10 Mitos Puadan dan Frekuensi Makan (Banyak Dipercaya)

By | July 25, 2019


DokterSehat.Com – Apa yang kita makan berkontribusi besar pada kondisi tubuh. Kalau kita makan terlalu banyak, kemungkinan besar akan mengalami beberapa masalah pada tubuh seperti kegemukan. Namun, kalau makan terkontrol dengan baik dan mengaplikasikan puasa seperti intermittent fasting, kemungkinan besar bisa mengontrol lemak di dalam tubuh.

Mitos tentang puasa dan frekuensi makan

Menghindari makan pagi dan langsung makan siang atau sore adalah konsep puasa intermittent. Sayangnya hal-hal terkait puasa dan frekuensi makan ini banyak yang salah di luaran sana. Bahkan, berbagai mitos masih dipercaya sebagai sesuatu yang nyata.

  1. Tidak sarapan memicu kegemukan

Salah satu jenis mitos yang paling banyak bermunculan di luaran sana dan dipercaya banyak orang adalah perihal tidak sarapan. Mereka yang tidak sarapan akan cenderung makan berlebihan dan akhirnya mengalami kegemukan. Namun, dari beberapa penelitian yang dilakukan, tidak ada perbedaan signifikan antara yang saran dan tidak.

Melakukan sarapan dahulu memang memberikan cukup banyak manfaat pada beberapa orang. Mereka bisa mendapatkan energi dan bisa melakukan aktivitasnya dengan baik. Namun, tidak semua orang mendapatkan manfaat itu, ada yang sarapan malah mengantuk. Sarapan atau tidak, sesuaikan dengan kondisi tubuh.

  1. Makan lebih sering meningkatkan metabolisme tubuh

Ada yang mengatakan kalau ingin meningkatkan metabolisme tubuh, seseorang harus makan dengan frekuensi yang cukup tinggi. Misal makan di atas 3 kali dalam sehari. Mitos ini menganggap kalau makan terlalu sering, metabolisme tidak akan turun dan Anda bisa mendapatkan efeknya dengan baik.

Sayangnya dari penelitian yang dilakukan, menaikkan atau mengurangi frekuensi makan tidak akan berpengaruh pada metabolisme. Bahkan, jumlah kalori yang dibakar tetap saja sama. Kalau seseorang ingin meningkatkan metabolisme di dalam tubuh cara terbaik yang bisa dilakukan adalah melakukan olahraga.

  1. Jarang makan membuat nafsu makan meningkat

Ada orang yang makan dengan jam yang tepat, misal pagi hari pukul 06.00, siang pukul 12.00, dan malam hari pada pukul 18.00. Selanjutnya ada juga yang makan hanya 1-2 kali saja dalam sehari dan jamnya tidak teratur. Nah, tipe yang kedua ini dianggap tidak sehat dan bisa meningkatkan nafsu makan.

Penelitian tentang frekuensi makan dan nafsu makan memang dilakukan. Hasilnya ada yang berpengaruh dan ada yang tidak. Jadi, secara umum, frekuensi makan tidak berpengaruh besar dengan nafsu makan. Semua tergantung dengan kondisi fisik seseorang. Komposisi tubuh setiap orang membuat mereka jadi mudah lapar atau tidak.

  1. Makan lebih sering menurunkan berat badan

Makan terlalu sering atau frekuensinya 6 kali dalam sehari dianggap mampu menurunkan berat badan. Namun, frekuensi makan ternyata tidak berpengaruh besar pada tubuh. Orang yang makan dengan frekuensi 3 atau 6 sama-sama memiliki berat badan yang stabil asalkan kalori yang masih tidak berlebihan.

Sebaliknya kalau Anda makan secara berlebihan dan frekuensinya naik, obesitas justru lebih bisa terjadi. Pasalnya tidak semua orang bisa makan dalam porsi kecil. Karena merasa tidak kenyang, bisa saja mereka langsung makan lagi atau porsinya terlalu banyak untuk enam kali makan.

  1. Otak butuh glukosa secara reguler

Tubuh bisa menghasilkan glukosa sendiri untuk mencukupi kebutuhan otak. Itulah kenapa kita tidak perlu sedikit-sedikit makan untuk memberikan glukosa dan otak bisa menjalankan fungsinya dengan maksimal.

  1. Puasa hanya membuat tubuh kelaparan

Lapar tentu saja terjadi. Namun, kalau dilakukan secara rutin, lapar tidak akan terasa lagi. Apalagi tubuh mengalami peningkatan metabolisme dan kita dapat energi dari lemak. Selama kalori yang masuk ke tubuh cukup dan kita tidak lapar mata, kemungkinan besar diet akan berjalan sukses.

  1. Tidak semua protein digunakan saat makan

Ada yang mengatakan kita harus mengonsumsi sekitar 30 gram protein setiap 2-3 jam sekali. Namun, hal ini tidak benar karena tubuh bisa mengolah protein yang masuk ke dalam tubuh sesuai dengan kebutuhan. Rekomendasi mendapatkan protein sebanyak 30 gram per 2-3 jam sekali tidak ada dukungan saisnya.

  1. Puasa bisa menurunkan massa otot

Puasa tidak akan menurunkan massa otot. Selama kita mencukupi kebutuhan kalori harian, tubuh tetap akan menjaganya. Bahkan, seseorang yang melakukan intermittent fasting bisa mengalami peningkatan massa otot.

  1. Diet intermittent fasting buruk untuk tubuh

Banyak yang mengatakan kalau diet intermittent fasting memiliki banyak efek samping pada tubuh. Padahal menurut beberapa penelitian, justru metode makan seperti ini bisa meningkatkan kesehatan tubuh seperti meningkatkan daya tahan tubuh secara umum dan kemungkinan menaikkan angka kemungkinan hidup.

Melakukan diet ini secara rutin bisa membuat tubuh jadi jarang mengalami kenaikan gula darah. Insulin jadi sensitif merespons glukosa yang muncul di dalam aliran darah. Selanjutnya diet juga menurunkan oksida stres, inflamasi, dan gangguan pada jantung. Puasa dengan durasi tertentu juga meningkatkan kesehatan otak.

  1. Puasa membuat kita makan terlalu banyak

Puasa jenis apa pun baik itu untuk tujuan ibadah atau untuk diet justru membuat kita mudah mengalami defisit kalori. Apalagi kalau intermittent fasting dilakukan selama 24 jam. Kemungkinan terjadi surplus kalori rendah atau sekitar 500 kalori saja. Jumlah ini lebih rendah dari puasa makan yang hilang 2.400 kalori.

Sebenarnya surplus atau tidaknya kalori yang masuk ke dalam tubuh tergantung dengan seberapa kuat Anda mengendalikan diri. Kalau saat makan semua sudah disiapkan dan masak sendiri, kemungkinan terjadi surplus kalori akan sangat rendah. Kalau makan di luar dan kontrol dilepaskan bisa saja Anda makan terlalu banyak.

Inilah beberapa mitos tentang puasa dan frekuensi makan yang masih dipercaya oleh banyak orang. Mari pahami beberapa hal di atas agar kita tidak salah paham dan membuat tubuh mendapatkan efek samping yang besar. Nah, kira-kira dari beberapa mitos tentang puasa di atas, mana saja yang pernah Anda alami yakini sebelumnya.





Source link