11 Penyebab Benjolan di Vagina & Pengobatan

By | August 27, 2019


DokterSehat.Com – Menjaga kesehatan vagina adalah sesuatu yang wajib dilakukan oleh seorang wanita. Saat vagina mengalami gangguan maka hal itu bisa memengaruhi tingkat kesuburan, hasrat berhubungan seksual hingga kondisi kesehatan wanita secara keseluruhan. Namun, ada kalanya ditemukan benjolan di vagina yang membuat seorang wanita merasa risau. Apa saja penyebab benjolan vagina pada wanita?

Penyebab Benjolan di Vagina

Salah satu masalah yang harus diwaspadai oleh wanita adalah benjolan di vagina. Lantas, apa yang menyebabkan benjolan pada vagina? Benjolan yang tumbuh di sekitar vagina dapat disebabkan oleh berbagai macam sebab.

Beberapa penyebab benjolan di vagina di antaranya: sumbatan kelenjar, infeksi, kongenital atau tumor. Sementara itu, benjolan yang paling sering terjadi pada organ intim wanita ini adalah kista Bartholin.

Kelenjar Bartholin berukuran kecil dan pada keadaan normal, biasanya tidak terlihat dan tidak teraba. Pada keadaan terentu seperti infeksi kronis, terbentuklah kista Bartholin yang ditandai dengan adanya benjolan dengan perabaan lunak pada bibir kemaluan, biasanya tidak disertai dengan adanya nyeri

Gangguan pada kelenjar Bartholin yang sering terjadi adalah kista Bartholin dan abses Bartholin, di mana kedua hal ini merupakan penyebab tersering terjadinya benjolan pada vagina dan biasanya hanya mengenai salah satu kelenjar.

Kista Bartholin terjadi akibat adanya sumbatan pada saluran keluar kelenjar Bartholin, sehingga kelenjar membengkak dan membentuk kista. Kista Bartholin yang menyebabkan benjolan di vagina pada umumnya tidak nyeri, adanya nyeri dapat menunjukan bahwa ukuran kista sudah semakin membesar dan terjadi infeksi.

Sedangkan abses Bartholin terbentuk ketika kista Bartholin mengalami infeksi bakteri seperti Chlamydia, Gonorrhea, dan Escherichia coli. Pada abses Bartholin, dapat ditemukan benjolan kemerahan pada bibir vagina, disertai dengan rasa nyeri terutama saat berhubungan seksual dan rasa tidak nyaman saat posisi duduk. Gejala demam juga dapat menyertai kondisi ini.

Pada abses Bartholin memiliki gejala seperti nyeri, kemerahan pada daerah sekitar vagina, terasa adanya gumpalan pada lubang vagina, tidak nyaman saat berjalan atau duduk, nyeri saat berhubungan seksual, hingga menimbulkan demam.

Baca juga: 10 Jenis Penyakit Kelamin Pria dan Wanita (No. 9 Paling Berbahaya)

Penyebab Benjolan di Vagina Lainnya

Selain beberapa penyebab di atas, penyebab benjolan pada vagina lainnya yang harus Anda ketahui, di antaranya:

1. Bisul

Benjolan di vagina yang ditemukan bisa juga terjadi karena bisul atau dalam dunia medis dikenal sebagai furunkel adalah peradangan folikel rambut dan jaringan sekitarnya. Furunkel biasanya disebabkan karena infeksi bakteri dan ditandai dengan benjolan kemerahan, terkadang berisi nanah pada sekitar kemaluan.

2. Varises di Area Vagina

Varises adalah suatu kondisi dimana pembuluh darah balik/vena di sekitar bibir vagina mengalami pembengakakan. Benjolan di bibir vagina ini biasa terjadi pada sekitar 10% pada wanita yang sedang hamil atau mengalami masa menopause.

Gejala varises vagina ini berupa benjolan pada vagina berwarna kebiruan akibat pembuluh darah membengkak di sekitar labia minora dan majora. Anda mungkin tidak mengalami rasa sakit, tapi terkadang akan merasa mengganjal, menyebabkan gatal, atau bahkan adanya pendarahan.

3. Herpes Genital

Herpes genital biasanya ditandai dengan adanya benjolan di bibir vagina atau lenting-lenting berisi air yang bergerombol pada bibir vagina dan sekitarnya. Herpes genital biasanya disertai dengan rasa panas dan nyeri, dan keadaan ini dapat berulang kembali.

4. Kutil Kelamin

Kutil kelamin atau dalam bahasa medis dikenal sebagai Condyloma acuminata, disebabkan oleh virus human papilloma genital (HPV).

Gejala klinis dari penyakit ini adalah adanya benjolan berwarna seperti kulit di sekitar kelamin dan anus, yang dapat membesar dan berbentuk seperti kembang kol. Pada umumnya benjolan di vagina ini tidak terasa nyeri, kecuali apabila terjadi luka dan infeksi sekunder dari bakteri.

5. Sifilis

Sifilis adalah infeksi bakteri yang biasanya menyebar melalui kontak seksual. Penyakit ini dimulai sebagai benjolan atau luka yang tidak menyakitkan – biasanya pada alat kelamin, dubur atau mulut Anda. Sifilis menyebar dari orang ke orang melalui kulit atau kontak selaput lendir dengan luka ini.

Setelah infeksi awal, bakteri sifilis dapat menetap di dalam tubuh Anda selama beberapa dekade sebelum menjadi aktif kembali. Sifilis dini dapat disembuhkan, terkadang dengan suntikan penisilin tunggal. Tanpa pengobatan, sifilis dapat sangat merusak jantung, otak, atau organ-organ lain, dan dapat mengancam jiwa, atau ditularkan dari ibu ke anak yang belum lahir.

6. Molluscum Contagiosum

Moluskum kontagiosum adalah infeksi virus pada kulit yang menghasilkan benjolan di vagina yang berukuran kecil yang bundar, kencang, dan tidak nyeri. Yang dimana jika benjolan tergores atau terluka, infeksi dapat menyebar ke kulit di sekitarnya. Moluskum kontagiosum juga menyebar melalui kontak kulit atau benda yang telah terinfeksi.

Penyakit ini paling umum terjadi pada anak-anak, namun dapat muncul pada orang dewasa juga terutama mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Pada orang dewasa dengan sistem kekebalan yang normal, moluskum kontagiosum biasanya tertular akibat penyakit kelamin yang dianggap sebagai infeksi menular seksual.

7. Vulvovaginitis

Vulvovaginitis merupakan peradangan pada vulva dan vagina yang dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur maupun dari infeksi menular seksual lainnya seperti trichomonasis. Gejalanya berupa benjolan di bibir vagina atau vulva, yang kemerahan, terasa nyeri, gatal dan panas.

Kondidi terseut dapat diobati dengan menjaga kebersihan daerah kewanitaan Anda dan dengan pemberian antijamur atau antibiotik baik secara oral maupun topikal bila memungkinkan, tergantung dari penyebab yang menginfeksinya.

8. Kanker

Benjolan di vagina lainnya yang dapat terjadi adalah kanker. Baik kanker vulva atau kanker vagina meskipun jarang terjadi, dapat menjadi masalah yang serius apabila tidak dideteksi dan ditangani sedini mungkin. Berikut gejala yang mungkin terjadi:

  • Terdapat benjolan yang disertai rasa sakit pada daerah vagina dan vulva, yang dimana tidak menghilang setelah beberapa minggu pengobatan
  • Warna kulit di sekitar kanker menjadi lebih gelap atau terang dibandingkan dengan kulit yang sehat di sekitarnya
  • Terdapat penebalan kulit di area kanker
  • Terasa seperti terbakar dan gatal
  • Terkadang disertai perdarahan yang keluar dari lubang vagina

9. Fordyce Spot

Fordyce spot terbentuk dari kelenjar sebasea (minyak), yang merupakan suatu benjolan putih-kekuningan yang biasa muncul pada bagian dalam vulva. Benjolan di dalam vagina ini cenderung muncul pada saat pubertas dan dapat meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Fordyce spot tidak bergejala dan tidak berbahaya.

10. Ingrown Hair

Kegiatan seperti waxing, mencukur atau pencabutan rambut pubis dapat meningkatkan risiko terjadinya ingrown hair. Rambut yang tumbuh ke dalam ini merupakan benjolan kecil, bulat, gatal dan disertai dengan rasa nyeri. Benjolan di bibir vagina ini kadang dapat terinfeksi sehingga dapat menjadi nanah. 

11. Linchen Sclerosus

Linchen Sclerosus adalah suatu kondisi kulit yang tidak biasa dan sering mengenai wanita yang telah menopause. Penyakit ini sering muncul pada daerah vulva atau bahkan sampai ke daerah anus. Gejalanya dapat berupa rasa gatal, penipisan kulit, terdapat perdarahan, memar pada daerah tersebut, rasa nyeri saat berkemih atau saat melakukan hubungan seks.

Baca juga: Radang Vagina (Vaginitis): Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan

Penanganan Benjolan di Vagina

Penegakan diagnosis kista dan abses Bartholini dilakukan dengan cara pemeriksaan fisik oleh dokter, kultur hanya dilakukan untuk menentukan jenis bakteri penyebab terjadinya abses. Selain itu, dapat dilakukan pembedahan insisi untuk kembali membuka sumbatan dan mengeluarkan abses, serta pemberian antibiotik yang sesuai.

Melihat banyaknya penyebab benjolan di vagina, tentu sangat sulit untuk menentukan penyebabnya tanpa melakukan pemeriksaan dengan tenaga medis profesional. Penanganan sementara yang bisa Anda coba adalah merendam daerah vagina di bathtub atau dibasuh dengan air hangat.

Apabila dalam beberapa hari tidak ada perbaikan atau bahkan kista semakin membesar, disertai nyeri yang semakin hebat, demam, dan perdarahan pada vagina, segeralah pergi dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Sedangkan, benjolan pada vagina tidak hanya terjadi pada wanita dewasa tetapi juga bisa terjadi pada bayi perempuan. Meksi begitu benjolan di dalam vagina ini tidak berbahaya karena terbentuk dari hymen dan labia minora pengaruh hormon estrogen dari ibu. Seiring dengan menurunnya kadar estrogen pada bayi, maka hymenal tag akan hilang dalam beberapa minggu.

Anda juga harus waspada terhadap penggunaan produk pembersih kewanitaan karena bisa saja menimbulkan alergi atau iritasi, dan memengaruhi bakteri normal di vagina yang mencegah terjadinya infeksi.

 

Informasi kesehatan ini telah ditinjau oleh dr. Patricia Aulia dan dr. Antonius Hapindra Kasim





Source link