5 Pemicu Ngompol di Usia Dewasa, Salah Satunya Diabetes!

By | Juli 7, 2019


DokterSehat.Com– Kebanyakan orang berpikir jika ngompol atau pipis di celana hanya akan terjadi di usia anak-anak. Padahal, dalam realitanya terkadang orang dewasa atau para lansia juga bisa mengalaminya. Memang, seringkali kasus ini hanya akan terjadi sesekali saja, namun ada yang mengalaminya dengan gejala yang lebih parah. Jika sampai hal ini terjadi, bisa jadi pemicunya adalah masalah kesehatan yang tidak bisa disepelekan.

Penyebab ngompol di usia dewasa

Pakar kesehatan menyebut mengompol di usia bayi atau anak-anak berbeda dengan mengompol di usia dewasa. Di usia bayi atau anak-anak, kondisi ini seringkali terkait dengan tubuh yang masih belum bisa mengendalikan keinginan untuk buang air kecil, namun di usia dewasa, hal ini bisa jadi terkait dengan kondisi tertentu.

Dalam dunia medis, ngompol di usia dewasa bisa jadi terkait dengan kondisi yang disebut sebagai nocturnal enuresis. Sayangnya, kondisi ini bisa dialami oleh sekitar 1 persen dari total populasi berusia dewasa. Hal ini disebabkan oleh gangguan yang terjadi pada koneksi antara kandung kemih dan otak yang membuat otak justru mengirimkan pesan untuk terus mengosongkan kandung kemih. Hal inilah yang kemudian membuat buang air kecil tidak lagi bisa dikendalikan.

Penyebab ngompol di usia dewasa yang terkait dengan penyakit tertentu

Tak selalu karena kebiasaan minum air terlalu banyak atau terlalu kelelahan sehingga tubuh tidak bisa terbangun saat tidur meski sudah ingin buang air kecil, pakar kesehatan menyebut mengompol di usia dewasa seringkali terkait dengan masalah kesehatan tertentu yang tidak bisa disepelekan.

Berikut adalah berbagai penyebab mengompol tersebut yang patut untuk diwaspadai.

  1. Terkait dengan diabetes

Salah satu masalah kesehatan yang bisa mengingkatkan keinginan buang air kecil dengan drastis adalah diabetes. Hal ini terkait dengan tingginya kadar gula darah di dalam tubuh yang akhirnya membuat otak berusaha untuk membuangnya. Cara pembuangan kelebihan gula darah ini adalah lewat urine.

Sayangnya, jika sampai diabetes yang menyerang adalah yang berjenis diabetes insipidus, maka penderitanya akan mengalami keinginan untuk buang air kecil dan terus merasa haus dengan berlebihan. Jika hal ini ditambah dengan terjadinya kerusakan saraf pada bagian kandung kemih sebagai efek dari kadar gula darah yang berlebihan, maka kandung kemih pun tidak bisa menjalankan fungsinya dalam menahan urine sehingga penderitanya pun akan lebih sering mengompol.

  1. Infeksi pada kandung kemih

Infeksi kandung kemih seringkali dipicu oleh masuknya bakteri ke dalam organ yang memiliki fungsi sebagai penampung urine sebelum dikeluarkan saat buang air kecil ini. Wanita memiliki risiko lebih besar untuk terkena masalah kesehatan ini daripada pria karena posisi uretranya yang cenderung jauh lebih pendek. Jika sampai hal ini terjadi, maka penderitanya akan lebih rentan mengalami gejala mengompol.

  1. Kandung kemih terlalu aktif

Sebagian orang yang mengompol di usia dewasa ternyata mengalami masalah kesehatan yang membuat kandung kemih menjadi terlalu aktif. Dalam dunia medis, hal ini disebut sebagai masalah enuresis nocturnal dan terkait dengan otot detrusor, otot yang bisa ditemukan di sepanjang kandung kemih.

Demi mengosongkan kandung kemih dan merangsang keinginan untuk buang air kecil, otot ini akan melakukan kontraksi, namun jika sampai fungsi dari otot ini mengalami gangguan, hal ini justru akan membuat kandung kemih menjadi terlalu aktif sehingga akhirnya mengeluarkan urine tanpa bisa lagi dikendalikan.

  1. Mengalami pembesaran prostat

Jika sampai mengalami masalah pembesaran prostat atau benign prostatic hypertrophy, maka hal ini akan memicu gangguan pada otot kandung kemih. Hal ini juga akan menyebabkan gejala mengompol di usia dewasa.

  1. Gangguan tidur

Mereka yang menderita sleep apnea ternyata jauh lebih rentan untuk mengalami buang air kecil saat tidur. Biasanya, mereka berpikir jika sudah buang air kecil di toilet, namun ternyata mereka hanya melakukannya saat bermimpi.





Source link