10 Penyebab Gusi Bengkak & Cara Mengobatinya

By | Agustus 2, 2019


DokterSehat.Com– Gusi adalah jaringan kokoh yang biasanya berwarna merah muda karena terdapat banyak pembuluh darah yang kecil dan rapat. Gusi berfungsi membungkus tulang rahang atas dan bawah, juga menempel pada bagian bawah gigi sehingga apa yang terjadi pada gigi bisa berdampak pada gusi. Salah satunya karang gigi yang menjadi penyebab gusi bengkak.

Gusi bengkak berarti terjadi peradangan atau inflamasi sehingga gusi berwarna lebih merah, menonjol, terkadang kekuningan karena adanya nanah. Gusi bengkak menjadi sensitif dan biasanya terasa sangat sakit bahkan terasa berdenyut seperti siap ‘meledak’, tidak jarang pula gusi bengkak mudah berdarah ketika menggosok gigi. Gusi yang membengkak juga dapat menjalar ke pipi wajah, sehingga wajahnya terlihat tidak simetris.

Penyebab Gusi Bengkak

Tidak hanya akibat penumpukan karang gigi, gusi bengkak juga dapat disebabkan oleh berbagai kondisi seperti yang dijelakan berikut ini:

1. Infeksi gigi

Infeksi yang disebabkan oleh jamur dan virus berpotensi menjadi penyebab gusi bengkak. Jika menderita herpes, ini dapat menyebabkan gingivostomatitis herpes akut, yang menyebabkan gusi bengkak.

Sariawan akibat pertumbuhan ragi berlebih yang muncul secara alami di mulut, juga dapat menyebabkan pembengkakan gusi. Kerusakan gigi yang tidak diobati dapat menyebabkan abses gigi –pembengkakan gusi.

Jika seorang mengindap herpes atau virus yang dapat menyebabkan gusi membengkak disebut dengan gejala herpes aku gingivostomatitis, sedangkan oral thrush merupakan infeksi pada gigi dari akibat pertumbuhan jamur alami di mulut. Hal ini yang menjadi penyebab gusi bengkak

2. Teknik menyikat gigi yang salah

Kita tahu bahwa kebersihan mulut yang buruk adalah penyebab gusi bengkak. Tetapi cara menyikat gigi yang salah, seperti menggosok gigi terlalu kasar, juga bisa menyebabkan pembengkakan.

Dalam upaya menjaga kebersihan gigi, Anda mungkin tertarik menyikat gigi sekuat yang Anda bisa. Ingat, gusi terbuat dari jaringan halus, jadi menyikat gigi dengan cara yang salah dapat merusak gusi Anda.

Baik Anda yang menggunakan sikat gigi manual atau elektrik, pilihlah sikat berbulu lembut yang ujungnya tumpul. Meskipun dapat memakai sikat dengan bulu sedang atau keras, gesekannya dapat merusak enamel pada gigi  atau menyebabkan gusi merah dan bengkak.

Ketika menyikat gigi, pastikan melakukan gerakan melingkar dengan lembut untuk memijat dan membersihkan gigi dan gusi. Sementara kebanyakan orang menggunakan gerakan maju mundur, gerakan ini bisa membuat iritasi dan merusak gusi, membuatnya sakit dan mungkin berdarah.

3. Malnutrisi (kekurangan gizi)

Gizi buruk juga termasuk penyebab gusi bengkak. Jaringan biasanya membengkak ketika muncul infeksi.

Guna mencegah infeksi, tubuh memiliki ‘benteng pertahanan’ seperti kulit, rambut, air liur, air mata, asam lambung, dan batuk. Agar infeksi terjadi, bakteri harus melewati benteng dahulu, seperti melalui lubang kulit. Ketika bakteri melewati benteng, peradangan (kemerahan dan pembengkakan) terjadi.

Jadi, tubuh harus memiliki nutrisi yang cukup untuk menjaga kulit agar tetap sehat dan normal.

Penyebab gusi bengkak lainnya termasuk cedera dan sirkulasi yang buruk. Cedera melebarkan pembuluh darah dan menyebabkan cairan menumpuk di area yang terluka. Sementara sirkulasi yang buruk menyebabkan pembengkakan gusi sehingga rentan terhadap infeksi.

Vitamin memiliki sifat antioksidan membantu menjaga sel-sel tetap sehat yang berinteraksi dengan radikal bebas, adalah molekul reaktif, mencegahnya menyerang DNA, lipid, dan protein. Antioksidan, dengan demikian, berperan penting dalam mencegah atau melawan infeksi.

Sumber nutrisi yang dibutuhkan gigi adalah vitamin C yang dapat menangkal bakteri di dalam mulut. Jika terjadi kekurangan vitamin C, kemungkinan akan mengembangkan pertumbuhan penyakit scurvy yang dapat memicu anemia dan kebengkakan pada gusi.

4. Kehamilan

Kehamilan membuat hormon pada tubuh wanita akan meningkat dari bisanya. Meningkatnya hormon ini menyebabkan aliran darah pada gusi juga meningkat, sehingga menyebabkan gusi mudah iritasi dan bengkak.

Pada masa kehamilan, kemampuan tubuh untuk melawan bakteri menjadi lemah, jadi sesering mungkin memeriksakan gigi untuk mengantisipasi pembengkakan gusi.

5. Gingvitis (radang gusi)

Gingivitis adalah kondisi yang sering menyebabkan gusi bengkak. Gingivitis merupakan penyakit gusi yang menyebabkan gusi iritasi dan bengkak. Kebanyakan orang tidak tahu mereka menderita radang gusi karena gejalanya bisa sangat ringan. Jika tidak segera diobati, gingivitis dapat menyebabkan kondisi yang jauh lebih serius atau disebut periodontitis dan kemungkinan mengalmi kerontokan gigi.

Kebersihan mulut yang buruk biasanya menjadi penyebab radang gusi, yang memungkinkan timbulnya plak di garis gusi dan gigi. Plak adalah lapisan yang terdiri dari bakteri dan sisa makanan yang menempel gigi seiring waktu. Plak pada gigi yang dibiarkan selama lebih dari beberapa hari akan menjadi karang gigi.

Sementar tartar adalah plak yang mengeras. Biasanya, plak ini sulit untuk dibersihkan menggunakan flossing dan menyikatnya. Kondisi ini harus ditangani oleh dokter gigi profesional. Jika dibiarkan, penumpukan tartar dapat menyebabkan radang gusi.

6. Pemulihan gigi yang salah

Margin atau tepi kasar di sepanjang gigi atau pemulihan gigi yang salah dapat menyebabkan plak menempel dan mengeras pada gigi, sehingga sulit dibersihkan. Daerah ini hampir selalu memiliki pembengkakan kronis di sekitarnya, bahkan pada beberapa orang yang sudah menjaga kebersihan mulut dengan baik.

Dental crown atau mahkota gigi (mahkota tiruan gigi) adalah contoh klasik bagaimana plak dapat menyebabkan peradangan di sekitar pemulihan gigi. Tidak menyikat sepanjang garis mahkota biasanya menyebabkan penumpukan bakteri, yang dengan cepat menyebabkan peradangan.

Gigi palsu yang tidak pas juga dapat menggesek jaringan dan menyebabkan luka atau bengkak.

7. Hormon

Sejumlah wanita menemukan bahwa perubahan kadar hormon juga menjadi penyebab gusi bengkak. Kondisi ini biasanya muncul selama kehamilan, menstruasi, pubertas, atau menopause. Kadar hormon juga dapat meningkatkan aliran darah ke gusi, yang mengakibatkan gusu terasa empuk dan mudah teriritasi.

Penelitian mengungkapkan bahwa kadar hormon wanita yang fluktuatif dapat mengubah kondisi di dalam mulut, yang memungkinkan pertumbuhan bakteri, masuknya darah, dan memperburuk masalah kesehatan, seperti kematian janin, kelahiran prematur, dan pengeroposan tulang.

Para peneliti meninjau 61 artikel yang berisi hampir 100 studi untuk menentukan apakah hormon terkait dengan penyakit gusi dan masalah kesehatan wanita tertentu, seperti tulang keropos, persalinan prematur, dan efek samping terapi penggantian hormon (HRT).

8. Tooth misalignment (gigi tidak sejajar)

Gigi yang bengkok dan penuh sesak kemungkinan besar mengalami pembengkakan di sekitarnya. Ini karena gigi yang bengkok lebih sulit dibersihkan dan biasanya memiliki area yang sulit dijangkau –memungkinkan penumpukan bakteri dalam mulut.

Kondisi gigi yang tidak sejajar biasanya tidak dapat berfungsi dengan benar.

Bergantung pada jenis misalignment, gejala-gejala kelainan tersebut mungkin ringan hingga parah. Gejala misalignment biasanya meliputi:

  • Susunan gigi yang tidak benar
  • Perubahan penampilan wajah
  • Tidak sengaja sering menggigit pipi atau lidah bagian dalam
  • Tidak nyaman saat mengunyah atau menggigit
  • Masalah bicara, termasuk mangakibatkan cadel
  • Bernapas melalui mulut daripada hidung

9. Obat-obatan

Jika Anda menjaga kebersihan mulut dengan baik, tetapi masih saja mengalami pembengkakan pada gusi. Cobalah perhatikan obat apa yang Anda gunakan, yang mungin menjadi penyebab gusi bengkak.

Beberapa obat seperti obat untuk tekanan darah tinggi (hipertensi) akan membuat pertumbuhan jaringan gusi berserat yang berlebihan terlihat seperti gusi bengkak dan tampak tidak sehat.

Kebanyakan orang yang mengalami kondisi tersebut akan merasakannya di gigi depan bawah, dan jaringan akan tampak berwarna merah muda terang, bukan warna merah yang spesifik untuk infeksi.

Perlu diingat, tidak seharusnya berhenti minum obat apa pun tanpa berkonsultasi dengan dokter, bahkan jika memiliki efek samping oral yang tidak diinginkan.

10. Abses

Abses adalah kantong nanah yang dapat berkembang di beberapa bagian tubuh, termasuk bagian dalam mulut. Sejumlah orang mengalami abses gigi yang memengaruhi area di sekitar gigi. Namun kemungkinan abses bisa terbentuk di gusi.

Abses periodontal atau abses gusi adalah kondisi menyakitkan yang dapat menyebabkan komplikasi serius. Jadi, penting untuk mengetahui tanda-tanda abses gusi dan segera obati jika mengalaminya.

Kerusakan gigi yang menjalar ke saraf gigi dapat menyebabkan pembengkakan di sekitar akar gigi, karena infeksi yang mengering dengan sendirinya.

Cara Mengobati Gusi Bengkak

Cara mengatasi gusi bengkak dapat dapat dilakukan dengan perawatan rumahan seperti brikut ini:

1. Menyikat gigi

Memilih sikat gigi yang tapat dan melakukan teknik menyikat gigi yang benar adalah salah satu faktor paling berpengaruh dalam mengatasi gusi yang bengkak dan gingivitis.

Pilihlah sikat gigi berbulu halus dan lembut untuk menghindari kerusakan jaringan gusi. Sikat gigi secara perlahan hingga bersih hingga kecelah gigi. Mengososk gigi yang berlebihan akan menyebabkan abrasi email atau resesi gusi.

Caranya, arahkan sikat sekitar 45 derajat ke arah garis gusi dan gosoklah disertai tekanan maju dan mundur hanya pada satu atau dua gigi sekaligus, untuk meluruhkan plak di celah gigi. Lakukan setidaknya 2 menit, dua kali setiap hari.

Menggunakan sikat gigi elektrik akan menghilangkan lebih banyak plak, dan menghindari radang gusi.

2. Flossing

Menggunakan flossing salah satu cara mengatasi gusi bengkak yang cukup efeksif. Membersihkan celah gigi dan di bawah garis-garis gusi hanya dapat dijangkau oleh flossing – baik dengan benang tradisional, benang pick atau jenis pembersih interproksimal lainnya.

Jika plak di celah gigi tidak segera dibersihkan, gusi bengkak akan sulit sembuh. Jadi, lanjutkan flossing sekali sehari, terlepas dari apakah ada perdarahan atau tidak.

3. Obat kumur

Minyak atsiri adalah bahan yang terkandung dalam beberapa jenis obat kumur yang dijual bebas dan juga banyak tersedia di apotek, supermarket, dan minimarket.

Banyak minyak yang digunakan untuk berkumur atau sikat gigi dapat mengurangi peradangan dan bakteri yang menyebabkan pembengkakan.

Cara mengobati gusi bengkak ini mungkin memang cukup mudah, Anda hanya cukup memblilas gigi dengan obat kumur setelah menyikat gigi. Lakukan secara rutin ya!

4. Diet

Meningkatkan asupan vitamin dan minum cukup air, makan sayuran segar, dan mengurangi asupan gula juga salah satu cara mengobati gusi bengkak, karena dapat membantu sistem kekebalan tubuh menjadi lebih efektif dalam mengatasi infeksi seperti gusi bengkak.

5. Menjaga kebersihan mulut dengan baik

Sikat gigi Anda dua kali sehari dan menggunakan flossing atau benang setiap hari. Kunjungi dokter gigi secara teratur dan minta tips untuk meningkatkan kebersihan gigi Anda.

Menggosok gigi yang bersemangat atau berlebihan dan menggunakan benang gigi bisa lebih berbahaya, yang menyebabkan gusi berdarah membengkak.

6. Hindari penyebab yang mengiritasi gusi

Gusi yang bengkak mungkin dapat diperburuk oleh obat kumur, alkohol, dan merokok. Mulai sekarang minumlah minuman bersuhu suam-suam kuku atau makanan dingin daripada yang sangat panas, karena bisa menyakitkan jika gusi bengkak yang tampak merah.

7. Rileks

Stres tidak hanya buruk bagi kesehatan secara keseluruhan, tetapi juga dapat menyebabkan gusi membengkak. Kondisi stres meningkatkan kadar hormon kortisol, yang menyebabkan peradangan di seluruh tubuh – bahkan pada gusi Anda.

Minum banyak air, terutama setelah makan tidak hanya akan membantu membersihkan sisa makanan serta bakteri di mulut, juga mengurangi risiko penumpukan plak di mulut.

9. Periksa gigi secara teratur

Ini adalah cara mengatasi gusi bengkak yang harus anda lakukan untuk menjaga kesehatan mulut Anda. Memeriksakan diri ke dokter gigi  secara teratur untuk memastikan semuanya dalam kondisi baik dan tidak memerlukan perawatan apa pun. Pastikan pula untuk mengunjungi dokter gigi jika masalah gusi menyebabkan terlalu sering merasakan sakit atau nyeri yang bertahan lama.

Dokter gigi  tidak hanya dapat mengetahui apa yang menyebabkan gusi bengkak, ia juga dapat membantu menyembuhkan gusi lebih cepat.

10. Teknologi cahaya biru

Cara mengobati gusi bengkak ini terbukti secara ilmiah dapat membunuh bakteri mulut berbahaya yang menyebabkan radang gusi, plak, bau mulut, dan kantong gusi.

Seperti dilansir dentistrytoday.com, sebuah perusahaan teknologi kesehatan mulut yang berbasis di Forsyth Institute, telah mengembangkan dan merancang perangkat cahaya intraoral fungsional yang telah terbukti mengurangi bakteri mulut yang dapat menyebabkan penyakit gusi, bau mulut dan terkait dengan kardiovaskular. Bahkan stroke, kelahiran prematur, dan berat badan lahir rendah.

Beberapa perawatan mulut antibakteri konvensional seperti obat kumur mengganggu ekologi mulut dengan membunuh semua bakteri, termasuk bakteri baik.

Penggunaannya sangat mudah, bagian runcing dari Photomedics BlueLight dimasukan ke dalam mulut sambil menggigit saklar untuk mengaktifkan, kemudian cahaya biru akan menyebar ke seluruh gigi dengan panjang gelombang dan intensitas yang tepat untuk membunuh hanya bakteri berbahaya yang menyebabkan penyakit. Sementara bakteri baik tetap dapat berkembang dan menyeimbangkan mikrobioma dalam mulut.

Alat ini ringan dan dirancang secara ergonomis, BlueLight dapat diaktifkan oleh saklar dengan gigitan. Penggunaan yang disarankan dua kali sehari hanya dalam dua menit. BlueLight juga secara bersamaan dapat meningkatkan estetika ateu keindahan gigi sekaligus mengurangi bakteri penyebab penyakit.

Canggih bukan? Namun sayangnya alat ini belum dipasarkan di Indonesia.

Sumber:

  • Gum Problem Basics: Sore, Swollen, and Bleeding Gums (https://www.webmd.com/oral-health/guide/gum-problem-basics-sore-swollen-and-bleeding-gums#1, diakses 2 Agustus 2019).
  • Swollen Gums: Possible Causes and Treatments (https://www.healthline.com/health/gums-swollen#causes, diakses 2 Agustus 2019).
  • Swollen Gums Causes, Symptoms and Treatment (http://oralucent.com/swollen-gums-causes-symptoms-treatment, diakses 2 Agustus 2019).
  • Tooth abscess (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/tooth-abscess/symptoms-causes/syc-20350901, diakses 2 Agustus 2019).
  • Gingivitis (https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/gingivitis/symptoms-causes/syc-20354453, diakses 2 Agustus 2019).





Source link