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/0963721412474458  [diakses pada 19 Agustus 2019]
  2. David, S, Ph.D. (2016). Don’t Worry, Be Gloomy: Negative Feelings Have Benefits Too. Health. https://www.health.com/mind-body/negativity-benefits [diakses pada 19 Agustus 2019]
  3. Mead, E. (2019). What are Negative Emotions and How to Control Them? Positive Psychology. https://positivepsychology.com/negative-emotions/  [diakses pada 19 Agustus 2019]
  4. The benefits of negative emotions. (2017). MPHC. http://www.mphc.ie/2017/07/the-benefits-of-negative-emotions/ [diakses pada 19 Agustus 2019]





Source link